
Saat sore hari tiba, Dokter pun kembali masuk ke dalam ruang perawatan Zeevanea. Dokter mengatakan masa observasi Zeevanea telah usai dan Zeevanea pun sudah diperkenankan pulang karena kondisinya sudah membaik. Evan, Rayne, dan yang lainnya pun langsung bersiap kemudian dengan sigap membawa Zeevanea kembali pulang ke Everic.
Trap... Trap... Trap...
Bruuum... Whuuussszzzhhh...
Setelah sampai di Everic, Evan dan lainnya langsung mengantarkan Zeevanea ke kamarnya. Tak lupa salam hormat dari seluruh Pegawai yang ada disana turut menyambut kedatangan keluarga Evan. Nicholas pun masih setia mengikuti mereka meski Zeevanea bersikap acuh kepadanya. Tak masalah pikir Nicholas, karena disana juga ada Stevano dan Nala yang juga dikenalnya.
Ceklek...
Trap... Trap... Trap...
" Istirahat dulu, Sayang... " ucap Rayne sambil mengantarkan Zeevanea ke ranjangnya bersama Maura, Zeevanea pun menganggukkan kepalanya, setelahnya Rayne dan Maura pun langsung keluar untuk bergabung dengan yang lainnya.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
" Cari makan, Steve... Daddy laper. " ucap Evan saat Rayne dan Maira sampai di ruang tamu yang ada di kamar Zeevanea.
" Makan di resto bawah aja gimana, Dadd? Sekalian ngopi... " tanya balik Stevano sekalian memberi saran.
" Boleh, deh... Ayo. " jawab Evan dan langsung berdiri dari duduknya.
" Kamu sama Maura temenin Zee aja, nanti biar orang Resto yang anterin makanan kalian. " ucap Evan pada Rayne, Rayne pun mengangguk, Evan pun beranjak keluar kembali dari kamar Zeevanea bersama Stevano, Nala, dan Nicholas tak lupa Evan mengecup singkat bibir Istrinya.
Trap... Trap... Trap...
" Coba telepon Ray, Kak... " ucap Evan pada Stevano, Stevano mengernyit bingung kenapa Daddynya tidak menghubungi Raynevandra sendiri.
" Daddy udah telponin berkali - kali dari tadi nggak ada diangkat sama sekali sama si Ray. " jelas Evan yang paham akan kernyitan di kening Stevano, Stevano pun langsung menghubungi Raynevandra sembari berbincang dengan Evan juga dengan Nicholas dan Nala.
" Kamu kok tiba - tiba nyusul ke Bali, Sayang? " tanya Rayne pada Maura, wajah Maura langsung berubah sendu kala Rayne mempertanyakan kedatangannya di Bali.
" Papa, Momm... " lirih Maura dengan mata berkaca - kaca.
__ADS_1
" Teo kenapa? " tanya Rayne penasaran dan langsung bertanya cepat.
" Papa ketahuan selingkuh di belakang Mama, dan Mama langsung mengatakan akan menggugat cerai Papa secepatnya. " jelas Maura pelan dengan segenap kehancuran yang dirasanya.
" Aku sampai minta temenin Kakak Steve untuk nyusulin Daddy kesini karena maksudnya aku mau minta tolong sama Daddy buat ngomong sama Papa Mama biar nggak sampai cerai. Aku nggak mau Papa Mama cerai. Aku nggak mau jadi anak broken home. " lanjutnya menjelaskan kepada Rayne, Rayne pun terdiam dan berfikir, mengingat beberapa waktu lalu ketika mereka berkumpul bersama setelah acara arisan Sosialita.
" Mamamu memang keras, Sayang... Tapi Mamamu juga tegas. Mamamu bahkan rela meninggalkan gelar Kedokternya demi menuruti keinginan Papamu yang menginginkan Mamamu untuk menjadi Ibu Rumah Tangga biasa. " lirih Rayne sambil menggenggam lembut tangan Maura, Maura mengangguk pelan sembari bersitatap dengan Rayne dengan pandangan mata yang sama - sama terlihat berkaca - kaca.
" Nanti biar Mommy sama Daddy coba ngomong sama Papa Mamamu. " lanjutnya, Maura pun mengangguk kelu dan keduanya langsung berbagi pelukan hangatnya.
" Kemana sih ini anak sampai jam segini belum pulang juga? " tanya Evan geram dengan Raynevandra yang tak menjawab juga telepon dari Stevano, hingga akhirnya Evan menghubungi Devandroe dan mempertanyakan keberadaan Raynevandra kepada Devandroe dan Devandroe mengatakan jika Raynevandra belum pulang.
" Palingan juga basket, Dadd... Kan biasa kalau dia sampai lupa waktu kalau udah pegang bal basket. " sahut Nala logis seperti kebiasaan Raynevandra biasanya.
" Iya juga, sih... " jawab Stevano, Evan pun diam tapi tetap berfikir tentang Raynevandra.
Sementara makan malam untuk Rayne dan Maura juga Zeevanea sudah diantarkan oleh Pelayan khusus ke kamar Zeevanea. Kini Evan dan anak - anak Lelaki itu pun mulai menyantap makan malam mereka di Restoran yang ada di Everic Hotel.
" Lo berdua rencana mau malem tahun baruan dimana? " tanya Nicholas pada Stevano juga Nala yang ada disana, kebetulan sebentar lagi memang waktunya pergantian tahun.
" Belum tau Gue. " jawab Nala cepat.
" Bisa, Steve... Daddy bisa kosongin jadwal, kebetulan Daddy senggang. " jawab Evan sambil menikmati rokoknya.
" Coba tanya Papi juga bisa apa enggak ikut kesana. Kalau Papi sibuk ya nggak usah. " lanjut Evan, Stevano pun mengangguk.
" Daddy kok nggak ngomong kalau mau ke Jepang? " sela Nala bertanya dengan nada sewot.
" Telingamu sehat kan, Bang? " ucap Evan yang malah balik bertanya pada Nala.
" Sehat, lah! Nala nggak budeg makanya Nala denger dan Nala langsung tanya! " jawab Nala yang masih nyolot.
" Bisa denger kan kalau Daddy juga baru ngomong kalau mau ke Jepang? " lanjut Evan bertanya dengan wajah menjengkelkannya, Nala pun semakin memasang wajah kesalnya dan menatap sengit pada Evan, Stevano dan Nicholas nampak menahan tawanya sembari menatap Nala yang sewot pada Evan.
" Om Evan asli Jepang? " tanya Nicholas ingin tau setelah sekilas mendengar pembicaraan mereka disana.
__ADS_1
" Opanya mereka yang asli Jepang. Kalau saya udah campuran Jepang Jakarta dan kelahiran Jakarta juga. Papinya Nala yang kelahiran Jepang. " jawab Evan, Nicholas pun yang langsung mengangguk.
" Kalau Tante Rayne, Om? " lanjut Nicholas kembali bertanya.
" Jogja Jakarta tapi sejak kecil di Jakarta. " jawab Evan, kembali lagi Nicholas mengangguk - anggukkan kepalanya.
" Grandma bukannya asli Jogja juga, Nic? " tanya Nala pada Nicholas, Evan langsung menatap Stevano.
" Grandpa yang asli Jogja... " jawab Nicholas, wajah Stevano pun nampak berfikir mengingat - ingat tentang itu karena Stevano juga pernah dekat dengan keluarga Nitinegara waktu ia masih kecil dulu.
" Lo sendiri rencana mau tahun baruan kemana? " tanya Stevano lagi pada Nicholas.
" Gue ada event balap kayanya... Papi sama Mami juga sibuk mau ngurusin kuliahnya Joana di Paris tahun ajaran depan ini. " jawabnya.
" Joana nggak mau kalau bukan Papi sama Mami yang ngurusin keperluannya dia langsung. Rewel banget dia. " lanjutnya menjelaskan, Stevano pun mengangguk.
" Zeevanea juga tinggal di Paris, dia kuliah di Paris... Barangkali mau sharing soal kampus di Paris sama Zee. Tapi Zee ambil jurusan Fashion Designer disana. " ucap Stevano.
" Nanti biar Gue bilang sama Joana, sama Papi Mami juga. " jawab Nicholas.
" Soalnya Papi itu sebenernya kaya nggak setuju gitu kalau Joana kuliah di Paris. " lanjut Nicholas dengan menjeda sejenak kalimatnya.
" Papi kaya anti gitu sama Paris. Berkali - kali Mami ngajakin liburan ke Paris aja Papi nggak pernah mau dan ujung - ujungnya Mami pasti nangis kalau ribut sama Papi kalau ngomongin soal Paris. " lanjutnya menjelaskan, wajah Evan semakin terlihat pias tak bisa diterka.
" Daddy juga nih anti Paris! " celetuk Nala ikutan nimbrung, Evan yang semula menatap Stevano langsung berpindah memelototi Nala.
" Idih melotot! " cibir Nala sambil menatap Evan.
" Daddy nih kalau pas jenguk Zeevanea, masih sehari disana udah pasti langsung ngajakin pulang. " lanjutnya berucap tanpa memperdulikan ekspresi Evan.
" Papi sama Daddy sama - sama punya kenangan pahit di Paris. " ucap Stevano sendu sembari menatap Evan yang masih menatap tajam kepada Nala.
" Ya Lo tau lah gimana ceritanya Mommy, Daddy, sama Papi dulu... Dan itu kejadiannya di Paris. " lanjut Stevano dengan terus menatap Daddynya.
__ADS_1
" Gue nggak nyangka kalau ternyata Daddy sama Papi jadi samaan anti Paris. " tukasnya.
" Kota indah yang romantis dan sangat manis itu sepertinya kota paling pahit untuk Daddy dan Papi. " imbuhnya.