
Trap... Trap... Trap...
Sarah berlari kembali ke dalam untuk menghampiri Devandroe yang tetap berada di dalam ruang keluarga villa ini. Setelah acara barbequean tadi mereka semua kembali ke dalam kecuali Raynevandra dan Aĺexandra yang masih memilih duduk di halaman belakang untuk menikmati pemandangan di sekitar villa, dan ketika akan beberes barang - barang mereka tapi kemudian listrik tiba - tiba padam, tapi Raynevandra dan Alexandra masih berdiam di tempatnya. Jenset yang ada pun tak bisa digunakan karena rusak dan untuk lilin mereka sudah kebingungan tak bisa mencarinya karena sudah gelap. Sehingga mereka yang akan kembali ke Jakarta masih tetap menunggu di villa milik keluarga Aaron ini hingga listrik kembali menyala. Lampu senter dari ponsel mereka masing - masing pun perlahan kehabisan dayanya. Jadi mau tak mau mereka semua pun harus menunggu adanya penerangan untuk membereskan barang - barang bawaan mereka.
" Devan... Aku mau ngomong sama kamu. " bisik Sarah yang sudah kembali duduk di samping Devandroe yang duduk berdiam di sofa ruang keluarga.
" Mau ngomong apa? Ngomong aja. " jawab Devandroe.
" So...al... " ucapan Sarah terbata seolah kelu untuk berucap.
" Ngomong aja, Sar... " potong Devandroe tenang.
" Mau ngomongin apa? " lanjutnya bertanya karena Sarah tak kunjung berucap.
" Soal... Le...xa... " ucapnya pelan dan kembali terbata, kening Devandroe mengernyit seketika meski lampu padam dan Sarah tak bisa melihat ekspresi wajah Devandroe.
" Ale kenapa? " tanya Devandroe yang masih bernada tenang.
" Lexa... " jawab Sarah kembali kelu, tatapan Devandroe menatap tegas dalam kegelapan ke arah wajah Sarah.
" Kenapa? " tanyanya tegas.
" Lupain Lexa... Dia nggak sepolos yang Lo kira. " ucap Sarah ambigu, kembali Devandroe mengernyitkan keningnya karena ucapan sarkas yang Sarah lontarkan.
" Gue tau Lo suka sama Lexa, tapi Lexa nggak pantes lagi buat Lo. " tegasnya pelan sebelum Devandroe sempat menjawab, meski sedikit takut untuk mengungkapkan apa yang baru saja dilihatnya tapi Sarah juga tak tega membiarkan Devandroe semakin menaruh hati lebih dalam lagi kepada Alexandra meski kini mereka tau jika sudah ada Raynevandra di sisi Alexandra.
" Jangan berbelit - belit. " tegas Devandroe datar.
" Tadi pas Gue ke belakang, Gue nggak sengaja ngelihat Lexa... " ucapan Sarah kembali menggantung, kembali lagi Devandroe menatap tegas pada Sarah.
" Lo lihat Ale ngapain? " tanya tegas Devandroe.
" Lagi... " ucap Sandra yang masih bingung juga.
" Lagi apa? " cecar Devandroe tegas dan nadanya sedikit naik karena Sarah terlalu berbelit menurutnya.
__ADS_1
" Lagi making sama Raynevandra di gazebo belakang. " jelasnya capat dengan dada yang berdegub kencang dan naik turun tak beraturan, nafasnya ngos - ngosan, ia berucap sambil memejamkan matanya saking takutnya.
Devandroe langsung berdiri dari duduknya dan langsung berjalan ke teras belakang villa ini. Meski gelap tanpa penerangan tapi ia terus bergerak ceoat. Bahkan kakinya seringkali tak sengaja menabrak meja atau apa pun yang memang tak terlihat karena gelap. Sarah pun langsung menyusul Devandroe.
Trap... Trap... Trap...
" Ray! " pekik Devandroe berteriak panik seketika saat ia sampai di teras belakang, dan menatap gazebo yang disebutkan oleh Sarah itu tak berpenghuni, di luar memang sedikit lebih terang meski memang gelap.
" Woy! " teriak Raynevandra dari arah yang lain, ia yang semula sedang berdiri memeluk Akexandra dari belakang langsung menoleh ke arah sumber suara Devandroe.
" Apaan? Gue disini. " tanya balik Raynevandra dengan santainya, Alexandra ikut menoleh ke belakang meski keduanya masih dalam posisi berpelukan mesra, Devandroe pun mendekat diikuti Sarah di belakangnya.
Trap... Trap... Trap...
" Kenapa nggak masuk? Disini dingin... " ucap Devandroe dengan nada setenang mungkin.
" Gue lagi liat lampu - lampu yang indah itu... " ucap Raynevandra sembari menerawang menatap kembali hamparan gemerlip kecil lampu - lampu yang menghiasi di ujung jauh yang tak terkena pemadaman seperti di tempat ini.
" Masuk, yuk... Disini dingin. " ucap Devandroe lagi karena udara di luar memang sangat dingin.
" Lo masuk aja... Di dalem juga sama dingin, bahkan di dalem pasti tambah gelap. " jawab Raynevandra santai.
" Jangan macem - macem! " tegas Devandroe yang memang sedikit banyak sudah terpancing oleh perkataan Sarah sebelumnya.
" Lo suka sama Alexa, kan? " tanya Raynevandra dengan sinis dan langsung melepaskan pelukan mesranya kepada Alexandra untuk berpindah menatap Devandroe, Devandroe langsung mendiam seketika setelah dibungkam pertanyaan menohok yang dilontarkan oleh kembarannya itu.
" Lo diem berarti iya! " tegas Raynevandra sinis setelah mendiam beberapa saat menunggu jawaban Devandroe dan Devandroe hanya diam tak berucap sepatah kata pun, hanya saling bersitatap dalam diam, Alexandra dan Sarah nampak saling memandang sepasang saudara kembar yang tengah berseteru ini dengan perasaan yang tak karuan.
" Lo nggak inget apa yang Daddy bilang tadi?! " tegas Devandroe mengalihkan kegugupannya meski wajahnya tetap terlihat biasa saja, anak - anak Evan memang kebanyakan seperti Evan yang pandai menampilkan wajah tenangnya meski sebenarnya mereka sedang tidak baik - baik saja.
" Gue nggak budeg! " tegas Raynevandra, Devandroe pun langsung beranjak masuk kembali setelah mendengar jawaban telak dari Raynevandra, Sarah pun langsung mengikuti Devandroe.
Trap... Trap... Trap...
" Kamu kenal Andru sudah lama? " tanya Raynevandra lagi mengulang pertanyaan yang tadi sudah dilontarkan kepada Alexandra.
__ADS_1
" Kan aku tadi udah bilang sama kamu, Baby... " jawab Alexandra jujur.
" Kamu nggak ngerasa kalau Andru ada hati sama kamu? " tanya Raynevandra lagi, Alexandra langsung menggeleng karena memang tak merasa dan Alexandra juga hanya menganggap Devandroe sebagai Sahabat saja.
" Aku, Sarah, sama Devan cuma Sahabatan... " ucap Alexandra jujur.
" Jujur, aku nggak ada perasaan lebih dari Sahabat ke Devan. " tegasnya.
" Malah sejak dari pertama kenal sama Devan aku ngelihat kalau Sarah yang ada hati sama Devan. " lanjutnya lagi, Raynevandra hanya diam tak bergeming.
" Kamu cinta sama aku? " pertanyaan konyol itu terlontar dari bibir Raynevandra setelah kepergian Devandroe.
" Banget... " jawab Alexandra tegas dan langsung menatap lekat pada manik mata tajam Raynevandra yang seolah memindai menelanjanginya sampai ke dalam jiwa dan raganya.
" I'm very love you, Raynevandra Gamyara Kalandra... " tegasnya.
" Bukan Devandroe Gamyara Kalandra yang aku cinta. " imbuhnya tak kalah tegas dengan tatapan mata Raynevandra yang sedari tadi yang seolah melucutinya hingga menembus tulang belulangnya.
Raynevandra tak bisa berkata - kata lagi. Raynevandra langsung memeluk kembali Alexandra dengan erat, mencurahkan seluruh bongkahan rasa sayang dan cinta yang besarnya tiada tara. Alexandra pun tenang... Ia juga sama... Sama - sama mencurahkan buncahan rasa sayang dan cintanya kepada Raynevandra yang begitu besarnya. Ia sangat bahagia berada di dekat Raynevandra... Raynevandra yang telah menyelamatkannya dan Raynevandra juga yang selalu mencintainya sepenuh hati, jiwa, dan raganya.
" Makasih, Baby... " ucap Raynevandra tulus.
" Makasih buat apa Babyku? " tanya balik Alexandra.
" Terima kasih telah mencintaiku. " jawab Raynevandra sambil tersenyum teduh, menatap dalam mata Alexandra yang juga tengah menatapnya dalam.
" Aku yang harusnya berterima kasih kepada penyelamatku ini... " lirih Alexandra menjawab sembari menangkup wajah Raynevandra dengan kedua tangannya, keduanya pun saling bersitatap sembari tersenyum teduh penuh ketulusan.
Cup...
" Aku mencintaimu Raynevandra Gamyara Kalandra... " ucap Alexandra tulus dari dalam hati kemudian mengecup singkat bibir Raynevandra.
Cup...
" Aku juga mencintaimu Alexandra Medina Razaf... " balas Raynevandra tak kalah tulus dan mengecup bibir Alexandra lembut.
__ADS_1
Tapi lama kelamaan kecupan itu pun perlahan berubah menjadi genjatan senjata di dalam mulut hingga membuat keduanya tersengal dan langsung menghentikannya karena pasokan oksigennya terhalang. Setelahnya, keduanya pun kembali berpelukan hangat dan singkat, barulah keduanya langsung masuk kembali ke dalam villa.
Trap... Trap... Trap...