
Trap... Trap... Trap...
Teo yang baru saja turun dari taxi online yang dipesannya langsung berlari menuju tempat Resepsionis di Everic Hotel. Sudah pasti tujuannya untuk mencari Evan.
" Dimana kamar Atasan kalian? " tanya Teo dengan deguban dada yang tak karuan.
" Pak Evan maksudnya, Pak? " tanya Resepsionis memastikan.
" Siapa lagi atasan kalian disini! " bentak Teo murka, Resepsionis yang terkejut itu sampai menjengit ke belakang.
" Maaf, Pak... Pak Eric juga baru saja tiba disini. Saya hanya memastikan Atasan saya yang mana yang sedang Bapak cari. " jawab Resepsionis menjelaskan.
" Gue cari Evan. " pekik Teo sambil meremas kasar rambutnya.
Trap... Trap... Trap...
" Ngapain Lo cari Gue? " tanya Evan sinis, ia baru saja masuk kembali ke dalam Hotel bersama Rayne dan yang anak - anak mereka lainnya yang baru saja pulang jalan - jalan, ada Sandra dan Maura juga disana.
Mata Teo nampak membola seketika melihat keberadaan Sandra dan Maura disana. Sandra tetap diam menampakkan keangkuhannya, sementara Maura nampak berkaca - kaca melihat Papanya berada disana, Stevano yang paham akan perasaan Maura langsung memeluknya.
" Stevano dan Maura tetap di tempat! " ucap Evan tegas dengan mata yang menyalak tajam menatap pada Teo tanpa berkedip.
" Yang lain langsung masuk ke kamar masing - masing. Alexandra ikut di kamar Kakak Zee. " lanjutnya tegas, anak - anak yang lain pun langsung beranjak meninggalkan mereka semua yang nampak tegang di lobby hotel tanpa bantahan.
Trap... Trap... Trap...
Cup...
" Night, Daddy... " ucap Raynevandra yang menyempatkan mengecup bibir Evan sebelum beranjak, Evan hanya mengangguk sembari mengusap kepala Raynevandra.
Cup...
" Night, Mommy... " ucap Raynevandra berpindah kepada Rayne dan mengecup bibirnya, Rayne pun hanya tersenyum sambil mengangguk, Raynevandra langsung bergegas menyusul yang lainnya.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" Maura... " lirih Teo memanggil Maura dengan merentangkan kedua tangannya juga dengan mata berkaca - kaca meminta Maura masuk ke dalam dekapannya.
Entah kenapa hatinya langsung trenyuh ketika melihat di depan mata kepalanya sendiri Putri tunggalnya berada dalam pelukan Stevano yang kelihatannya sangat nyaman untuk Maura. Setelah sekilas menatap Stevano, Maura pun berlari ke arah sang Papa dan masuk ke dalam pelukan Papa yang dirindukannya itu.
Trap... Trap... Trap...
Bughhh!!!
Maura pun menghempaskan tubuhnya, masuk ke dalam pelukan sang Papa. Suasana di lobby hotel ini pun nampak mengharu biru.
Hiks... Hiks... Hiks...
Air mata Maura langsung tumpah kala Teo semakin memeluknya erat dan mengecupi kepala Maura dengan perasaan yang tak karuan. Rayne pun ikut menitikkan air matanya, sementara Sea dan Vivian masih terlihat dengan mata yang berkaca - kaca, sementara Sandra yang tetap berusaha tegar dengan menampakkan keangkuhannya semakin merasa hancur hatinya setelah mendengar kabar jika Suami yang teramat sangat dicintainya baru saja ditemukan sedang menggoyang ranjang bersama Wanita ******.
Hiks... Hiks... Hiks...
" Aku kangen, Pa... Papa kenapa nggak pernah pulang? " tanya Maura dengan terisak, Teo tak menjawab, ia hanya mengecupi puncak kepala Putrinya.
" Apa aku dan Mama tidak lebih berarti dibandingkan dengan Selingkuhan Papa itu, iya? " hardik Maura bertanya tegas meski ia sedang terisak dalam pelukan hangat sang Papa, hati Teo seolah tercabik mendengar Putrinya mengucapkan hal ini.
" Tinggalin Perempuan itu, Pa... Mama pasti mau memaafkan Papa. Kembalikan keutuhan keluarga kecil kita, Pa... Aku nggak mau Papa sama Mama cerai. " mohon Maura dengan berderai air mata kesedihan.
" Maafin Papa, Sayang... " ucap Teo dengan bibir bergetar dan keduanya saling bersitatap dengan lekat.
Maura langsung menggeleng - gelengkan kepalanya, seolah merasa permintaan maaf sang Papa adalah sebuah pertanda jika sang Papa tak bisa lagi mempertahankan keluarga kecil mereka.
" Kenapa Papa minta maaf? " bentak Maura yang kecewa dengan Papanya.
" Tenang, Maura... " sela Eric ikut bersuara.
" Papa mau ninggalin aku sama Mama dan lebih memilih Selingkuhan Papa itu, iya? " teriak Maura kian kencang saking emosinya.
" Apa kurangnya Mama, Pa? Mama bahkan rela ninggalin cita - citanya saking cintanya Mama sama Papa! " bentak Maura.
" Sekarang kaya gini balesan Papa buat cinta Mama yang begitu besarnya buat Papa? Jawab Maura, Pa! " teriak Maura emosi juga frustasi.
__ADS_1
" Bawa Maura masuk, Steve... " suara Sandra akhirnya keluar juga setelah sekian lama tadi ia sengaja bungkam, tapi Maura terlihat masih enggan berpindah dari sana, Sandra tak tega melihat tangis sang Putri yang sangat kecewa dengan sosok Papanya.
Trap... Trap... Trap...
" Maura nggak boleh sedih... " ucap Sandra yang sudah berpindah mendekati Maura dan memeluknya, tapi wajahnya tetap terlihat tegar di depan mereka semua, ia tak mau menunjukkan kesedihannya di hadapan Teo.
" Meskipun nanti Mama dan Papa akhirnya berpisah, tapi Maura tetap anak Papa dan Mama. Papa dan Mama akan selalu ada untuk Maura. Mama dan Papa tetap Orang Tua Maura. " ucap Sandra lembut tanpa menghiraukan Teo sama sekali.
" Maafkan Mama yang gagal menjadi Istri terbaik untuk Papa... Maafkan Mama yang gagal memberikan keluarga yang utuh untuk Maura. Maafkan Mama juga yang terpaksa mengambil keputusan besar ini ya, Sayang... " lanjutnya tetap berbicara lembut kepada Maura.
" Tapi Mama janji sama Maura... Mama akan tetap menjadi Mama yang terbaik untuk Maura. " imbuhnya sambil mengurai pelukannya, Sandra tersenyum sendu sambil mengusap lembut air mata Putri kesayangannya, Maura tak menjawab, ia tetap menangis terisak.
" Semua ini pasti terasa berat untuk Maura... Tapi Mama yakin, anak Mama pasti kuat! " tukasnya dan tetap tersenyum kepada Maura.
Cup...
" Aku nggak mau Papa sama Mama pisah, Ma! Jangan lanjutkan gugatan cerai Mama untuk Papa! " mohon Maura kepada sang Mama.
" Papa sudah tidak menginginkan keberadaan Mama lagi, Sayang... Besarkan hatimu ya, Nak... Maafkan Mama yang tidak bisa menuruti keinginanmu untuk kali ini. " jawab Sandra tegas dan tetap berusaha tenang.
" Cukup, Sandra! " bentak Teo emosi setelah mendengar Sandra mengatakan jika Teo tak lagi menginginkannya, Sandra tersenyum getir sembari menatap mata tajam Teo yang kini mengarah kepadanya.
" Terima kasih atas semua cintamu kepadaku selama ini... " ucap Sandra dengan tatapan lembutnya, menatap Teo yang tengah menatapnya tajam.
" Maafkan semua kesalahan dan segala kekuranganku selama mendampingimu selama ini. Aku akan menunggu talak darimu. " lanjutnya dan kembali tersenyum kemudian mengecup kening Teo untuk terakhir kalinya kemudian beranjak pergi dengan membawa Maura.
Trap... Trap... Trap...
" Jangan bawa Putriku, Sandra! " pekik Teo emosi melihat Sandra memaksa Maura yang meronta menginginkan Papa Mamanya kembali bersama, Evan dan Richie juga langsung menggandeng Istri masing - masing dan beranjak pergi juga meninggalkan tempat, Evan juga tak memusingkan tujuan Teo yang tadinya datang mencarinya.
Trap... Trap... Trap...
" Sabar, O... " ucap Eric yang langsung menghadang Teo ketika Teo akan menyusul Sandra dengan Maura.
" Tenangin diri Lo. Sandra juga butuh ketenangan. " ucap Eric lagi, Teo hanya diam sembari tetap menatap Maura dan Sandra yang kian menjauh dari pandangan matanya.
__ADS_1
" Gue balik dulu, Kak. " ucap Teo frustasi setelah Sandra dan Maura tak lagi terlihat, Eric mengangguk dan mereka pun berpisah arah.
Trap... Trap... Trap...