Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 102 - Kabar Bahagia


__ADS_3

Teo yang baru saja sampai kembali ke Lux Resort tempatnya menginap langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Beberapa tatap mata Pegawai yang mengarah kepadanya malam ini sama sekali tak dihiraukannya setelah tadi ia kedapatan sedang bersitegang hebat dengan Manager Lux Resort perihal kedatangan Evan yang diizinkan menerobos masuk ke dalam kamarnya. Tapi kemurkaan Teo kepada Manager Lux Resort pun langsung mereda seiring dengan penjelasan yang diucapkan oleh Manager Lux Resort yang menerangkan bahwa Evan adalah pemilik Lux Resort selain Dygta. Jadi sudah jelas Evan bisa bebas mengakses semua hal yang berhubungan dengan Lux Resort tanpa adanya halangan termasuk menyerobot masuk tanpa izin ke dalam kamarnya.


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Papa darimana aja? " tanya si Perempuan yang bersama Teo di dalam kamar Lux Resort, wajah Teo nampak masih merah padam penuh dengan kekesalan dan amarah yang membuncah.


Lama benget perginya... lanjutnya sok merajuk dan berucap manja, ia langsung duduk di pangkuan Teo yang sedang duduk di sofa sambil menyulut rokoknya.


" Papa udah marahin pihak Resort ini? " lanjutnya bertanya karena Teo masih saja bungkam.


" Kita bisa laporin orang tadi ke pihak Resort karena seenaknya nyerobot masuk ke dalam kamar kita. Kita juga bisa laporin pihak Resort kalau memang pihak Resort mengizinkan orang lain mengganggu privasi tamunya. " lanjutnya yang terus berucap kesal, kini Teo menoleh dan menatapnya dengan senyum penuh misteri.


" Kenapa, Pa? " tanyanya pada Teo, Teo langsung menurunkannya dari pangkuannya dan beranjak pergi ke balkon kamar yang mereka tinggali, Perempuam Simpanan Teo ini pun langsung mengikuti Teo.


Trap... Trap... Trap...


" Papa kenapa? " tanyanya manja sambil memeluk Teo dari belakang, Teo tidak menjawab, Teo tetap diam sambil menatap indahnya langit malam yang beradu dengan luasnya hamparan lautan yang menjadi pemandangan di kamarnya.


Sekian lama mendiam, Teo yang sudah selesai merokok pun langsung membuang asal puntung rokoknya kemudian langsung membalikkan badannya dan langsung menyergap bibir si Wanita ****** dengan penuh nafsu membara. Keduanya berciuman liar sambil terus beranjak berpindah tempat menuju ke dalam kamar. Sembari keduanya beranjak, pakaian keduanya pun perlahan terlepas dari tubuh keduanya seiring dengan berpindahnya posisi mereka. Saat keduanya sudah sampai di atas sofa, pakaian keduanya pun sudah tertanggalkan dengan sempurna. Suara cecapan dan lenguhan merintih penuh kenikmatan pun perlahan menguar seiring dengan kegiatan panas yang mereka lakukan.


" Akh! Papa! " jerit si Wanita terkejut karena Teo langsung menyatukan diri dengan kasar tanpa pemanasan lagi.


" Akh!!! Hati - hati, Pa... " ucapnya mengingatkan Teo yang sudah menghentakkan pinggulnya dengan keras tanpa perasaan.


" Papa, sakit! Akh!!! Hati - hati, Pa. " ucapnya yang mulai merasa tak nyaman karena malam ini Teo bermain sangat kasar dan membahayakan, Teo seolah tuli, ia seolah tak mendengar ucapan kesakitan Wanitanya, bahkan kini wajah Sandra lah yang tengah membayangi pikirannya, tapi ia tetap melanjutkan permainannya dengan kasar.


" Akh! Akh! Akh! " Wanita itu terus saja menjerit nikmat juga kesakitan, tapi ia menahannya dan bahagia menerima genjatan dari Teo yang selalu bisa membuatnya terbang melayang.


Kegiatan itu pun terus berlangsung hingga berkali - kali. Teo menjejali Wanitanya dengan gencatan tanpa pemanasan tanpa henti. Seolah lelah tak berarti lagi, mungkin Teo juga hanya melakukannya untuk menyalurkan emosi.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


" Sandra, buka pintunya! " teriak Evan di depan kamar yang ditempati Sandra dan Maura.


" Sandra, buka! " teriak Evan kian kencang sambil mengetuk dengan semakin kencang juga, sebenarnya ia bisa saja langsung masuk tapi ia sungkan dengan Sandra dan Maura.


Ceklek...


" Apaan... Maura baru aja tidur. " ucap Sandra malas, ia baru saja menidurkan Maura yang sedari masuk kamar tadi terus menangis tanpa henti.


" Lihatin Rayne, gih. Muntah - muntah terus dari masuk kamar tadi. " jelas Evan cepat saking khawatirnya.


" Paling cuma masuk angin. Kasih minyak angin pasri beres. " jawab Sandra enteng menduga Rayne sedang masuk angin.


" Iya tapi lihatin dulu. " jawab Evan frustasi.


" Emang di Hotel mewah kaya gini nggak ada Dokter, Pak Presdir? " tanya Sandra serius juga mencibir Evan.


" Ada, Cowo. " tegas Evan.


Trap... Trap... Trap...


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


" Boleh saya pinjam stetoskopnya, Dok? " tanya Sandra pada Dokter yang umurnya kira - kira sepantaran dengan mereka itu.


" Silahkan, Bu... " jawab Pak Dokter tersebut dan langsung memberikannya pada Sandra.


" Maaf, Dok... Dokter harap maklum, Suaminya yang sakit emang cemburuan akut. " ucap Sandra pada Pak Dokter sambil melirik sekilas pada Evan yang menatapnya penuh permusuhan, Sandra pun langsung berpindah masuk ke dalam kamar Rayne dan Evan.


Trap... Trap... Trap...

__ADS_1


" Lo kenapa lagi Ibu Presdir? " tanya Sandra yang baru saja masuk ke dalam kamar, Eric dan Sea, Richie dan Vivian, juga anak - anak Evan serta Anya, Nala dan Alexandra sudah berada di dalam kamar mewah tersebut.


" Nggak tau, nih... Pusing banget. Terus mual, muntah - muntah terus dari masuk ke kamar tadi sampai lemes. Kayanya masuk angin. " jawab Rayne lemas.


" Mas Evan dibilang aku cuma masuk angin aja udah kaya orang kebakaran jenggot aja. " lanjutnya sambil menatap jengah pada Evan.


" Orang aku khawatir juga! " jawab Evan nyolot, Sandra hanya terkikik dan mulai memeriksa Rayne dengan tenang.


Keadaan di dalam kamar super mewah ini pun nampak hening sejenak saat menunggu Sandra yang tengah serius memeriksa keadaan Rayne. Setelah Sandra selesai memeriksa keadaan Rayne, Sandra langsung menatap malas pada Evan sembari mencebikkan bibirnya. Semua orang yang berada di dalam kamar nampak bingung juga penasaran dengan ekspresi Sandra. Sandra pun langsung berdiri menghampiri Evan yang wajahnya sangat terlihat khawatir.


Trap... Trap... Trap...


" Udah tua nabur benih terus aja! " cibir Sandra sambil menonyor kepala Evan, mata Evan melotot menatap Sandra karena tak terima Sandra menonyor kepalanya.


" Maksudnya, Ma? " tanya Stevano yang akhirnya angkat bicara.


" Kalian mau punya Adik lagi. " jawab Sandra enteng sambil tersenyum menatap Stevano dan kembali menonyor kepala Evan, tapi tidak kena karena Evan langsung bergerak cepat melompat ke arah ranjang yang tengah ditiduri oleh Rayne.


Trap... Trap... Trap...


Brak!!!


" Pelan - pelan, Daddy! " teriak Nala karena Evan mulai kumat pecicilannya.


" Kamu hamil, Sayang... " ucap Evan semangat, ranjang tersebut sampai berbunyi seperti digebrak saking kerasnya Evan melompat.


" Terima kasih, Sayang... Kamu hamil lagi... " ucap Evan yang langsung menciumi kening juga perut Rayne yang masih rata itu, semua orang yang berada di dalam kamar Rayne dan Evan nampak menggelengkan kepalanya melihat tingkah Evan, juga menghembuskan nafas lega mendengar kabar bahagia yang baru saja diucapkan oleh Sandra perihal Rayne yang kini kembali tengah barbadan dua.


" Tapi aman kan, San? Aku takut nanti kalau pas lahiran... " ucap Rayne bertanya serius pada Sandra, meski ia juga bahagia kini mengandung lagi darah daging Evan.


" Caesar aja kalau Lo takut lahiran normal. " jawab Sandra yang juga paham jika usia Rayne juga sudah banyak meski tampang Rayne masih seperti Kakak Zeevanea.


" Gue balik ke kamar, ya... " pamit Sandra dan langsung melangkah keluar tak lupa mengembalikan stetoskop milik Dokter yang berdinas di Hotel mewah milik Evan ini.

__ADS_1


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2