Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 152 - Ben Dan Evan


__ADS_3

" Ibu!!! " pekik Susi histeris kala melihat Rayne sudah tergeletak di lantai tanpa ada seorang pun yang mengetahui.


" Mbok! Ibu, Mbok!!! " teriak Susi kian kencang memanggil si Mbok yang juga Asusten Rumah Tangga disini.


" Om Bram, Om Bisma, tolong! " teriak Susi memanggil kedua Ajudan Evan yang ditugaskan berjaga untuk kalurganya.


Trap... Trap... Trap...


" Loh, loh... Ibu kenapa, Neng? " tanya si Mbok panik saat mengetahui Rayne tergeletak dipangku kepalanya oleh Susi.


" Neng juga nggak tau, Mbok... Neng ke depan mau lihat pintu nggak taunya Ibu udah geletakan di lantai. Tolong panggilkan Aden Andru di kamar. Cuma Aden Andru yang ada di rumah. " jawab Susi cepat.


" Kamu saja yang panggil biar cepat. Sini biar si Mbok yang pangku Ibu sekalian bawakan minyak kayu putih. " jawab si Mbok cepat, mereka berdua langsung berpindah posisi dan Susi pun langsung berlari menuju kamar Devandroe.


Trap... Trap... Trap...


" Ya Allah, Bu... Ibu kenapa, Bu? Lagi hamil muda juga ini, Ya Allah... " ucap Bibi berkomat - kamit sendiri penuh kekhawatiran.


" Bapak cepet pulang, Pak... Gimana ini Ibu, Pak? " lanjutnya berkomat - kamit.


Dor... Dor... Dor...


" Den Andru, buka pintunya! " teriak Susi panik sambil menggedor pintu kamar Devandroe.


" Den Andru, Ibu pingsan! " teriak Susi kian kencang memanggil Devandroe yang tak kunjung membukakan pintu.


" Aden! " teriak Susi kian memekin sambil celingukan bingung.


Ceklek...


" Ada apa, Mbak? " tanya Devandroe sambil mengucek matanya.


" Ibu pingsan, ayo cepat ke bawah. " ucap Susi cepat, Devandroe pun langsung melek seratus persen lalu menyingkirkan Susi dari hadapannya kemudian berlari menuju ke lantai bawah dan Susi pun langsung menyusul Devandroe.


" Telepon Daddy! " teriak Devandroe dengan tetap berlari.


Trap... Trap... Trap...


" Mommy! " teriak Devandroe histeris dan langsung mengangkat tubuh lemah Rayne, membawanya ke sofa ruang tengah dengan bantuan si Mbok.


Trap... Trap... Trap...


" Momm... Ini Devandroe, Momm... Bangun, Momm... Mommy kenapa, Momm? " ucap Devandroe sambil menepuk - nepuk pipi mulus Mommynya.


" Mommy bangun... Andru takut, Momm... Mommy kenapa? " lanjutnya dan tetap menepuk - nepuk pelan pipi Rayne, mengoleskan minyak kayu putih yanh disldorkan Susi ke tangannya dan menempelkan tangannya ke depan hidung Mommynya.


" Mommy... Bangun. " lanjutnya terus memanggil Rayne.


" Bapak nggak angkat telponnya, Den. " sela Susi melaporkan perintah Devandroe.


" Hubungi Kakak Steve sama Kakak Zee. Ray juga. " teriaknya panik dan tetap menepuk - nepuk pelan pipi Mommynya.

__ADS_1


" Panggilkan Uncle Kaka... " lanjutnya kebingungan harus meminta bantuan kepada siapa, rumah Raka memang bersebelahan dengan rumah Evan.


" Bawa ke Rumah Sakit aja, Den... Biar segera ditangani. " sela si Mbok ketakutan dan sedari tadi terus menggenggam tangan lemah Rayne.


" Suruh Uncle Bram siapkan mobil. Dan Uncle Bisma suruh panggil Uncle Kaka. " tegas Devandroe, Susi yang sedang berusaha menghubungi anak - anak Rayne serta Evan itu pun langsung berlari keluar mencari Bram dengan tetap berkutat menghubungi anak - anak Rayne serta Evan.


Trap... Trap... Trap...


" Om Bram, Om Bisma... Ibu pingsan, siapkan mobil. " ucap Susi pada Bram saat sudah sampai di depan kamar khusus penjaga di Paviliun depan rumah megah Rayne dan Evan.


" Bapak belum pulang? " tanya balik Bram dan langsung berdiri dari duduknya, diikuti Bisma yang juga bersama dengan Bram.


" Om Bisma tolong panggilkan Pak Raka. " lanjut Susi yang baru saja menggeleng kemudian keduanya langsung bergegas.


Trap... Trap... Trap...


Bruuummm... Whuuussszzzhhh...


" Itu Bapak pulang. " ucap Bisma, Bram dan Bisma pun berhenti sejenak saat melihat mobil Ben melaju masuk menuju paviliun belakang, tak jadi pula memanggil Raka, sementara Susi sudah berlari kembali masuk ke dalam, Bram dan Bisma pun langsung berlari mengejar mobil Ben.


Trap... Trap... Trap...


" Lo berdua apa - apan malah kejar - kerjaran? Ngejar Susi? " tanya Ben yang baru saja turun dari mobilnya bersamaan dengan Evan.


" Ibu pingsan, Pak Boss, Pak Ben. " ucap Bram pada Evan dan Ben, tanpa kata Evan langsung berlari masuk ke dalam Paviliun belakang rumahnya, Ben dan Bisma juga Bram pun langsung mengikuti Evan yang terlebih dahulu berlari ke dalam.


Trap... Trap... Trap...


" Sayang, hei... Aku pulang... Kamu kenapa? Buka matamu. " ucap Evan pelan dan mengambil alih Rayne dari pangkuan Devandroe, Evan panik tapi wajahnya tetap terlihat tenang.


" Waktu saya mau cek pintu saya lihat Ibu hdah pingsan di lantai, Pak. " jawab Susi takut.


" Sayang... Bangun. " lirih Evan kembali mencoba membangunkan Rayne.


" M...m...as... Ma...sh Ev...an... " lirih Rayne yang baru saja mengerjap saat Evan terus menepuk pipinya pelan.


" Iya, Sayang... Ini aku... Kamu kenapa, hmmm? " jawab Evan, orang - orang disana nampak lega karena Rayne sudah bangun dari pingsannya.


" Rr...ra...ray, Mm...as... " ucap Rayne terbata.


" Raynevandra kenapa? Bikin ulah apa lagi sama anakmu itu! " teriak Evan murka, langsung menduga jika Rayne pingsan karena Raynevandra, orang - orang disana sampai menjengit karena terkejut dengan teriakan Evan.


" Ra...y ngg..ak mau pu...lang... " lirih Rayne diiringi dengan tangis yang langsung menderas.


" Jangan hanya pikirkan Raynevandra! Pikirkan keadaanmu juga! " tegas Evan.


" Baw...a pul...ang Ra..y...ne...vandra, Mas... Ak...u mo...hon... " lirih Rayne dengan suaranya yang masih lemah dan terbata, meminta Eva membawa Raynevandra pulang.


" Biar saja dia jadi gelandangan di luar! " teriak Evan kian murka.


" Jangan teriak - teriak, Dadd... Kasihan Mommy. " sela Devandroe takut.

__ADS_1


" Jangan, Mas! Kasihani Ray, Mas... Ray juga Putra kita, Mas... Mau kamu bunuh sekalipun Raynevandra tetap Putra kita, Mas... Maafin Raynevandra... Raynevandra butuh kita... " ucap Rayne dengan menguatkan dirinya dam berpindah posisi bersimpuh menunduk pada kedua lutut Evan yang sedang duduk di sofa yang direbahinya.


" Maaf, aku emosi. Aku khawatir lihat kamu kaya gini. " ucap Evan dan langsung memeluk Rayne dan seolah enggan membahas Raynevandra.


" Empat sekawan ini Ben... " ucap Evan pada Ben, Ben yang semula diam hanya menatapnya, Ben dapat menangkap jika Raynevandra juga tengah bermasalah dengan Evan meski Ben sendiri juga tak paham dengan masaalah Raynevandra dan Evan.


" Lo jangan pulang dulu, Ben. Gue angkat Bini Gue ke kamar sebentar. " ucap Evan dan langsung menggendong Rayne ke kamar, Devandroe langsung membuntuti di belakang Evan.


Trap... Trap... Trap...


" Ada yang aku mau omongin sama Ben, kamu sama Andru dulu. " ucap Evan, Rayne mengangguk dan Evan pun langsung kembali keluar dari kamarnya.


" Telepon Ray, bilang Mommy pingsan gara - gara dia! " teriak Evan memerintah Devandroe sembari terus berjalan keluar dari kamar, Devandroe pun langsung melaksanakan tugasnya sembari menjaga Mommynya.


Trap... Trap... Trap...


" Maksud Lo apaan ngomong empat sekawan? " tanya Ben langsung saat Evan sudah duduk bersamanya di ruang tengah.


" Cewenya Raynevandra hamil. " jawab Evan dengan wajah sendunya, mata Bensley Harris ini nampak membelalak seketika.


" Lebih parah dari anak - anak Gue... " lirihnya juga dengan wajah yang sama sendunya seperti wajah Evan saat ini.


" Kalau aja nggak ada Rayne pasti udah Gue tembak kepalanya tuh anak! " ucap Evan penuh dengan emosi dan kekecewaan yang teramat mendalam.


" Hush! Anak Lo juga itu! Kesayangan Lo kalau Lo lupa! " pekik Ben sambil menonyor kepala Evan yang sembarangan berucap.


" Ya karena dia anak kesayangan Gue makanya mau Gue tembak kepalanya karena udah bikin malu keluarga apalagi sampai bikin Rayne khawatir kaya gini. Bikin Gue kesetanan aja tau nggak! " jawab Evan emosi.


" Jangan gila! Pikirin Cucu Lo kalau Bapaknya Lo tembak mati! " tegas Ben memperingatkan Evan yang emosi.


" Hancur hidup Gue, Ben... Mau ditaruh mana muka Gue, coba! " lirih Evan dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


" Lo sih enteng cuma Ray aja yang bikin ulah, nah Gue? Anak Gue empat, yang dua kembar itu bikin ulah aja barengan. " tanya balik Ben.


" Dua - duanya edan! " pekik Ben yang juga frustasi merasakan kelakuan Bradley dan Brylee.


" Seenggaknya Cewe anak - anak Lo nggak bunting, Bego! Lo juga nggak akan nanggung malu apalagi sampai reputasi hancur karena itu. " jawab Evan.


" Ya sama aja orang udah dijajah sama anak - anak Gue. Lo kira Gue juga nggak malu apa! Apalagi sama Jeffry. Jeffry malah ngelihat sendiri waktu tadi anak Gue ngejajah anaknya. Sama aja, hancur juga sudah reputasi kita sebagai Bapak keren kalau kaya gini ceritanya. " jawab Ben sewot.


" Terus sekarang Ray dimana? " tanya Ben sesaat setelah keduanya terdiam, Evan langsung menggeleng.


" Minggat dia. " jawab Evan.


" Pantesan Rayne sampai frustasi kaya gitu... " jawab Ben sendu.


" Tapi tetep sekolah, nggak? " tanya Ben lagi, Evan pun mengangguk.


" Ayah marah besar sama Gue... " ucap Evan.


" Ya udah mau diapain lagi, ya Lo terima aja kalau diamuk Om Rudi. Mungkin kita ini juga kurang pengawasan sama anak - anak kita saking sibuknya kerja. " jawab Ben pasrah tapi bukan berarti diam dan menyerah mendampingi anak - anaknya.

__ADS_1


" Buruan nikahin mereka, kasian Cewenya... Perutnya keburu gede nanti kalau Lo tunda - tunda gegara Lo emosi terus sama Ray. " ucap Ben lagi, Evan hanya diam, rasanya tak sanggup jika harus menikahkan Putranya yang masih berseragam SMA itu dengan waktu yang secepat ini.


" Gue tau Lo kecewa, Ray emang paling deket sama Lo. Jangan malah dihajar dan limpahin semua kesalahan sama Ray. Lo juga salah, Lo Bapaknya yang bertugas ngedidik Ray. Kalau sampai kaya gini kejadiannya bisa jadi ada yang salah sama cara Lo ngedidik Ray meskipun Ray juga salah. Terus dampingin Ray... Ray butuh Lo. " tegas Ben serius.


__ADS_2