Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 181 - Tak Bisa Tidur


__ADS_3

Sementara Nicholas yang memang harus segera terbang kembali ke Jepang untuk urusan pekerjaan balap mobil yang selama ini ditekuninya pun memang benar - benar bertolak dari Indonesia menuju ke Jepang. Meski hatinya terasa berat untuk meninggalkan Zeevanea dan tak bisa beralih Zeevanea yang ditinggalkan untuk sementara waktu di Indonesia tetapi Nicholas tetap berangkat untuk menunaikan pekerjaannya. Apalagi kini keduanya tengah berada dalam masalah besar, yaitu masalah penolakan Evan atas hubungan keduanya yang diberitahukan kepada Evan secara langsung. Dan itu semakin membuat Nicholas tak tega kala harus benar - benar meninggalkan Zeevanea sendirian di Jakarta.


Sementara seluruh anggota keluarga Nitinegara pun kini sudah nampak dikumpulkan oleh Orang Tua mereka. Sepasang Orang Tua berambut putih bernama Wiryawan Nitinegara itu kini tengah berada di ruang keluarga yang ada di kediaman utama keluarga Nitinegara beserta seluruh anggota keluarga lengkap. Untuk apa lagi mereka semua berkumpul kalau bukan untuk membahas perihal hubungan Nicholas dan Zeevanea.


" Papih nggak pernah menyangka kalau keluarga kita akan kembali lagi dihadapkan pada masalah besar yang bersangkutan dengan keluarga Kalandra... " ucap pelan penuh desah nafas yang berat diucapkan oleh Papih Wirya kepada mereka semua, Dygta dan Aga nampak saling pandang sekilas kemudian menghembuskan nafas kasar juga bersamaan.


" Besok aku akan coba temui Evan dan ngomong berdua sama Evan, Pih... Aku akan mengusahakan segala cara untuk Nicky, demi kebahagiaan Nicky. Meski Evan sekalipun yang harus aku hadapi. " ucap Dygta menjawab pelan, Papih Wirya nampak menatap dalam kepada sang Putra pertama yang dahulu pernah berseteru dengan Evan dan sampai sekarang pun Evan masih belum mau juga untuk mengibarkan bendera perdamaian.


" Ini semua berawal dari kesalahan aku dan Queen dulu, dan ini murni bukan kesalahan Nicky. Tak seharusnya Nicky juga ikut menanggung imbas dari semua ini. " lanjutnya menjelaskan.


" Aku setuju... Besok aku temani Kakak buat ketemu sama Evan. " sahut Aga ikut menimpali ucapan Dygta, beberapa dari mereka disana pun nampak mengangguk setuju meski beberapa lainnya juga hanya diam memperhatikan.


" Tidak usah, Ga... Kakak sendiri saja... Kakak butuh ngomong berdua sama Evan. " tolak Dygta, Kinan nampak menatap sendu kepada Suaminya.


" Aku cuma khawatir Evan berbuat kasar sama Kakak... " jelas Aga sendu, ia sudah membayangkan Kakaknya yang kalem berhadapan dengan Evan yang beringas.


" Kita semua sudah semakin dewasa, bahkan hampir tua... Kakak juga tau kalau Evan emang keras. Tapi ini adalah masalah pribadi Kakak... Biarkan Kakak menyelesaikan sendiri. " tegas Dygta, Aga pun hanya diam pasrah meskipun Aga juga merasa sangat mengkhawatirkan sang Kakak.


" Kalau Kakak butuh bantuan pasti Kakak akan cerita. " lanjutnya, Aga pun mengangguk lemah.


Berbeda dengan keluarga Nitinegara yang tengah berembug bersama di kediaman Nitinegara, di kediaman Evan pun nampak sudah sepi dari kerumunan penghuni rumah. Malam semakin larut dan semua penghuni rumah pun juga sudah berada di dalam kamar masing - masing. Hanya Evan saja yang belum kembali ke rumah setelah Ayah Rudi meninggalkannya di rumah susun lama yang dulu menjadi hunian Ayah Rudi bersama Bunda Sekar dan juga Rayne. Rayne dan Zeevanea pun belum juga tertidur meski hari sudah semakin malam. Jelas saja keduanya kesulitan untuk memejamkan mata barang sejenak mengingat masalah besar itu kini kembali menyinggahi keluarga mereka. Dan masalah ini pun juga berhubungan dengan Zeevanea, maka dari itu Zeevanea juga tak bisa tidur sama seperti Rayne meski keduanya berada di kamar yang berbeda tapi keduanya sama - sama sedang menangis meratapi masalah besar ini.


Ceklek...


Trap... Trap... Trap...


Tatapan mata Evan beradu sekilas dengan tatapan mata basah Rayne yang masih duduk bersandarkan sandaran tempat tidurnya. Tapi setelah melihat Evan pulang, Rayne pun langsung memerosotkan tubuhnya dan berbaring. Evan pun nampak mulai beranjak ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian. Setelah mengenakan piyama tidurnya, Evan pun langsung beranjak dan langsung berbaring di samping Rayne yang sudah terlihat berbaring miring membelakangi Evan. Evan hanya diam dan menarik selimut yang dikenakan oleh Rayne untuk masuk juga ke dalam selimut yang sama.


" Bobo... Udah malem. " lirih Evan sambil mengusap lembut lengan Rayne yang tengah membelakanginya, Rayne hanya diam sok pura - pura tidur, Evan tau Istrinya masih marah, Evan pun sebenarnya juga masih merasakan perasaan yang bercampur aduk tak karuan, tetapi Evan hanya diam tak langsung meluapkan amarahnya seperti tadi.


" Daddy udah pulang... Ayo bobo, ini udah malem. " ucap Evan lembut setelah merubah posisi tidur Rayne menjadi telentang dan berucap sembari mengusap dan mengecupi perut Rayne yang disingkap atasan piyama tidurnya untuk berbicara dengan janin mereka, setelah Evan selesai berucap Rayne pun kembali pada posisi miring membelakangi Evan, Evan pun tak mengusiknya, dan berbaring terlentang dengan berbantalkan kedua tangannya yang dilipat di atas kepala.


Kriiing... Kriiing... Kriiing...

__ADS_1


Zeevanea yang masih menangis lirih langsung bergerak mencari ponselnya yang baru saja berdering. Pada deringan ketiga kalinya Zeevanea pun menemukan ponsel pintarnya yang ternyata tergulung ke dalam selimut tebalnya. Dan Zeevanea pun langsung menjawab panggilan video tersebut dengan segera.


Zeevanea :


Kamu udah sampai?


tanya Zeevanea langsung kepada Nicholas yang kini tengah menghubunginya.


Nicholas :


Aku baru sampai...


Ini masih baru mau jalan keluar Bandara.


jelasnya pelan sembari terus menatap sendu kepada Zeevanea.


Kenapa belum tidur, hmm?


Disana udah jam satu malem.


Zeevanea :


Aku nggak bisa tidur...


jawabnya pelan juga sendu, mata Zeevanea yang terlihat basah bekas tangisan itu pun semakin membuat hati Nicholas teriris perih, Nicholas sangat sedih meninggalkan Zeevanea dalam keadaan seperti ini, tanpa disadari mata Nicholas pun juga ikut berkaca - kaca, keduanya sama - sama merasakan kesedihan yang sama terhadap penentangan Evan atas hubungan mereka meski mereka berdua sadar jauh - jauh hari akan penolakan yang akan diberikan oleh Evan terhadap hubungan asmara keduanya.


Nicholas :


Maafin aku yang terpaksa tinggalin kamu sendirian di saat kita dalam masalah besar seperti ini...


lirih Nicholas kian sendu, tangannya nampak terayun dan mengusap lembut bagian bawah mata Zeevanea yang tertampil di layar ponselnya, seolah Nicholas sedang menghapus air mata Zeevanea.


Aku cinta sama kamu, Zeevanea...

__ADS_1


Meski sekarang kita berjauhan, aku akan terus berjuang untuk kita.


Dengan jarak kita yang jauh ini, jangan pernah berpikir aku membiarkanmu berjuang seorang diri.


Bertahanlah di sampingku selalu meskipun banyak rintangan yang akan kita hadapi di depan.


Kita akan semakin kuat menghadapi segalanya jika kita tetap saling menggenggam.


lanjutnya berucap panjang lebar untuk terus berusaha menyelamatkan hubungannya dengan Zeevanea.


Zeevanea :


Hiks... Hiks... Hiks...


Aku juga cinta kamu, Nicky...


jawab Zeevanea dengan kembali terisak dan tak bisa lagi membendung tangisnya, Zeevanea memang sudah mulai mencintai Nicholas meski Zeevanea juga tetap merasa takut dengan Evan.


Nicholas :


Kamu bobo, ya...


Disana udah malem.


ucap Nicholas yang semakin merasa genangan air di pelupuk matanya semakin memenuhi kelopak matanya, sekuat tenaga Nicholas menahannya agar Zeevanea tidak semakin bersedih jikalau melihatnya ikut menangis, Zeevanea hanya diam dan tetap menangis.


Kamu nggak usah sedih lagi...


Aku nggak akan ninggalin kamu, dan aku akan selalu kasih kabar buat kamu.


Aku akan selalu dampingin kamu meski sekarang jarak memisahkan kita.


Karena cinta kita tidak akan pernah terpisahkan.

__ADS_1


lanjutnya, Zeevanea pun mengangguk pelan meski air matanya masih merembes.


__ADS_2