
Ckiiiiit!!!
" Bangsat!!!!! " teriak Raynevandra dari dalam mobilnya.
Brak!!!
Brak!!!
Trap... Trap... Trap...
" Maksud Lo apaan sih, hah?! " bentak Raynevandra pada Devandroe yang tiba - tiba menghadang laju mobil Raynevandra ketika keduanya sama - sama baru saja tiba di rumah dan baru saja akan masuk ke dalam parkiran basement yang berada di rumah mereka, keduanya langsung turun dari mobil ketika kedua mobil berseri kembar hanya berbeda warna tersebut sudah berhenti dengan sempurna.
" Lo salah paham, Ray! Kita harus bicara. " tegas Devandroe yang merasa sangat bersalah sekali kepada Raynevandra, dan Devandroe juga merasa tidak betah didiamkan terus - menerus oleh Raynevandra.
" Nggak ada lagi yang harus kita bicarakan. Semuanya sudah jelas. " jawab Raynevandra tegas tapi bernada sinis.
" Gue udah paham kalau Lo ada hati sama Alexandra. " tegas Raynevandra dengan tatapan tajam kepada Devandroe yang menatap mengiba kepadanya.
" Ini semua nggak seperti yang Lo kira, Ray! Gue bisa jelasin sama Lo! " sanggah Devandroe, meski tatapannya sendu tapi ucapannya begitu tegas.
" Gue Sahabatan sama Sarah sama Ale. " tegas Devandroe tulus meski sebenarnya ia masih berusaha menyangkal jika hatinya itu saat ini tengah bimbang apakah hatinya benar - benar menaut untuk Alexandra atau tidak.
" Apa Lo bilang barusan? Ale? " tanya tegas juga sinis Raynevandra karena nama Ale itu seolah menjadi nama panggilan kesayangan dari Devandroe untuk Kekasihnya.
__ADS_1
" Ya Gue emang panggil Alexandra Ale dari dulu, dari kita pertama ketemu. " jawab Devandroe jujur.
" Mending sekarang Lo minggirin mobil Lo! Gue nggak mau ribut sama Saudara sendiri apa lagi gara - gara Cewe. " tegas Raynevandra dengan tatapan tajamnya.
" Oke Gue bakalan minggir... Tapi Gue nggak mau Lo diemin Gue lagi hanya karena kesalah pahaman ini. " tegas Devandroe tak kalah tegas dengan Raynevandra.
" Serah apa kata Lo! " sentak Raynevandra acuh kemudian melenggang pergi tanpa memperdulikan Devandroe apa lagi mobilnya yang masih terbengkalai belum terparkir di tempatnya.
Trap... Trap... Trap...
Setelah memarkirkan mobilnya sendiri, Devandroe pun sekalian memarkirkan juga mobil Raynevandra di sebelah mobilnya seperti barisan parkir mobil mereka setiap harinya. Ketika ia masih berada di dalam mobil Raynevandra, matanya nampak tercengang tatkala melihat hiasan kalung yang tergantung pada spion di dalam mobil Raynevandra. Pigura kecil yang tertaut pada sebuah kalung panjang dengan liontin bergambar foto kebersamaan Raynevandra dan Alexandra nampak menggantung indah di dalamnya. Setelah beberapa saat terdiam di dalam mobil milik Raynevandra, Devandroe pun keluar dan beranjak masuk ke dalam rumah.
Trap... Trap... Trap...
Trap... Trap... Trap...
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Devandroe pun langsung keluar dari kamarnya sembari membawa beberapa buku pelajarannya. Seperti kebiasaan biasanya, anak - anak Evan dan Rayne memang lebih senang belajar dan mengerjakan tugas sekolah di luar kamar sembari bercanda atau bercengkrama dengan anggota keluarga yang lainnya.
Langkahnya tertuju pada ruang keluarga dimana ia setiap hari mengerjakan tugas sekolahnya disana dengan ditemani anggota keluarganya. Tapi berhubung saat ini Mommy dan Daddynya juga kedua Kakak kembarnya masih berada di Bali, suasana di rumah megah ini pun jadi terasa sepi karena hanya tersisa Devandroe dan Raynevandra saja di rumah. Meski kini Raynevandra juga sudah tidur tengkurap di atas karpet tebal yang ada di ruang keluarga sembari mengerjakan tugas sekolahnya juga, tapi tetap saja sunyi. Keduanya masih mendiam bergelut dengan kesunyian...
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
" PR Lo apaan, Ray? " tanya Devandroe kala ia sudah berada di ruang keluarga bersama Raynevandra yang sudah lebih dulu berada disana.
" Kimia. " jawab Raynevandra yang memang mengambil jurusan IPA.
" Bantuin tugas Bahasa Jepang Gue, dong. " ucap Devandroe yang kebetulan mengambil jurusan Bahasa tapi Raynevandra juga fasih berbahasa asing karena Raynevandra juga semangat mengikuti les bahasa asing di luar jam sekolah mengingat keluarganya yang sering bolak balik membawanya ke Luar Negeri jadi Raynevandra merasa belajar Bahasa Asing itu diperlukan untuknya.
" Suruh translate-in sama Daddy sana. PR Gue banyak. " tolak Raynevandra jujur.
" Lo aja lah yang bantuin. Ada Lo juga disini, nggak usah tanya Daddy. Kelamaan. " tolaknya yang juga kekeh meminta bantuan kepada Raynevandra.
" Gue telponin Oma, kerjain sama Oma. " tolak Raynevandra karena memang PR nya sendiri sangat banyak.
" Lo masih marah sama Gue? " tanya Devandroe sendu.
" Nih lihat PR Gue seabrek gini... " kesal Raynevandra dan langsung melemparkan buku paketnya yabg dibiarkan terbuka itu ke hadapan Devandroe.
" Lagian Lo yang anak Bahasa, Bapak Lo juga keturunan Jepang, masa iya Bahasa Jepang aja Lo kesulitan. Mau Gue katain gebleg juga rasanya nggak mungkin orang Lo juga juara kelas. " lanjutnya memarahi Devandroe, tapi Devandroe malah terkikik mendengar Raynevandra yang sudah kembali cerewet.
" Makasih ya, Adek kembarku... Udah balik lagi bawelnya sama aku. Udah baik lagi sama aku. " ucap Devandroe sambil tersenyum.
" Asal Lo nggak ada niat nikung Alexandra dari Gue aja Gue pasti baik terus sama Lo. " jawab Raynevandra ketus tapi jujur, tak lupa wajahnya yang terlihat menjengkelkan seperti Evan biasanya.
" Ale milih Lo, Ray... Ale cintanya sama Lo. " sanggahnya karena tak mau memperpanjang lagi perseteruan yang baru saja terjadi diantara mereka berdua dan tetap mencoba berusaha membesarkan hati Raynevandra meski sebenarnya kini hatinya sendiri masih dirundung bimbang antara merasakan benar - benar mencintai Alexandra ataukah hanya perasaan sayang sebatas Sahabat saja, sementara Raynevandra hanya mendengarkan saja dan sudah kembali sibuk dengan PRnya.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya sama - sama sibuk bergelut menyelesaikan PR masing - masing yang sama banyaknya itu. Dan terhenti sejenak ketika waktunya makan malam tiba. Setelah selesai makan malam pun, keduanya kembali berkutat dengan tumpukan tugas sekolah masing - masing yang menggunung itu. Dan tumpukan tugas sekolah itu pun berakhir saat jam sebelas malam, keduanya sama - sama terlelap disana tanpa terasa.