Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 24 - Nanti Cepat Tua


__ADS_3

Trap... Trap... Trap...


" Loh... Adekmu dimana, Kak? Kok nggak ada disini? " tanya Rayne, mereka janjian akan makan malam bersama di restoran yang searea dengan mall yang didatangi oleh anak - anaknya dan para gerombolannya.


" Pulang kata Abang... " jawab Stevano, Rayne nampak menatap bingung sementara Evan tetap datar, Maura pun langsung berdiri dan mencium punggung tangan Evan kemudian bercipika - cipiki dengan Rayne.


" Emangnya kamu abis dari mana kok biasa Adekmu pulang sampai nggak tau? " sahut Evan.


" Tadi aku beli sesuatu ke dalem, pas aku keluar Adek udah nggak ada disini, Momm... " jawabnya, tentu setengah berbohong.


" Terus Abangnya juga dimana sekarang? Tadi katanya ikut kesini juga... " tanya Rayne lagi sambil celingukan kesana kemari.


" Ke dalem bentar katanya. " jawab Stevano seadanya.


" Kenapa Maura? " tanya Evan yang sedari tadi diam - diam memperhatikan keduanya, terlebih Maura yang langsung menyembunyikan genggaman tangannya pada Stevano di bawah kolong meja saat melihat Rayne dan Evan baru saja datang tadi, genggaman tangan tadi itu pun terlepas dengan cepat di bawah kolong meja.


" Ditinggalin Zeevanea sama yang lain. " jawab Stevano sekenanya sembari menatap sekilas pada Maura, Evan pun diam dan langsung menyulut rokoknya.


Cup...


Kecupan mesra Rayne dan Evan mendarat di bibir Stevano bergantian, teman - temannya tersenyum melihat hal itu. Si kembar kecil pun turut mengecup bibir Stevano bergantian seperti yang Daddy dan Mommynya lakukan.


" Malem Om, Tante... " sapa teman - teman Stevano, keduanya hanya mengulas senyum tapi senyum Evan hanyalah senyum tipis seperti biasanya, teman - teman Stevano pun langsung mencium punggung tangan Evan dan Rayne bergantian.


" Malem semua... " jawab Rayne ramah, teman - teman Stevano kembali duduk, Evan pun juga tapi memilih tempat duduk di meja sebelah, Rayne tetap berdiri gelisah memikirkan Zeevanea.


" Ray sama Andru duduk sini sama Daddy, Boys... " ucap Evan mengajak si kembar kecil untuk duduk karena sedari tadi keduanya hanya berdiri sembari ia memghembuskan asap rokoknyake udara, lalu duduklah mereka berdua dan mengapit Evan di tengahnya, Rayne mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Zeevanea.


Tuuut...


" Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkaun. " ucap Operator telepon selular yang menjawab panggilan dari Rayne, Rayne pun langsung mendekat pada Evan, Rayne pun semakin gelisah dengan jawaban itu.


Tuuut... Tuuut... Tuuut...


" Aish! Pada kemana juga sih orang - orang ini. " gerutu Rayne dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Trap... Trap... Trap...


" Hape Zeevanea mati, Mas... Aku telepon nggak bisa. " jelasnya pada Evan, Evan langsung menatap ke arahnya.


" Aku telepon ke rumah juga nggak ada yang angkat. Kemana coba mereka semua. "lanjutnya khawatir.


" Udah nggak papa, biar dia makan malam di rumah. " jawab Evan setelah menghisap kuat rokok di tangannya kemudian mengepulkan asapnya ke udara.

__ADS_1


" Kasihan tau, Mas... Masa iya kita semua makan malam di luar sementara Zeevanea makan malam sendiri di rumah. " jawab Rayne merengek.


" Salah siapa juga udah janjian makan malam di luar malah pulang nggak ngabarin dulu. " jawab Evan, Rayne pun menghembuskan nafas berat.


Trap... Trap... Trap...


" Momm... Dadd... " sapa Nala, ia baru saja kembali ke cafe tersebut bersama Nicholas.


Cup...


Kecupan Rayne mendarat di bibir Nala setelah Nala mencium punggung tangannya, Nala pun langsung menghampiri Evan dan mencium punggung tangannya dan Evan langsung mengecup kening Nala.


" Malem, Om Evan, Tante... " sapa Nicholas sopan pada evan dan Rayne kemudian mencium punggung tangan mereka berdua bergantian.


" Malem... " balas Rayne sambil tersenyum, tapi Evan hanya mengangguk saja.


" Seperti rencana kita tadi, kita mau makan malam di dalam, kalian gimana? " tanya Evan pada Nala juga Stevano.


" Mami sama Papi mana, Dadd? " tanya Nala.


" Nanti nyusul... Masih jemput Oma, Ara sama Anya di rumah Oma. " jawab Evan.


" Papici sama keluarga Eyang juga ikut. " imbuhnya.


" Maura gimana? " tanya Stevano.


" Masa iya kamu mau tinggal Maura sendirian disini sama temen - temen Cowo kalian ini. " lanjutnya, Stevano menatap Maura sesaat kemudian keduanya pun mengangguk bersamaan.


" Nanti biar Daddy yang antar pulang. Mommymu mau ketemu Mamanya Maura. " lanjut Evan, Maura pun mengangguk.


" Aku nanti nyusul, deh... Kabarin kalau Kakak Eric sudah datang. " ucap Nala.


" Hahahaha... " si kembar kecil langsung terbahak tapi tawa Ray yang lebih kencang.


" Emang si barbar aja yang bisa panggil Daddy Mas Evan. " lanjutnya sambil nyengir.


" Enak aja panggil Princessnya Mommy barbar. " ucap Rayne sewot.


" Udah tau kebiasaan salah juga malah dilanjutin... " lanjut Rayne kesal.


" Hahaha... " tawa Nala menggema sementara Evan dan Stevano setia dengan senyum tipis yang terukir bersamaan.


" Mommy jangan marah - marah mulu, nanti cepet tua. Terus nanti Daddy cari daun muda baru tau rasa loh. " jawab Nala sekenanya, Stevano dan Nicholas nampak saling melempar pandang dalam diam, Rayne langsung mencebik kesal.

__ADS_1


" Emang Daddymu berani? " jawab Rayne tak mau kalah, Nala hanya tertawa tanpa suara sambil menggelengkan kepalanya.


" Nggak akan, Sayang... " ucap Evan sembari menatap Rayne sambil tersenyum.


" Padahal dulu Mommymu pendiem banget, Bang... Sekarang ngomel mulu sampai pusing kepala Daddy. " lanjut Evan sambil menyembunyikan tawanya.


" Kepala yang mana dulu ini, Dadd? " goda Nala dengan tersenyum jahil, Evan dan lainnya langsung geleng kepala berjamaah.


" Auwww!!! Sakit Mommy!!! " pekik Nala berteriak karena Rayne langsung memelototinya dan menjewer telinganya bahkan sampai menariknya kencang.


" Hahaha... " tawa teman - temannya menggema, si kembar kecil juga ikut menertawakan Nala.


" Terusin Momm, jangan kasih lepas. " timpal Raynevandra semangat.


" Papi itu pendiem, Mami kamu juga! Kamu kaya gini turunan siapa coba! " kesal Rayne dan melepas perlahan jewerannya pada telinga Nala.


" Turunannya itu... " jawab Nala sekenanya sambil menatap Evan dan sembari mengusap telinganya yang terasa panas kemudian mencebikkan bibirnya sembari menatap Raynevandra, Raynevandra pun menjulurkan lidahnya meledek Nala.


" Enak aja! " sungut Evan tak terima dan langsung bangkit dari duduknya.


" Ralat, ralat... Bukan turunannya tapi anak didiknya dari kecil, dan didikannya udah mendarah daging. " ucap Nala kembali nyengir.


" Pantesan. " ketus Rayne, Evan hanya terkikik.


Trap... Trap... Trap...



" Kok masih pada disini? " ucap Eric yang menghampiri mereka karena tak sengaja melihat ketika ia dan keluarga yang lain akan masuk ke dalam mall, karena restoran yang akan mereka tuju melewati cafe ini.


" Mami... Aku baru aja dijewer Mommy, nih... Sakit telingaku. " adu Nala pada Sea.


" Untung aja nggak panjang kaya kelinci. " lanjutnya dengan wajah sok memelas.


" Abang nakal kali... " jawab Sea sembari mengusap lembut telinga Nala yang masih tampak memerah.


" Kalau Mommy aduin sama Papi mau nggak? " serang balik Rayne pada Nala.


" Ih Mommy beraninya sama anak kecil. " jawab Nala tak mau kalah.


" Astaga! Kecilan juga Mommy dibanding sama kamu. "ucap Rayne sambil menepuk jidatnya, mereka yang ada disana langsung tertawa.


" Jangan godain Mommymu, nanti Mommymu bisa darah tinggi. " sela Eric, Nala hanya mencebik.

__ADS_1


Setelah keluarga besar mereka datang dan saling sapa dengan teman - teman anak - anaknya, mereka sekeluarga pun pamit dan langsung beranjak bersama menuju restoran yang menjadi tujuan mereka.


Trap... Trap... Trap...


__ADS_2