
" Ngapain Lo kesini? " tanya Evan sinis, tamu itu nampak menatap Evan dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Ngobrolnya di ruang keluarga saja, Mas... " ucap Rayne menyela, Evan pun langsung berdiri dan menggiring tamunya menuju ke ruang keluarga seperti yang disarankan oleh Istrinya, Rayne dan Stevano pun membuntut ikut juga.
Trap... Trap... Trap...
Setelah semua duduk tenang pada sofa empuk di ruang keluarga itu, Evan langsung mendongakkan dagunya sembari menatap pada tamunya. Dengan maksud memberi isyarat untuk mempertanyakan hal yang sama seperti tadi saat masih berada di ruang makan.
" Saya ada perlu dengan Pak Evan... " ucap seorang tamu lagi, tamu yang datang sebenarnya berjumlah dua orang, Evan nampak tersenyum sinis kemudian menukikkan sebatang rokok yang telah habis dihisapnya itu di asbak yang ada di hadapannya.
" Saya sungguh meminta maaf kepada Pak Evan... Kesalahan itu adalah murni kesalahan saya. Bukan kesalahan anak - anak kita... " lanjutnya yang langsung mengucapkan apa yang sudah direncanakan untuk diucapkannya.
" Tolong jangan mempersulit anak - anak dengan kesalahan saya. Biarkan saya sendiri yang menanggung akibat dari kesalahan yang pernah saya perbuat dulu. " lanjutnya memohon kepada Evan.
" Ambilin rokokku di kamar... Sekalian bawa Zeevanea kesini. " ucap Evan pelan kepada Rayne yang duduk di sampingnya.
" Aku aja yang ambil... Kasihan Mommy kalau naik turun tangga. " sela Stevano dan langsung bergegas tanpa menunggu jawaban dari Evan.
Trap... Trap... Trap...
" Bagaimana, Pak Evan? " lanjut si tamu kedua yang kembali bertanya kepada Evan, Evan hanya diam dengan tampang angkuhnya, sementara Rayne nampak menatap sendu kepada Evan, matanya pun sudah mulai terlihat memerah berkaca - kaca, Evan tetap terlihat santai seolah tanpa masalah serius yang sedang dibicarakan disini, dan malah Evan mengambil lagi sebatang rokok milik Stevano yang masih digeletakkan disana.
Kedua orang tamu tak diundang itu nampak menghela nafas berat ketika Evan belum juga mau untuk menjawab serentetan penjelasannya. Malah terlihat Evan sedang merokok santai mengabaikan kedua tamunya. Dan datanglah kembali Stevano yang kini sudah bersama Zeevanea untuk bergabung bersama mereka semua.
Trap... Trap... Trap...
Trap... Trap... Trap...
" Ini rokoknya, Dadd... " sela Stevano dan meletakkan rokok beserta pemantik api milik Evan di meja, Evan hanya mengangguk sembari mengepulkan asap rokoknya ke udara, Stevano dan Zeevanea pun langsung duduk di sofa.
" Bagaimana keputusanmu, My Princess? " tanya Evan dengan penuh ketenangan kepada Zeevanea, Zeevanea yang semula menunduk pun langsung mendongakkan kepalanya dan menatap sendu kepada Evan, Rayne dan Stevano beserta kedua tamu itu pun nampak memperhatikan, dengan gerakan santainya Evan nampak bergerak dan merogohkan tangannya ke bawah meja di hadapannya.
__ADS_1
Prak!!!
" Nyawa Daddy buat kamu kalau memang kamu tetap pada keputusan itu. " ucap Evan pelan penuh ketegasan sembari melemparkan senjata api yang baru saja diambilnya dari bawah meja, senyum teduhnya pun tak luput terpancar ketika menatap Zeevanea, Evan seolah sudah benar - benar ikhlas jikalau Zeevanea tetap memilih Nicholas dibandingkan dirinya, Rayne dan Zeevanea pun langsung menitikkan air mata yang menderas, Stevano pun nampak gusar, apa jadinya keluarganya kalau sampai Adik kembarnya ini benar - benar menumbalkan nyawa Daddy mereka pikir Stevano, kepulan asap rokok Evan nampak kian mengepul ke udara, kedua tamu mereka nampak panik meski hanya diam.
" Berikan keputusanmu sekarang, Sayang... Daddy siap mati demi kamu dan kebahagiaan yang kamu inginkan... " lanjutnya dengan menatap semakin dalam kepada Zeevanea.
Hiks... Hiks... Hiks...
Cup...
" Cukup, Mas!!! " teriak Rayne tak tahan meski suaranya terdengar tercekat.
" Jangan bersedih... Ada ketiga Jagoan kita yang akan melanjutkan tugasku untuk menjagamu dan janin kecil ini jikalau benar Putri kesayangan kita benar - benar menginginkan nyawaku... " lirih Evan berucap kepada Rayne sembari menangkup wajah dan menatap dalam kepada Rayne juga mengusap air mata Rayne dengan lembut serta satu tangannya juga nampak mengusap lembut perut Rayne yang sedang hamil, air mata Rayne pun semakin tumpah tak karuan, Rayne semakin menangis histeris sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.
" Kamu nggak boleh pergi... Restui Putri kita, Mas... Aku mohon... Kalau kamu memang mencintai aku, restui Putri kita... " lirih Rayne memohon dengan suara kian serak, Evan hanya menjawab permohonan itu dengan senyum teduhnya kepada Rayne kemudian mengajak Rayne berdiri dan mengecup singkat bibir Rayne yang bergetar karena menangis.
" Kalian berdua tinggalkan rumah saya! " titah tegas datar Evan kepada kedua tamunya yang masih nampak diam menjadi penonton, kedua tamu itu pun nampak saling pandang sekejap sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya setuju dengan permintaan Evan.
" Saya permisi, Pak Evan... Saya harap Pak Evan juga memikirkan perasaan anak - anak. " timpal satu tamu yang lain, Evan hanya mengangkat tangannya ke atas sebagai tanda persetujuan, lalu tamu pertama tadi menepuk pundak Evan kemudian kedua tamunya pun langsung beranjak.
Trap... Trap... Trap...
Hiks... Hiks... Hiks...
" Tidak pernahkan Daddy berpikir bahwa Daddy adalah segalanya untukku? " tanya balik Zeevanea dengan suara lirih dan bersimbah air mata, Evan yang semula sedang berfokus kepada Rayne langsung menoleh menatap Zeevanea.
" Apa Daddy pikir aku akan setega itu kepada Daddy? " lanjutnya bertanya kepada Evan dengan berteriak histeris, Evan menghembuskan nafas berat dengan tetap memperhatikan Zeevanea.
" Tapi apakah Daddy juga pernah memikirkan perasaanku hingga Daddy tega membuatku seperti ini? " lanjutnya yang kembali bertanya kepada Evan dengan histeris, Stevano langsung memeluk Zeevanea agar sedikit tenang meski tegang, rahang kokoh Evan mulai terlihat mengeras karena Zeevanea terus membentaknya.
" Cinta datang tanpa diduga... Cinta juga tidak pernah mengatakan kepada hati siapa dia akan melabuhkannya... " teriak Zeevanea histeris meski Stevano sudah memeluk menenangkannya.
__ADS_1
" Setega ini kah Daddy kepadaku? " lanjutnya yang kembali berteriak kencang membentak kepada Evan.
" Pelankan suaramu, Sayang... " lirih Stevano yang akhirnya berucap kepada Zeevanea, mata tajam Evan nampak kian menajam karena Zeevanea terus membentak kepadanya meski Zeevanea masih menangis histeris dalam dekapan Stevano.
" Kalau memang Daddy juga tidak bisa mengubah keputusan Daddy... " ucap Zeevanea menggantung dan menatap kian dalam kepada Evan.
" Lebih baik sekarang aku yang mati! " teriak Zeevanea kian kencang menggelegar sembari menyahut cepat senjata api yang ada di hadapannya.
Srekkk!!!
Duar!!!
" Zeevanea!!! " teriak Evan dan Rayne bersamaan, dada Evan nampak naik turun dengan cepat tak beraturan, tubuh Rayne pun langsung merosot ke bawah tapi dengan sigap Evan meraihnya dan langsung memeluknya.
Nampak juga Devandroe dan Raynevandra yang langsung berlari keluar dari dalam kamar setelah mendengar suara letupan senjata yang terdengar dari dalam kamarnya.
Trap... Trap... Trap...
Plak!!!
Hiks... Hiks... Hiks...
" Awhhh!!! " pekik Zeevanea yang langsung meringis kesakitan kala Stevano menamparnya dengan kencang, Zeevanea lolos dari bidikan senjata api milik Daddy-nya yang dibidikkannya sendiri itu karena Stevano berhasil menendangnya tepat waktu, Evan nampak terdiam sembari memegangi dadanya yang kian berdetak kencang menabuhkan genderang perang yang tak beraturan.
" Bodoh! " hardik Stevano dengan mata menatap nyalang dan penuh ketegasan, sungguh kian berdebar hati Stevano, ini adalah kali pertama ia menggunakan tangannya untuk menampar seseorang.
" Percuma Gue hidup kalau Daddy pilih kasih sama anak - anaknya! " teriaknya membentak Stevano, Raynevandra nampak mendekat kepada Evan, Stevano pun langsung meremas kasar rambutnya saking frustasinya, langsung merasa menyesal karena telah menampar Zeevanea.
" Daddy tidak pernah pilih kasih, Sayang... Daddy menyayangimu sama seperti Daddy menyayangi saudara - saudaramu. " lirih Rayne yang langsung beringsut dari pelukan Evan dan berpindah memeluk Zeevanea.
" Kalau Daddy benar - benar menyayangi aku pasti Daddy tidak akan sekejam ini sampai melimpahkan kesalahan Mommy kepadaku! " teriak Zeevanea murka dan menyalahkan Rayne yang memang si empunya kesalahan terdahulu, tatapan Evan kian menajam penuh murka, Rayne pun semakin terisak bersimbah tangis.
__ADS_1