Si Dingin Dan Si Barbar

Si Dingin Dan Si Barbar
Bab 28 - Vava


__ADS_3

Siang ini, seusai merampungkan meeting yang sedikit alot itu, Eric langsung diantarkan oleh Evan menuju ke Bandara karena Eric sudah harus bertolak kembali ke London guna membereskan hal penting perihal hasil tes DNA yang dilakukan oleh Nala. Sementara sekarang ini, Sea dan Nala sudah berada di Bandara terlebih dahulu karena Eric masih harus menyelesaikan meetingnya bersama Evan dan Stevano. Setelah meeting alot ini usai dan akhirnya kata sepakat terucap, Eric langsung meminta Evan mengantarkannya ke Bandara. Stevano lah yang kembali menghandle urusan Perusahaan beberapa jam ke depan ini.


Bruuun... Whuuussszzzhhh...


Kriiing...


Eric :


Assalamualaikum, Bang...


ucapnya yang langsung menjawab panggilan telepon dari Putra Sulungnya, Eric dan Evan masih dalam perjalanan menuju Bandara.


Nala :


Papi cepetan dong, Pi...


umpat Nala tak sabar karena aba - aba keberangkatan pesawat sudah disiarkan, salam yang diucapkan Papinya pun diabaikannya begitu saja.


Eric :


Daddymu udah ngebut.


Jangan bikin panik.


Papi sebentar lagi sampai.


jawab Eric sambil celingukan karena jalanan menuju Bandara sedikit macet sementara Evan pun juga sudah mengemudi seperti orang kesetanan, salip kanan salip kiri sesuka hati tak perdulikan lagi bunyi klakson dari kendaraan kana kiri, Eric pun langsung mematikan panggilan telepon dari Nala.


Tut... Tut... Tut...


Sepuluh menit kemudian, sampailah mobil yang Eric dan Evan tumpangi di depan lobby pintu keberangkatan Luar Negri. Eric langsung turun setelah berpamitan dengan Evan. Evan pun langsung menginjak pedal gasnya kembali dan mengendarai mobilnya menuju ke kantor Kalandra Group.


Trap... Trap... Trap...


Bruuum... Whuuussszzzhhh...

__ADS_1


" Itu Papi, Mi... " ucap Nala, Sea pun langsung berdiri dari duduknya.


Cup...


Cup...


" Udah dibawa semua? " tanya Eric pada Sea dan Nala setelah Eric mencium kening keduanya secara bergantian, Sea pun mengangguk sembari mengulas senyum penuh kelegaan.


" Ayo, Pi, Mi... " ucap Nala dan langsung menyeret satu koper kecil berisikan perlengkapan mereka bertiga yang dijadikan satu dalam satu koper yang sama, Eric dan Sea pun langsung mengikuti langkah Nala, dan ketiganya berjalan bersama menyusur masuk menuju pesawat.


Trap... Trap... Trap...


Ketiganya pun langsung masuk ke dalam pesawat yang sudah siap diterbangkan. Setelah mendapat tempat duduk kelas eksekutif, ketiganya pun langsung menempati tempat duduknya sembari mengobrol santai bertiga.


Di tempat berbeda lainnya, kini Zeevanea sedang pergi jalan - jalan ke mall bersama dengan Anya dan dua teman mereka. Zeevanea sengaja izin keluar dari Mommynya yang masih berada di galeri, Mommynya pun mengizinkannya. Jadilah sekarang Zeevanea bersama Anya dan dua teman Perempuan mereka sedang berjalan - jalan di mall.


Trap... Trap... Trap...


" Belanja yuk, Guys... " ajak Anya setelah ia melihat toko tas branded di dalam mall tersebut menampilkan koleksi - koleksi terbarunya dipajang di rak paling depan.


Mereka berempat pun akhirnya masuk ke dalam toko tas mahal bin branded tersebut dengan gaya anak muda masa kini yang selalu modis. Setelah berada di dalam toko tas branded tersebut, keempatnya langsung pisah arah untuk memilih - milih tas branded keluaran terbaru yang ada di dalam toko tersebut.


Trap... Trap... Trap...


Zeevanea yang tengah memilih - milih tas branded tersebut nampak santai meski kelakuannya bisa dibilang Barbar, tak seperti Valerie dan Aluna yang terkesan heboh sendiri. Anya pun tak jauh beda dengan Zeevanea. Anteng memilih tas yang ada disana dengan seluruh keanggunannya.


Trap... Trap... Trap...



Saat Zeevanea tengah menatap dua tas branded berbeda model di hadapannya, tiba - tiba datanglah seorang Perempuan anggun yang penampilannya juga terbilang wah menghampiri ke arah Zeevanea berdiri dan langsung mengambil salah satu tas yang diincar oleh Zeevanea. Zeevanea yang kaget saking konsentrasinya menatap dua tas branded tersebut langsung menoleh dan menatap sengit kepada Perempuan yang kira - kira berusia sepantaran dengan Mommynya. Tapi yang ditatap hanya santai saja tanpa memperhatikan Zeevanea dan ia masih tetap fokus membuka - buka tas branded dalam genggamannya itu. Tapi sesaat kemudian, Perempuan itu pun meletakkan kembali tas branded tersebut di tempatnya karena ia akan menerima telepon. Dengan cepat, Zeevanea langsung meraih tas branded tersebut. Tapi dengan cepat pula si Perempuan itu pun mengakhiri panggilan teleponnya dan menatap ke arah Zeevanea yang sudah memegangi tas tersebut.



" Maaf, Dek... Saya mau ambil tas itu. " ucapnya lembut pada Zeevanea sembari mengukir senyum ramahnya, sontak saja mata indah Zeevanea langsung membola, apa yang menjadi incarannya harus menjadi miliknya, itulah Zeevanea.

__ADS_1


" Bukan salah saya karena saya juga menyukai tas ini dan saya mengambilnya setelah anda meletakkannya. " jawab Zeevanea arogan sambil menatap tak suka karena Perempuan tersebut masih juga mengatakan menginginkan tas branded limited edition yang sudah berada di genggaman tangannya itu.


" Saya meletakkannya dulu karena saya sedang menerima telepon dari Suami saya. " jawab Perempuan tersebut masih dengan menatap Zeevanea tapi nadanya terdengar sedikit berbeda dari nada bicaranya di awal tadi.


" Ya itu urusan anda... Yang jelas tas ini sudah berada di tangan saya. Jadi saya yang berhak. " jawab Zeevanea dengan wajah menjengkelkannya seperti wajah Evan biasanya, si Perempuan ini pun nampak menghela nafas panjang.


" Tapi saya menaruhnya karena saya sedang menjawab telepon dari Suami saya... " jawabnya juga kekeh meski nadanya tak sesinis nada bicara Zeevanea.


Trap... Trap... Trap...



" Kamu kenapa, Sayang? " tanya seorang Pria yang baru saja menghampiri Perempuan yang sedang berebut tas branded limited edition itu dengan Zeevanea, Zeevanea masih berdiri di depan mereka berdua, tapi Zeevanea merasa seperti tak asing dengan Pria yang baru saja datang ini.


" Ini, Sayang... Aku tadinya mau ambil tas itu... Tapi pas kamu telepon aku naruh di rak sini, tapi langsung diambil sama Adek ini. " jelasnya.


" Bukan salah saya dong kalau saya ambil. Lagian ini tempat umum. " sela Zeevanea yang merasa tak terima karena kalimat peraduan si Perempuan tersebut, sepasang manusia ini pun saling pandang sesaat kemudian tanpa sadar menatap Zeevanea bersamaan, seperti Zeevanea yang sedari tadi masih mencuri - curi pandang pada si Pria yang dirasanya tak asing ini, sepertinya si Pria pun merasakan hal yang sama dengan Zeevanea.


Trap... Trap... Trap...



" Lo lama banget sih Zee... " ucap Anya yang sedari tadi mencari Zeevanea dan baru ketemu di sebelah sini karena tempat toko ini begitu luas.


" Sorry, Kak... Gue udah selesai kok. Ini tinggal bayar. " jawab Zeevanea pada Anya tanpa memperdulikan si Perempuan tadi yang masih menatap pada tas branded berwarna creme tersebut, si Perempuan pun terlihat bingung.


" Idih! Lo ngapain pilih model kaya gitu? " protes Anya sambil memicingkan matanya, menilai tas itu cocoknya untuk Emak - Emak.


" Emang aku mau beliin Mommy... " jawabnya santai, Anya pun mengangguk paham.


" Perhatian banget Incessnya Kakak Rayne... " canda Anya sambil tersenyum, si Pria yang sedari tadi terpaku dengan Zeevanea ini pun semakin terlihat membeku setelah Anya mengucap kata Kakak Rayne, kedua Gadis ini pun langsung beranjak tanpa memperdulikan mereka berdua yang sedari tadi diam menjadi Penonton sesaat.


Trap...Trap... Trap...


" Vava!!! " ucap suara bariton seorang Pria, Zeevanea langsung menghentikan langkahnya karena nama itu dulu sempat menjadi nama panggilan masa kecilnya kala masih di Venesia dan suara itu pun seolah familiar di telinganya.

__ADS_1


__ADS_2