
Trap... Trap... Trap...
Hiks... Hiks... Hiks...
" Ray... Ngomong sejujurnya sama Mommy gimana keadaan Daddy di dalam. Kenapa Daddy ngelarang Mommy masuk juga? " lirih Rayne yang sudah menghampiri Raynevandra yang masih dipeluk ditenangkan oleh Alexandra, Raynevandra pun langsung mengurai pelukan Alexandra dan berpindah memeluk Rayne tapi juga membawa Alexandra untuk bergabung dalam pelukan itu.
" Daddy nggak ngizinin Mommy masuk ke dalam karena Daddy nggak mau lihat Mommy makin sedih... Daddy minta Mommy untuk terus mendoakan Daddy... Daddy cinta sama Mommy... Bantu Daddy berjuang dengan doa Mommy... " lirih Raynevandra menjelaskan ucapan Evan ketika Raynevandra dipanggil masuk ke dalam ruang ICU bersama Raka, benar saja memang di dalam sana sudah dipasangkan banyak slang pada tubuh Evan.
" Daddy-mu tega, Ray... Daddy tega nyembunyiin kesakitannya sendiri... Mommy sendiri juga bagaikan orang bodoh yang tak peka dengan keadaan Daddy-mu. " lirih Rayne menjawab penuh sesal karena sama sekali tak menyadari kesakitan yang disembunyikan oleh Suaminya.
" Itu semua dilakukan Daddy karena Daddy cinta banget sama Mommy... Daddy nggak mau Mommy sedih... Kalau Mommy sedih gimana Mommy mau mendoakan Daddy? " jawab Raynevandra sebisanya.
" Daddy cuma minta Mommy untuk mendoakan Daddy... " lanjutnya.
" Bawa Mommy masuk ke dalam, Ray... Mommy ingin melihat Daddy... Mommy ingin menemani Daddy... " lirih Rayne memelas kepada Raynevandra.
" Meski Eyang Buyut adalah pemilik Rumah Sakit ini dan sebenarnya kita juga bisa bebas keluar masuk ke dalam sana tapi nanti kasihan sama Dokternya, Momm... Dokter yang menangani Daddy pasti akan rikuh untuk bergerak menangani Daddy. " jawab Raynevandra bijak.
" Kasihan sama Daddy juga yang harus mendapatkan penanganan maksimal tapi Dokternya jadi rikuh karena Mommy nungguin Daddy di dalam sana. " lanjutnya, Rayne tetap menangis, Raynevandra dan Alexandra pun juga tetap dengan deraian air mata yang menderas tanpa jeda.
Trap... Trap... Trap...
Brak!!!
Hiks... Hiks... Hiks...
__ADS_1
" Rudi!!! Ayah!!! Kakek!!! " pekik Papi Ardi dan Eyang Alam juga Richie, Eric, juga Stevano saat Rudiansyah Armaya langsung berdiri dari duduknya dan langsung menerobos masuk ke dalam ruang ICU, Rayne pun tertegun kala melihat punggung Ayahnya yang menerobos masuk ke dalam sana.
" Ya Allah, Mas... " lirih Bunda Sekar kian lemas yang sedari tadi juga menangisi keadaan Evan sembari menemani Ayah Rudi yang terduduk di lantai penuh dengan kesedihan.
" Mommy mau masuk, Ray... Mommy mau lihat sendiri keadaan Daddy... " lirih Rayne yang langsung meronta dari pelukan Raynevandra setelah melihat Ayahnya menerobos masuk tiba - tiba ke dalam ruang ICU.
" Kalau Mommy juga mencintai Daddy seperti Daddy mencintai Mommy... " ucap Raynevandra menahan Rayne agar tak memaksa masuk juga ke dalam ruang ICU tempat dimana Evan berada.
" Doakan Daddy seperti apa yang diminta oleh Daddy... Contohkan kepada calon Menantu Mommy ini juga bagaimana menjadi Istri yang menurut kepada Suami. " lanjutnya berucap setelah menjeda sejenak ucapannya yang digantungkan.
" Kita semua pasti akan menyesal kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa kepada Daddy. " tukasnya, Rayne pun kembali mengeratkan pelukannya kepada Raynevandra dan kembali menangis histeris dalam dekapan Putra Bungsunya bersama Alexandra.
Trap... Trap... Trap...
" Bangun, Bengal! Hadapi Ayah! " pekik Ayah Rudi pelan penuh penekanan, beberapa Dokter yang sedang mengerumuni Evan itu pun langsung menepi setelah kedatangan Ayah Rudi ke dalam sana, ada juga satu orang Dokter yang membantu memakaikan pakaian khusus di tubuh Ayah Rudi meski tidak sampai dipakai dengan benar, Evan sadar ternyata, Evan membuka matanya dan tersenyum sinis menatap lemah kepada sang Ayah Mertua yang tengah berdiri tegak di hadapannya.
" Ya Allah, Mas Hasa!!! Anakmu ini benar - benar gila! " umpat Ayah Rudi sambil memegangi kepalanya karena merasa pusing juga geram dengan Evan yang sedang sakit seperti ini tetapi masih bisa bercanda dan tersenyum sinis kepadanya, saat Ayah Rudi masuk memang Evan baru saja tersadar kembali, kondisi Evan juga sebenarnya belum stabil.
" Ayah keluar dulu, Yah... Kasihan Dokternya jadi nggak bisa kerja. " lirih Evan, kini gantian Ayah Rudi yang menatapnya sinis seolah penuh dendam kepada Evan meski itu hanya kekesalan dan ketidak habis pikirannya saja dengan sikap Evan yang masih terlihat santai sementara di luar ruang ICU semua orang menangis pilu mengkhawatirkan keselamatan Evan, sejujurnya Evan sendiri juga takut mati maka dari itu Evan berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
" Evan masih belum mau mati, Ayah... Evan takut mati. Tanggungan Evan masih banyak... Evan juga masih pengen nemenin Anak Ayah sampai tua. Evan juga masih pengen momong Cucu. Yang lebih penting untuk saat ini Evan sangat belum siap untuk ninggalin Anak Ayah yang sexy yang sedang hamil ini. " ucapnya pelan meski ia berucap panjang lebar dan cengengesan.
" Biarkan Dokter berusaha dengan tenang untuk menyelamatkan Evan. " lanjutnya, Ayah Rudi hanya geleng kepala sambil menghela nafas berat kemudian langsung beranjak sembari membuang pakaian khusus ruang ICU itu di lantai, Ayah Rudi benar - benar merasa frustasi menghadapi Evan kali ini.
Trap... Trap... Trap...
__ADS_1
Trap... Trap... Trap...
" Stop! " hardik Eric kepada Nala yang sudah bergerak untuk masuk juga ke dalam ruang ICU, beriringan dengan itu nampak Ayah Rudi yang baru saja keluar dari dalam sana langsung menatap Eric dan Nala secara bergantian.
" Daddy-mu dan Dokter di dalam sana butuh ketenangan untuk memperjuangkan keselamatan Daddy-mu. " tegas Eric dengan tatapan tegas meski matanya memerah karena sedari tadi juga ikut menangisi keadaan Adik kesayangannya.
" Jangan keras kepala! " tegasnya lagi meski suaranya pelan namun terdengar penuh ketegasan, Sea pun langsung maju dan membawa Nala menepi kemudian memeluk Nala penuh kasih, mata Sea juga nampak basah ikut menangisi keadaan Evan.
Trap... Trap... Trap...
Hiks... Hiks... Hiks...
" Doakan Daddy dari sini saja ya, Sayang... Daddy juga sayang Abang. Daddy pasti akan segera membaik. Untuk sekarang ini Daddy lebih membutuhkan pertolongan doa dari Abang... " lirih Sea sambil mengusap lembut air mata Nala yang akhirnya luruh juga meski sedari tadi sekuat tenaga Nala menahannya, Sea pun memeluk Nala penuh kasih sayang layaknya Ibu kandung sendiri, Sea paham jika Nala memang juga sangat menyayangi Evan, sejak kecil kehidupan Nala memang banyak dihabiskan bersama Evan, bahkan kedekatan Evan dengan Nala pun terbilang lebih klop karena sama - sama seenaknya dibandingkan dengan kedekatan Nala dengan Eric yang memang notabene-nya adalah Ayah kandung dari Nala dan Eric juga memang tidak cengengesan seperti Evan dan Nala.
" Daddy harus sembuh, Mi... Daddy nggak boleh sakit... " ucap Nala dengan sesenggukan dan tersengal saking sedihnya melihat keadaan Evan.
" Iya, Sayang... Daddy pasti sembuh. " jawab Sea sembari menangis juga mencoba meredakan kesedihan Putra sambung kesayangannya.
Trap... Trap... Trap...
" Mas Evan gimana, Yah? Aku mau masuk. " ucap Rayne yang langsung menghampiri Ayah Rudi kala melihat Ayah Rudi baru saja keluar dari dalam ruang ICU.
" Evan baik - baik saja. Dia baru saja sadar. " jawab Ayah Rudi seadanya meski sebenarnya juga masih merasa tidak habis pikir dengan Evan, Ayah Rudi pun sampai lupa untuk menanyakan keadaan Evan sebenarnya kepada Dokter yang menangani Evan.
" Aku mau masuk... " lirih Rayne memelas dengan berlinang air mata.
__ADS_1
" Nanti kalau sudah dipindahkan ke ruang perawatan kamu bisa menemaninya sampai puas. " jawab Ayah Rudi sambil memeluk Rayne dan mengusap lembut punggung Putri kesayangannya itu meski sebenarnya Ayah Rudi juga merasa khawatir kalau penyakit yang diderita Evan ini sebenarnya berat hanya saja Evan menyembunyikannya dengan wajah cengengesannya tadi.