Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Takut kehilanganmu


__ADS_3

Devan berpikir kalau Gabriel setidaknya akan membuat permintaan yang menguntungkan dirinya sendiri atau keluarganya, tapi...


"kalau begitu, ambil kembali transfer saham yang kamu berikan pada ayahku sebelumnya,bisa?"


Pupil Devan menyusut, alisnya berkerut, dan dengan suaranya yang tidak jelas dia berkata, "apa kamu yakin?"


Gabriel mendongak, ketika dia menyentuh wajah Devan yang ragu-ragu, dia merasa sedikit puas hati.Dia menarik nafas dan berkata, "Devan,kamu tidak berhutang padaku.Cinta bukan bisnis,aku mengerti itu!"


Devan berdiri mematung dan menatap dalam-dalam ke wajah wanita di hadapannya ini.pada saat itu, pikirannya sangat rumit.


Mendongak, matanya menyapu Gabriel,lalu tetap di wajahnya, "Gabriel..."


"yah, ayo kita ganti saja topik pembicaraan ini.Kalau di lanjutkan, nanti aku malah menyesal.Aku senang kamu bahagia." suara itu keluar, matanya tiba-tiba memerah, dan air matanya juga jatuh seperti seutas benang, "Devan, semoga semuanya baik-baik saja!"


"Devan, nona Sherin sudah sadar" suara Dylan terdengar bersamaan dengan suara Gabriel.


Devan menepuk pundak Gabriel dengan lembut, dan berbalik badan tanpa ragu ingin berlari ke dalam.


Gabriel menatap punggung Devan dan merasakan dirinya menjadi kaku, dingin, dan menusuk hati. Dia berjongkok di lantai, memeluk lututnya, dan merasakan dingin di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Devan,bagaimana aku bisa melepaskan dirimu seperti ini?...


Sherin setengah duduk di tempat tidur dan menatap Devan yang bergegas masuk dari luar.Dia menarik bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman, lalu tersenyum pada Devan.


Senyuman itu,membuat hati Devan terasa terikat bersamanya.


Melangkah ke depan, Devan tidak bisa menahan dirinya untuk menarik Sherin ke dalam pelukannya. "sudah tidak ada masalah lagi."


Tubuh Sherin sangat dingin, tetapi pada saat menyentuh tubuh Devan,tiba-tiba terasa hangat.


" apakah kamu yang mengantar aku ke rumah sakit?"


Devan mengangguk.


Devan mengerutkan kening, mata lembutnya menjadi dingin dalam sekejap, kemudian dia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan dan menunjuk ke arah ponsel, "apakah kamu tidak mengirimkannya kepadaku?"


Sherin menggigit bibir bawahnya dan menggelengkan kepalanya karena merasa terkejut.


Dia ingat bahwa dia hanya ingin menelpon polisi, dan kemudian tampilan wechat macet.Apakah dia menekan tombol perekam suara?

__ADS_1


"Sepertinya aku sedang gelisah saja, aku pikir, Nona Sherin berada dalam keadaan bahaya dan bisa teringat Tuan Devan" Dia juga memanggilnya Nona Sherin,seperti sindiran.


Sherin memegang dahinya, dia tidak tahu harus tertawa atau menangis.


Melihat bahwa Devan tampaknya sangat marah, Sherin menarik tangannya, "aku tidak bermaksud seperti itu, pada waktu itu, aku hanya ingin memanggil polisi.Wechat macet, lalu aku tidak tahu menekannya." setelah itu, dia mengaitkan sudut bibirnya dan dengan cepat melanjutkan, "jangan marah.Jika kamu tidak datang,aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku"


Suaranya semakin lama semakin kecil, dia mulai merasa ketakutan.


Devan menatapnya dan menghela nafas ringan, "aku tidak marah. Aku takut. Sherin, ketika aku melihatmu berlumuran darah, aku merasa ketakutan untuk pertama kalinya dalam hidupku"


Dia mengencangkan pelukan lengannya dan berbisik pelan di telinga Sherin,


"aku takut kehilanganmu"


Ketakutan yang di alami sebelumnya karena kondisi Sherin, sudah banyak berkurang.


Sherin balas memeluknya, "maaf,telah membuat kamu khawatir."


Terimakasih...

__ADS_1


mohon dukungannya like dan komen...


love you all....


__ADS_2