
"katakan! kamu itu siapa? mengapa kamu berpura-pura menjadi Moldi?" yang bicara adalah kakek Clover, nada suaranya jelas terdengar menjadi jauh lebih tinggi daripada tadi.
Clover tidak pernah melihat adegan seperti ini, melihat pistol yang di pegang oleh pamannya saja sudah membuat Clover takut sampai tidak berani bersuara.
Devan yang melihat ketakutan Clover langsung berjalan melewati sofa dan menuju ke sisi Clover, kemudian dia memegang pinggang Clover dan mundur ke belakang dua langkah.
"Devan, pamanku...." suara Clover sedikit bergetar dan terkejut, pamannya yang lembut juga mempunyai sisi seperti itu.
Pegangan Devan di pinggang Clover semakin mengerat. "tidak apa-apa. Kakek, dan paman, mereka tahu batasan" suara Devan tidak besar dan tidak kecil, kebetulan bisa di dengar oleh semua orang yang berada di ruangan.
Tatapan mata ayah Gabriel memancarkan sebuah kejutan dan bergetar setelah mendengar Devan memanggil orang tua yang di depannya kakek.
Tetapi, dengan cepat tatapannya kembali menjadi tenang.
Ayah Gabriel menggeserkan tangan paman Clover yang sedang memegang pistol dan dia membungkukkan kepalanya terhadap kakek Clover, "pemimpin pulau, kita sudah tidak berjumpa selama puluhan tahun, bagaimana kabar Anda?"
Pada saat mendengar ayah Gabriel memanggilnya 'pemimpin pulau' kakek Clover langsung berjalan ke depan beberapa langkah dan merasa sedikit kaget, kakek Clover mengira pria di depannya adalah pria yang membohongi anak putrinya.
Tetapi ketika ayah Gabriel membungkukkan kepalanya kepadanya, tatapan kakek Clover tenggelam, "kamu bukan Moldi, kamu siapa?"
Mendengar kata-kata itu,ayah Gabriel melihat ke bawah, Clover tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas, tetapi Clover bisa melihat senyuman di sudut bibirnya.
"pemimpin pulau, apakah ingatan anda ikut buruk juga, ketika Anda menjadi tua? kalau aku bukan Moldi, Anda merasa aku itu siapa?"
Setelah berkata, ayah Gabriel menunjuk kepada Gary, "pemimpin pulau, Anda lihat, ini adalah anakku dengan Herlina, namanya adalah Gary, sini Gary, ini adalah kakekmu"
Clover merasa sangat terkejut, dia mengira ayah Gabriel akan ragu dengan identitas Gary, Clover tidak menyangka dia akan mengakuinya dengan begitu santai.
Tiba-tiba Clover semakin tidak mengerti dengan pemikiran pria ini yang sebenarnya.
Bahkan Devan pun mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"jangan mencoba untuk sembarangan bicara, jangan mengira mataku tidak baik hanya karena aku sudah tua, Moldi memiliki dua pusar di kepalanya yang masing-masing saling berhadapan di kiri dan kanan, ketika kamu menundukkan kepala untuk membungkukkan badanmu tadi, aku melihat dengan jelas pusar kepalamu hanya satu dan posisinya berada di tengah." setelah berbicara,kakek Clover mengambil pistol yang berada di tangan paman Clover dan menunjuk ke ayah Gabriel.
Alurnya berubah terlalu cepat dan Clover jelas tidak sempat bereaksi.
Tetapi, Clover juga merasa kaget dengan ingatan kakeknya, setelah begitu banyak tahun, dia masih bisa mengingat masalah sekecil ini dengan jelas.
Ayah Gabriel tidak memiliki reaksi yang terlalu besar. Dia hanya menatap kakek Clover dengan senyuman di wajahnya.
"katakan! apa yang terjadi? Moldi di mana? mengapa akhirnya anak putriku pergi ke kota seroja sendiri? lalu, mengapa Gary memanggil kamu ayah?"
Personalitas kakek Clover jelas tidak selembut paman Clover. Semakin berbicara, emosinya semakin naik. Clover merasa agak cemas kakeknya bersikap terlalu emosi dan langsung menembak ayah Gabriel, dan Ujung-ujungnya kakek sendiri ikut di rugikan. Clover merasa itu terlalu tidak pantas.
Clover ingin mengangkat tangannya dan memperlembut suasana, tetapi Devan menahan gerakannya dan Devan menggelengkan kepalanya kepada Clover.
Ayah Gabriel mendekatkan dirinya kepada kakek Clover dan berbisik kepadanya, setelah itu kakek Clover yang masih marah-marah langsung menurunkan pistolnya.
Kemudian, Clover mendengar kakek menggunakan bahasa yang dia tidak mengerti untuk berbicara dengan pamannya.
Pamannya kemudian menatap ke Clover beberapa saat dan langsung menoleh ke arah lain.
Detik selanjutnya, Clover tiba-tiba merasa sakit di bagian belakang lehernya, dan Clover pun menjadi tidak sadarkan diri.
Beberapa pria di dalam ruangan menghembuskan sebuah nafas yang lega, hanya tatapan ayah Gabriel sendiri yang memancarkan emosi puas hati.
Ternyata, Clover benar-benar adalah kelemahan dari beberapa pria ini, ayah Gabriel merasa keputusan dirinya untuk membiarkan Clover melahirkan Simon adalah keputusan yang sangat pintar.
"kamu sekarang percaya tidak, kalau sekarang aku langsung menembakmu?" ekspresi kakek Clover langsung berubah ketika melihat Devan menggendong Clover ke dalam kamar. kakek Clover menunjuk pistolnya ke ayah Gabriel lagi.
Ayah Gabriel mengangguk dan melihat Devan yang baru saja keluar dari kamar, dia berkata setiap katanya dengan jelas, "sini Devan, bukan kah kamu sangat penasaran mengapa ayahmu setuju denganku membiarkan orang lain melahirkan Simon? aku akan memberi tahu kamu, kebenarannya sekarang....aku......"
"aku akan membunuhmu jika kamu berbicara satu kata lagi, coba saja!" ekspresi paman Clover berubah dan dia langsung menendang siku ayah Gabriel sebelum ayah Gabriel sempat berbicara, ayah Gabriel berlutut di lantai dan wajahnya tidak tampak marah sama sekali, malahan senyumannya semakin lebar.
__ADS_1
Devan melihat ke tiga orang itu dan alisnya mengerut, dia berjalan ke depan dan melihat ke paman Clover, "apa paman mengetahui sesuatu?"
Paman Clover menatap ke kakek Clover sebelum melihat ke Devan, "kamu jangan dengarkan, dia sembarangan bicara, dia tidak tahu apa-apa...."
"sembarangan bicara? boleh, bukan kah kalian tidak percaya? kalau begitu bunuh aku saja? bunuh aku saja, dan besok akan ada yang mengirim pesan kepada keponakanmu, aku akan melihat nanti, yang akan merasakan sakit itu aku yang menjadi mayat atau keponakanmu yang masih hidup?" setelah berkata, ayah Gabriel mengangkat kepalanya dan tertawa dengan suara nyaring.
"DOR!" kaki kanan ayah Gabriel di tembak, paman Clover yang begitu lembut pun sudah emosi sampai wajahnya pucat.
Setelah terdengar suara pistol, sekelompok pria yang berpakaian serba hitam masuk ke dalam, orang yang memimpin di antara mereka melihat gerakan paman Clover dan melambaikan tangannya kepada orang yang berada di belakangnya, setelah itu, mereka mengangkat ayah Gabriel yang tengah terluka keluar dari rumah.
"antar aku ke rumah sakit, aku mau rumah sakit yang paling bagus, aku mau pelayanan yang paling bagus, hahahah....." ayah Gabriel itu di tarik keluar oleh para pria berpakaian serba hitam, darahnya terus mengalir tetapi dia tidak merasa sakit dan malah terus tertawa dengan nyaring.
Kakek melihat ke paman Clover dan kemudian melihat ayah Gabriel yang bangga, keinginan membunuh di matanya menghilang, dia mengambil beberapa gelas di atas meja, melemparkannya ke lantai dengan kuat dan menghasilkan suara yang sangat menusuk telinga.
Ekspresi Devan tenggelam, dia melihat ke kakek dan paman Clover dengan wajah dingin, "kakek, apa yang dia katakan kepadamu?"
Tadi kakek membelakangi Clover dan memberikan kode kepada Devan agar Devan memukul Clover hingga pingsan. Devan tidak berpikir banyak dan memilih untuk menurutinya karena Devan tahu dua pria di depannya berada di pihak yang sama dengannya, mereka tidak akan melukai Clover selamanya.
Tetapi Devan semakin mengerti kata-kata ayah Gabriel kepada kakek Clover tadi pasti berhubungan dengan Clover.
Kakeknya pasti takut Clover akan terluka, makanya dia menyuruh Devan melakukan hal itu.
Kakek Clover menatap ke Devan dengan dalam, lalu menyuruhnya untuk duduk.......
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....
Mohon maaf bila tulisan dan bahasanya kurang di mengerti 🙏