
Bagi ayah Gabriel, di satu sisi adalah istrinya dan di sisi lain adalah anak putranya. Jelas ayah Gabriel tidak sanggup menerimanya.
"paman,saya sudah berbicara ke bagian kantor polisi.Untuk sementara, tante masih aman berada di sana, setelah masalahnya sudah jelas dan di selidiki, kita baru cari solusi lagi" Devan membantu ayah Gabriel untuk duduk.Melihat tingkah laku Devan, ayah Gabriel tentu sedikit merasa terkejut, dia mengangguk kepada Devan "Devan,aku benar-benar Terima kasih!"
"apakah di tengah kejadian ini ada salah paham? seorang ibu tidak mungkin tega membunuh anaknya sendiri," Devan duduk di samping ayah Gabriel dan bertanya dengan nada ringan.
Ekspresi wajah ayah Gabriel berubah, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil bersuara. "aku juga merasa sepeti itu"
Sherin merasa ragu dengan masalah keluarga Gabriel, tetapi dia pikir ini adalah masalah keluarga orang lain. Jadi Sherin juga tidak ingin ikut campur tangan. Dari awal sampai akhir, Sherin hanya memperlihatkan wajah tanpa ekspresi.
Tiba-tiba pintu ruangan operasi terbuka.Empat orang itu langsung bangun dari tempat duduk secara bersamaan. Dan beberapa dokter berjalan keluar dari ruang operasi. Salah satu dokter membuka maskernya dan mengangguk kepada Devan sebelum berkata "Pasien berhasil di selamatkan.Tetapi syaraf otaknya mengalami luka yang cukup parah.Pasien kehilangan terlalu banyak darah, di tambah dengan waktu itu suhu udara sangat rendah, menyebabkan infeksi pada luka dan terjadi kerusakan pada otak pasien.Menurut pengalaman sebelumnya, walaupun pasien sudah sembuh nanti, pasien juga hanya akan hidup pasif"
Dokter berkata dengan nada suara yang menyakinkan. Mendengar kata-kata mereka, sudah bisa di pastikan tentang kondisi Gary.Ayah Gabriel seperti ingin berkata, tetapi akhirnya dia hanya diam dan kembali duduk di atas kursi.
__ADS_1
Devan hanya mengiyakan,wajahnya tidak memiliki ekspresi apa pun. Sherin memegang dadanya sendiri, matanya pun juga ikut memerah seperti menahan tangis. "Yuta, bisa kah kamu mengantar aku pulang?" Setelah mengetahui kondisi pria itu, Sherin merasa dirinya sudah tidak memiliki keperluan untuk berada di sana.
Yuta mengangguk dan menepuk bahu Devan ketika dia melewatinya.
Setelah sampai di rumah, waktu sudah menunjukkan jam 11 lebih. Yuta yang merasa khawatir ingin menjaga Sherin, tetapi Sherin memintanya untuk pulang.
Sherin lalu mandi dan berbaring di atas tempat tidur. Dia tidak bisa tidur karena terus terpikir kata 'pasif' yang di katakan oleh dokter tadi.
Sherin terpikir dengan Devan, di keluarga Gabriel tengah mengalami masalah yang begitu besar, Devan sebagai tunangannya pasti mengalami banyak kesulitan juga.
Setelah sangat lama, Sherin sudah hampir tertidur, dan ponselnya tiba-tiba berdering. Devan membalas pesan teks darinya. "untuk sementara ini, aku mungkin tidak akan bisa fokus menjaga kamu.Ingat, jaga dirimu!"
Hati Sherin merasa hangat, "ya, kamu juga!"
__ADS_1
.....
Beberapa hari selanjutnya, hidup Sherin menjadi terasa sangat sunyi, Devan benar-benar sangat sibuk. Sibuk sampai tidak menelpon Sherin sekali pun atau tidak mengirim satu pesan teks pun.
Sherin mengerti dia tidak boleh membandingkan dirinya dengan Gabriel. Di keluarga Gabriel terjadi begitu banyak masalah dan tentu saja Devan seharusnya lebih menjaga Gabriel.
Tetapi tidak bisa di pungkiri,hati Sherin tidak bisa menahan dan merasa kecewa. dia tidak bisa menahan diri dan sembarang berpikir.
Terimakasih...
Mohon dukungannya like dan komen...
Di lanjut lagi nanti😀
__ADS_1
Baca partnya jangan di tabung ya!🤗