
Beberapa polisi berseragam datang dari luar.
Ibu Gabriel mengulurkan tangannya dan berkata "aku yang mendorong nya, kalian bisa membawaku bersama dengan kalian!"
"ma..." ketika Gabriel membuka mulutnya ingin berkata, dia hanya bisa menundukkan kepalanya sampai ibunya di bawa pergi. Lalu setelahnya,dia mengangkat kepalanya perlahan.
Pada saat dia ingin mengejar keluar, ibu Gabriel sudah masuk ke dalam mobil polisi.
Dia merasa panik,tiba-tiba dia memikirkan Gary. Ya, dia pikir jika Gary baik-baik saja,maka ibunya juga akan baik-baik saja.
Memikirkan tentang hal itu, dia berlari dengan cepat ke tempat kejadian itu terjadi.Di sana, tempatnya di kelilingi oleh garis polisi dan banyak orang yang menonton.
Dia mengencangkan jaket hitam ketatnya, dan menelan ludah, kemudian dia naik dan menarik seorang polisi di sebelahnya, lalu berteriak "apakah kamu menemukan kakak ku? apa yang terjadi dengannya?"
Dia terlihat berparas cantik, dan juga dia menangis sangat keras sehingga tidak ada yang mengaitkannya dengan pembunuhan yang baru saja dia lakukan, ketika polisi itu mendengar lagi kalau korban adalah kakaknya, sifat polisi yang mengasihani langsung muncul,polisi itu berkata dengan menunjuk ke sebuah tempat, "sekelompok rekanku sudah turun untuk mencarinya, tetapi tebing itu sangat tinggi dan curam.Nak, kamu harus siap secara mental ya?!"
Ketika Gabriel mendengar ini, dia terduduk di tanah dengan menekuk kedua kakinya. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya dan menelpon ayahnya untuk membantunya. Dia tidak berani mengatakan apa-apa karena dia takut ayahnya terburu-buru ketika sedang mengemudi.Kemudian, setelah membangkitkan suasana hatinya, dia menelpon Devan juga.
Di tempat lain,
Ketika Sherin pergi untuk mandi,Devan sedang membaca buku. Ketika dia melihat ada panggilan masuk dari Gabriel, dia tidak mau menjawab sama sekali hingga bunyi panggilan ke tiga dia masih tetap ragu untuk menjawabnya, begitu panggilan di jawab,
"Halo,Devan...?" suara tangis Gabriel terdengar dari ujung telpon selulernya itu.
Devan yang sedang duduk langsung bangkit dan berjalan ke ruang tamu.
"apa yang terjadi?" tanya Devan.Terlepas dari apakah dia menikahi Gabriel atau tidak, dia masih memiliki hubungan dengan wanita ini.
"Devan, aku...saudaraku Gary, mengalami kecelakaan"
Devan mengerutkan kening, saudara Gabriel, Gary? dia tidak memiliki banyak komunikasi dengan Gary, kepribadian Gary agak aneh menurut Devan. Terkadang dia ceria terkadang juga depresi, setiap kali Devan datang ke rumah Gabriel, dia selalu menemukan alasan untuk pergi menghindari Devan.Di tambah dengan kejadian di rumah sakit pagi ini, dia tidak begitu mengenal juga tidak terlalu suka dengan pria ini.
"apa yang terjadi?" Devan mengulangi
__ADS_1
Gabriel mendengus, "Devan, kakakku....kakakku, ibuku mendorongnya ke dasar tebing.Ibuku sudah di bawa oleh polisi, ayahku belum kembali.Aku sangat takut, kamu....bisa kah kamu datang untuk menemaniku?"
Devan mengerutkan kening, tetapi masih bisa menjawab " jangan panik dulu,aku akan segera datang" dia berusaha menenangkan Gabriel.
Telpon pun di tutup,memikirkan tentang hal ini, dia berbalik ke arah pintu kamar mandi, "Sherin,ada sesuatu yang harus aku lakukan, aku akan keluar dulu, kamu tidur lebih awal saja,ya?"
Devan tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Sherin karena dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya kepada Sherin dan takut kalau Sherin akan berpikir yang tidak tidak.
Sherin yang tengah mandi, dan suara kucuran air yang membuatnya tidak mendengar dengan jelas apa yang di katakan Devan tadi.
Ketika dia keluar, dia sudah tidak melihat sosok Devan lagi.
Ketika dia berjalan ke ruang tamu, dia mendengar ada ketukan di pintu, dia berpikir itu Devan, berlari kecil untuk membuka kan pintu, tetapi bukannya Devan dia malah melihat Yuta yang berdiri di luar pintu.
"ini malam tahun baru, bagaimana bisa kamu datang ke sini, bukannya menghabiskan malam tahun baru bersama dengan keluargamu?" Sherin langsung bertanya saja.
Yuta meletakkan tas makanan di tangannya di atas meja. begitu dia siap untuk menjawab Sherin, Simon keluar dari dalam kamarnya, "paman, bagaimana kamu bisa datang ke sini?"
"apakah kamu melihat kakak sepupumu tadi ketika kamu datang kemari?" meskipun Sherin berpikir tidak pantas bertanya kepada Yuta dengan cara ini, akhirnya Sherin tetap memberanikan diri bertanya pada Yuta.
Yuta melepaskan Simon dari pangkuannya dan menunjuk ke dahi Sherin, "katakan dulu padaku, apakah kalian berdua tinggal bersama?"
Sherin, "eee..." terdengar, tetapi dia tidak bisa melanjutkannya.
"aku bilang, apakah kamu ingin...."
Sebelum dia selesai berbicara lagi,ponsel Sherin berdering, menarik nafas,lalu menjawabnya, panggilan pun terhubung, "di mana saja kamu?" suara Sherin agak cemas.
"Yuta telah pergi ke tempat kamu!" Devan tidak bertanya,tapi dengan nada yang sangat pasti.
Yuta mengangkat alisnya dan berkata, "kakak sepupu, kamu jangan terlalu pelit, aku hanya ingin datang untuk makan malam bersama Sherin saja. apa yang membuat kamu marah? ini belum jadi iparku kok."
setelah mengatakan itu, dia lalu mengelus kepala Sherin dan berkata "Sherin, kamu katakan, aku benar tidak?"
__ADS_1
Sherin memelototi Yuta dan melambaikan tangannya, "jangan bicara omong kosong!"
Dada Devan bergemuruh dan dia memegang stir mobil dengan sangat erat. "suruh dia segera pergi setelah kalian selesai makan!"
Sherin hanya bergumam "hmm" samar-samar,lalu menutup telpon tanpa bertanya kemana dia pergi.
Duduk di sofa dengan Yuta, makan makanan ringan, mengobrol satu sama lain, matanya tiba-tiba tertuju ke depan TV.
Apakah dia tidak salah lihat? wanita di TV itu mirip sekali dengan Gabriel.
Dia meletakkan sumpitnya, berdiri dan berjalan mendekat ke depan TV, mengambil remote control dan menambah volume tv.
"Laporan terakhir, di sebuah distrik pinggir kota, ada sebuah kasus pembunuhan,menurut para saksi, ketika dia sedang mengemudi untuk pulang, melihat seorang wanita mendorong seorang pria ke dasar tebing, sekarang polisi telah mengirim orang untuk pencarian darurat....Tersangka dalam kasus pembunuhan ini telah di bawa ke kantor kepolisian untuk di selidiki lebih lanjut."
Dalam rekaman TV, Sherin melihat Gabriel tengah berjongkok di pinggir jalan, menggigil, Gabriel meletakkan tangan di kedua kakinya dan menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Sherin tidak bisa menhan perasaan ini, merasa tertekan juga ketika dia melihatnya.
"apakah itu benar kakak iparku? siapa dia yang jatuh?" Yuta yang sedang menatap TV dan secara spontan melihat pemandangan itu.
Melihat gambar di TV, gambarnya telah berubah menjadi dasar tebing.Tebing yang curam, bahkan jika korban itu bisa hidup, pasti terluka parah. Ah, memikirkan ini,tidak tahu apa yang sedang terjadi, Sherin merasakan sakit di hati, hidungnya masam, kesedihan dan rasa sakit yang tidak dapat di jelaskan sehingga dia tidak bisa tidak menutupi emosinya,memegang sofa dan terduduk.
'Perasaan ini,aku ingat beberapa tahun yang lalu' pikir Sherin.
Suatu waktu, ketika dia adalah seorang siswa tahun kedua di sekolah menengah atas, ketika dia berada di kelas pendidikan jasmani, itu sama.Dia merasa sakit dan ingin menangis tanpa alasan. Tetapi pada saat itu, tidak ada yang terjadi sama sekali.
"Sherin,ada apa denganmu?"
Terimakasih,
Mohon dukungannya like dan komen,
Love you all....
__ADS_1