
Sherin berpikir dia hanya sedang bercanda.Lagi pula daerah pelangi juga sangat jauh dari sini,dia baru saja keluar dari jalan dan kemudian memutar kepalanya ke kanan,dia benar-benar melihat Devan berdiri dekat sana dengan tangan di saku celananya.
Melihatnya keluar,dia datang ke arah dirinya.lalu dia berkata
"bukan kah kamu tadi bilang ingin melihat makam ibu kamu? bagaimana kamu kok bisa sampai di pusat kota ini?"
Beberapa hal, Sherin tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Devan, jadi dia sengaja hanya tertawa cengengesan dan menjawab "di sini, sebelum ibu aku meninggal,tempat kami tinggal bersama. Ketika sudah tiba di sini,aku ingin melihat-lihat, tapi mengapa kami bisa begitu cepat sampai di sini?"
Devan hanya bilang "hmm" tidak menjawab, dan tidak banyak bertanya lagi.
Setelah berjalan beberapa ratus meter, Sherin melihat sebuah mobil yang dia kenal sudah terparkir.
"kamu ingin makan apa? aku akan bawa kamu untuk makan sesuatu,lalu kita kembali pulang" Devan berkata.
"apa saja boleh"
"baik lah!"
"bagaimana kalau kita pergi ke sana dan makan hot pot? yang pedas itu?" Sherin sangat berantusias.Ketika dia melihat alis Devan naik turun,dia tidak bisa menahan tawanya.Bangsawan seperti Devan, Sherin tidak akan mempercayainya kalau dia akan benar-benar setuju untuk makan itu.
Hanya saja.....
Ketika mobil berhenti di pintu masuk restoran hot pot pedas level, Sherin tahu bahwa dirinya telah meremehkan pria ini.
Melihat wajah Sherin yang bengong, Devan membungkuk dan membantu melepaskan sabuk pengaman.Aroma tubuh Devan yang harum itu menerpa wajah Sherin.Tentu saja Sherin tidak bisa menahan diri dan menelan air liurnya, dia melihat bibir Devan bergerak naik membentuk sebuah senyuman.
Kemudian mendorong pintu mobil dan berjalan keluar. Devan merentangkan lengannya yang panjang, lalu menggenggam tangan Sherin, jantungnya terasa berdebar tidak karuan.
Devan begitu gagahnya,bahkan saat ini dia hanya mengenakan mantel hitam.Temperamen bawaannya sudah cukup untuk membuat orang memandangnya dua kali tak berkedip.
Sherin menunduk melihat penampilan dirinya sendiri, jaket hitam,celana jeans, sepatu bot yang berat....
Mata orang yang lewat menoleh ke arah mereka,dan terdengar lah segala macam bisikan.
__ADS_1
"wah,apakah matahari terbit dari barat hari ini? Tuan muda Devan benar-benar mengunjungi restoran kami" sebelum mereka masuk ke dalam restoran, sudah ada suara riuh dari dalam.
Kemudian seorang pria berseragam koki keluar dengan memegang sendok besar di tangannya dan topi koki di kepalanya yang bengkok ke satu sisi, tapi meskipun begitu,sulit untuk menyembunyikan martabat dan fitur ketampanannya.
'Dia dan Devan adalah kenalan dekat' ucap Sherin dalam hatinya merasa sangat yakin
Ketika mata pengunjung lain jatuh ke arah mereka yang sedang berjabat tangan,mereka juga membuat ekspresi menggoda, "CK...,CK,....jangan bilang kalian juga sedang shooting film!"
Devan menatap Sherin dengan mencibir lalu menunjuk dahi pria itu "namanya Hansen, koki di restoran jelek ini" dia memperkenalkannya kepada Sherin,
Kemudian dia menunjuk ke Sherin, " ini Sherin" dia juga memperkenalkan Sherin kepada koki itu
"heh,apaan koki di restoran jelek" Hansen melepas topi kokinya itu dari kepalanya,menyeka tangannya di pakaiannya dan mengulurkan tangan nya ke Sherin, "Nona,nama saya Hansen, dan saya di kenal sebagai raja masakan yang enak di sini" Hansen memperkenalkan diri kepada Sherin.
Suasana hati Sherin yang tertekan jauh lebih ringan karena candaan darinya. Sherin juga mengulurkan tangannya, tetapi meskipun tangan mereka belum bersentuhan,seseorang sudah menarik tangan Sherin dan pura-pura berkata "apakah kamu tidak lapar? ayo,jangan banyak bicara lagi dengan dia!"
Setelah itu dia berjalan ke atas tanpa menoleh ke belakang.
Pada saat ini,di kamar yang sangat elegan yang berada di lantai dua.
Gabriel dengan wajah tegang,berjalan melihat ke jendela.Dia menelpon Devan beberapa jam yang lalu untuk memintanya makam malam,dia bilang dia sibuk dan langsung mematikan telponnya.Tapi sekarang?
Gabriel sedang dalam suasana hati yang buruk,Jadi dia datang ke daerah Wol untuk bertemu dengan Mina temannya itu.
Tanpa di duga,ketika mereka tiba di sini,mereka malah ketemu lagi,hanya.....
Dia menggeser matanya kerap kiri,dan ketika dia melihat sosok yang sudah di kenalnya, pancaran matanya sangat dingin dan tangannya juga terkepal kuat.
Berani berbohong,katanya sibuk bekerja malah menemani wanita lain?
Gabriel mengamati mereka, tangan Devan di pinggang wanita itu,bagaimana keintiman mereka terlihat di depan umum,apakah sudah resmi bersama? di mana dia akan menempatkan tunangannya?
Jari-jari yang memanjang itu terkepal sangat erat, dan telapak tangan yang tertusuk kukunya dengan menyakitkan pun tak terasa.
__ADS_1
"tunangan kamu sepertinya sedang memegang pinggang seorang wanita,Gabriel...."
Sebelum Mina menyelesaikan kata-katanya,dia mendengar langkah kaki di belakangnya,dan perlahan-lahan pergi menjauh.
Dalam beberapa saat,wanita yang baru saja muncul tadi sudah berada di tangga.
Di sudut lantai pertama dan kedua,ada area besar ruangan yang terbuka,yang merupakan satu-satunya jalur keluar masuk berbagai kamar.
Devan sambil memeluk Sherin dan baru saja menginjak langkah tangga terakhir, tiba-tiba dia melihat Gabriel berdiri di hadapan mereka.
Sherin tidak pernah menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Gabriel di daerah Wol,belum lagi bahwa dia akan menghadapi Gabriel begitu cepat,malah pada saat dia bersama dengan Devan yang begitu terlihat intim.
Ketika dia melihat air mata Gabriel,berlinang di matanya.
Dia hampir merasa seperti ketahuan berselingkuh di tempat tidur, dengan rasa bersalah,mencela diri sendiri dan malu.
Sherin hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Gabriel.
Bahkan walau Devan sudah pernah mengatakan bahwa mereka akan mengakhiri pertunangan mereka,pada saat ini, wanita ini adalah masih tunangan Devan yang resmi.Dan Sherin tidak ada hak sama sekali.
Memikirkan ini, Sherin secara tidak sadar langsung melepaskan diri dari lengan Devan.
Devan melirik nya,dan tatapan matanya terlihat jelas gelap. Devan bahkan merasa lebih tertekan melihat kepanikan Sherin.
"Devan,kamu bilang kalau kamu sibuk dengan pekerjaan kamu, apakah kamu sibuk berkencan dengan wanita lain?" tanya Gabriel.
Sherin berpikir Gabriel akan menampar dirinya.
Bagaimana pun ini adalah situasi yang akan terjadi saat ini.
Tapi....
Gabriel tidak memandang dirinya dari awal sampai akhir sama sekali.
__ADS_1
Sherin membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia hanya menoleh dan menatap Devan.