
Sherin melihat kepada Devan yang berada di depan pintu dan berputar balik badan nya, berbicara dengan suara kecil
"anak kecil jangan sembarangan berbicara, aku dan papa kamu tidur di kamar yang berbeda." Sherin seakan merasa malu berbicara hal seperti ini di depan Devan.
Tiba-tiba, nada suara Simon menjadi lebih serius, "aku ada sesuatu yang ingin minta tolong kepada mama. Papa biasanya harus minum obat dulu sebelum tidur. kalau tidak, dia akan mimpi buruk walaupun dia sudah tidur terlelap.Aku ingin meminta kepada mama untuk memperhatikan papa! Boleh kah mama membangunkan papa jika papa mimpi buruk?" Simon berhenti sejenak dan melanjutkan "papa terlihat kesakitan ketika dia mimpi buruk..."
"iya!" Sherin teringat Mbok lili yang pernah menyuruhnya untuk mengantarkan obat untuk di berikan kepada Devan. Setelah beberapa menit, telpon antara Sherin dan Simon pun berakhir. Sherin mengembalikan ponsel Devan kepadanya dan berkata "Simon bilang, kamu akan mimpi buruk jika tidak minum obat sebelum tidur.Maaf ya, semuanya karena aku!" Sherin melihat ke lantai, seperti anak kecil yang telah berbuat salah.
Devan menatap kepada wanita yang berada di hadapannya dan menjadi semakin bingung. Dulu, wanita ini bisa berlutut kepadanya demi ingin menjaga Simon. Demi Simon,wanita ini rela bisa mengorbankan nyawanya, demi tidak menjadi beban Devan dan Simon, wanita ini juga bisa meninggalkan semuanya.
Devan mengira Sherin melakukan hal hal itu karena uang, tetapi jelas bukan. Sherin memiliki teknik rias yang sangat bagus, uang yang bisa dia dapatkan melalui pekerjaan itu jauh lebih besar dari pada menjadi pembantu di rumah Devan.
"Kalau kamu memang begitu berbakat, mengapa kamu lebih memilih ingin menjadi pembantu di rumahku?" Devan bertanya dan menatap ke arah Sherin. Sherin menatap balik dan menggeser kan rambutnya ke belakang telinganya. "semua orang mempunyai privasi dan kesukaan sendiri, aku benar-benar suka dengan anak kecil"
"cari lah seorang pria dan melahirkan anak dengannya!"
Sherin tidak tahu apa yang harus dia jawab. Devan benar-benar aneh malam ini. Sherin tidak ingin menghiraukan nya lagi dan kemudian berkata "selamat malam!" lalu Sherin masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Devan yang melihat Sherin berputar balik badannya, bersiap-siap untuk menutup pintu kamarnya.
Mungkin karena bibirnya agak sedikit kering, Sherin ******* bibirnya sendiri secara tidak sadar. Di bawah cahaya lampu yang kuning, dia memakai baju tidur yang berwarna putih, Sherin menundukkan kepalanya dan rambutnya terjatuh di depan dadanya.
Devan menatap Sherin baik-baik dan dia merasa wanita ini sangat lah cantik. Devan merasa cemas dan langsung menarik Sherin keluar dari kamar sebelum Sherin sempat menutup pintu. Devan memeluk pinggang Sherin, menunduk kan kepalanya dan mencium bibir Sherin. Sherin sangat terkejut, seakan-akan dia lupa untuk bernafas. Otak Sherin kosong, dia merasa lemas karena ciuman dari Devan. sebelum Sherin sempat bereaksi apa pun, Devan melepaskan nya dan menyentuh bibir Sherin yang ada sedikit bekas merah dengan ibu jarinya "lain kali jangan pernah tidak menghiraukan aku lagi!"
Sherin merasa jantung nya sudah akan melompat keluar dari tubuhnya, dia berharap bisa ada orang yang datang dan memukul dirinya hingga pingsan. apakah pria di depan nya ini benar-benar adalah devan? pria ini mencium dirinya dan menyuruh dirinya jangan tidak menghiraukan dia?
"De....Devan, apakah ka...kamu salah mengenal orang?" Sherin berusaha untuk menenangkan dirinya.ini adalah alasan satu-satunya yang bisa Sherin pikirkan sekarang.
Devan tidak berbicara sedikit pun dan dia malah menatap kepada Sherin. wanita ini memang....
"Devan, apakah kamu ingin berselingkuh?" Sherin juga tidak mengerti mengapa dirinya bisa mengatakan kata kata seperti itu.Melihat ekspresi Devan yang semakin menjadi gelap, Sherin melanjutkan "maaf. aku tidak memiliki keinginan untuk menjadi selingkuhan orang lain. tolong jaga perilaku kamu!" Setelah itu, Sherin berputar balik badannya dan masuk ke dalam kamarnya. Devan yang mendengar suara pintu terkunci, dan ekspresi nya menjadi semakin lebih jelek.
Ini adalah pertama kalinya Devan mengakui perasaan dia kepada wanita ini. Ini adalah pertama kalinya!
Sherin mendengar suara langkah kaki yang semakin menjauh, dia menarik rambutnya sendiri dengan kuat. Devan mencium dirinya dan melakukan banyak hal untuk dirinya hari ini. Devan menyukainya? tidak mungkin!
__ADS_1
Berpikir sampai tengah malam, Sherin baru bisa tertidur sampai pagi. Sherin melupakan hal yang di ucapkan oleh Simon. setelah bangun pagi, Sherin bergegas mandi dan merapikan dirinya. Melihat bayangan dirinya di cermin, Sherin terpikir kejadian semalam, lalu dia menyentuh bibirnya sendiri.
Kejadian semalam, benar-benar bukan mimpi?
("tok...tok...tok...")
Tiba-tiba ada suara ketukan dari luar pintu. "Nona Sherin, silahkan turun dan sarapan bersama! setelah itu kita akan kembali ke kota.Devan memiliki jadwal rapat pagi ini." Dylan berkata. Sherin menjawab Dylan dan mengikuti Dylan ke bawah sambil membawa kotak alat rias nya. kakinya yang terluka sudah merasa baikan setelah beristirahat semalam.
Di restoran hotel, Devan sedang mencicipi kopinya dan makan daging sapi dengan tenang. "Devan..." Sherin menyapa Devan dengan sopan. Sherin ingin bertanya kepada Devan, apakah dia tidur dengan tenang semalam? dia merasa bersalah telah melupakan hal yang di beritahu oleh Simon.
Tetapi Devan bertingkah seolah-olah dia tidak mendengar kata kata sherin, terus makan sarapannya tanpa menoleh ke Sherin . kejadian semalam, benar-benar hanyalah sebuah mimpi...
Sherin berputar balik badannya dan pergi mengambil sarapannya, dia makan di meja yang lain. Sherin memiliki sebuah kelebihan, mau seburuk apa pun suasananya, dia tetap bisa makan tanpa merasa tidak selera.
pada saat dia baru makan setengah dari sarapannya, Devan sudah menghabiskan makanannya dan berjalan keluar tanpa melihat kepada Sherin sekali pun.
Dylan mengikuti di belakang Devan dan melihat kedua nya dengan tidak berdaya. dia sambil berjalan dan berkata kepada Sherin "kamu makan saja. kita akan menunggu kamu di mobil!" Sherin menggigit roti yang ada di tangannya dengan kuat. masih bilang dia menyukainya? Sherin berpikir kalau dirinya memang lucu. Devan mana mungkin menyukai dirinya yang mempunyai penampilan dan sifat seperti itu.
__ADS_1
Suasana perjalanan pulang ke kota sangat lah sunyi. Sherin mendengar dari Dylan bahwa di papan kayu sebelum jalan masuk hutan benar-benar ada tertulis kata 'bahaya, di larang masuk!' tetapi dia melihat benar-benar ada kata tertulis 'pelabuhan ferry di arah timur juga.