
Devan memang tidak tertarik mengikuti pembicaraan para wanita,maka dari itu dia tidak ada tindakan maupun respon apapun,malah Simon yang melototi Gabriel, dari wajahnya terlihat jelas meremehkan wanita itu,Pura\-pura!
"Devan,para tamu sudah hadir semua,mereka bertanya apakah kita sudah siap untuk masuk?" tanya Dylan kepada Devan,yang masuk ke ruangan itu
Devan meletakan buku yang di pegangnya dan menghampiri Gabriel,lalu membungkuk setengah badannya dan menatap Gabriel."sangat cantik",dia menyanjung wanita itu dengan suara lemah lembut,suara lembut itu membuat para wanita yang mendengarnya seakan melayang,di dunia ini jarang sekali ada laki laki yang sempurna seperti ini.
Jelas saja Gabriel sangat senang mendengar sanjungan dari Devan itu,keluar senyuman di wajahnya,saat ini semua make-up artis sedang membereskan peralatan mereka,lalu semuanya berjajar berdiri di satu sisi dan penanggung jawab mereka pun dengan sangat hormat berkata:"Devan semua sudah selesai,"
Tidak seperti sebelumnya dengan suara lemah lembut,saat ini Devan hanya menjawab."okey!" dengan nada yang dingin,kemudian menuntun tangan Gabriel dan berkata."ayo kita jalan!"
Kemudian segerombolan orang yang mengiringi mereka berdua berjalan keluar ke arah pintu.
Dylan juga menuntun Simon dan berkata."ayo jalan,anak kecil!"
Simon menghempaskan tangannya dari tuntunan itu,dan kembali duduk di kursi,melihat ke arah pintu,tidak bergerak sama sekali.
"apa yang kamu lakukan?" tanya Dylan dengan wajah sedikit berubah karena perasaan tidak senang melintas di hatinya.
"aku mau menunggu mama,kalian pergi duluan saja!" jawab Simon.
"mama?"
Orang-orang mulai berbisik-bisik memperbincangkan hal ini,wajah Gabriel dengan perasaan yang tidak bisa tersenyum lagi itu menatap Simon,tapi tetap dengan suara lemah lembut brkata."Simon,siapa itu mama kamu?" dia yang akan menjdi mama tirinya saja belum masuk ke rumah mereka,dari mana bisa ada satu lagi mama? terpikir olehnya Sherin yang sedang pergi itu,jari tangannya pun menggenggam masuk ke telapak tangannya.,bisa-bisanya seorang pengasuh di panggil dengan sebutan mama? hmphh!"
Namun di wajah nya tetap tidak terlihat apapun.
"mama....mama angkat..."jelas Simon kepada Gabriel dengan senyuman sandiwaranya,di lihat dari keseluruhan dirinya sepertinya tidak ada masalah,namun raut wajah wanita itu menjadi lebih suram lagi.
Bertahun-tahun dia berusaha mendekati dan baik terhadap anak ini,namun Simon tidak pernah memberinya balasan yang baik.pengasuh itu baru datang berapa lama,bisa-biaanya dia memanggil wanita itu mama....
Hatinya tertanam perasaan dendam,setelah mereka menikah dan masuk ke rumah Devan,hal pertama yang akan di lakukannya adalah membuat anak cilik yang berengsek ini keluar dari rumah itu.
"kita pergi dulu saja,kamu tinggal dulu di sini menemani Simon." ujar Devan sambil melototi Simon dan menarik Gabriel untuk pergi,sekaligus berpesan kepada Dylan untuk tetap tinggal dulu di sana.
__ADS_1
Tapi,Devan tidak berkomentar dan membuat penjelasan sama sekali membuat orang-orang mulai berbisik-bisik kembali,mereka penasaran dengan orang yang di panggil mama oleh Simon tadi.
Ketika Sherin kembali,di ruangan itu hanya ada Simon dan Dylan.kemudian dia menyerahkan sepatu yang ada di tangannya kepada Dylan sambil berkata."ini punya Gabriel."
Dahi Dylan pun mengerut menjadi satu ketika menyoroti penampilan Sherin dari atas ke bawah,hari ini adalah hari yang spesial,di tempat yang begitu ramai,dia masih saja memakai baju yang biasanya dia pakai,kemeja putih dengan rompi abu kebiruan itu serta celana jeans yang sudah pudar.
Wanita yang usia 27-28 tahun,belum menikah,bisa hadir di acara besar seperti ini,walaupun hanya seorang pengasuh,bukannya seharusnya bisa merias diri secantik mungkin? setidaknya,cerita Cinderella juga bukan tidak pernah ada.
Tapi....wanita ini...
"Sherin,aku bawa Simon ke ruang acara dulu ya,kamu...."ujar Dylan.Sherin tentu saja mengerti bahwa dia hanya lah seorang pengasuh,tidak pantas untuk berada di tempat itu,Sherin sebenarnya juga tidak keberatan,dia melepaskan Simon lalu berkata."kamu pergi dulu ke sana,kalau acara sudah selesai baru cari aku lagi,aku akan menunggu mu di Hall belakang!"
Setelah berpesan dia pun membelokkan badannya dan berjalan menuju Hall belakang,di sana ada pelayan hotel dan petugas acara,di sini baru merupakan tempat yang semestinya dia berada.
Di mata Simon terlintas perasaan yang sedih,namun berakhir dia juga tidak berkata apa-apa,memasukan tangannya ke dalam kantong,memegang erat barang di dalam kantong itu,dia sudah memutuskan.
Karena ini hanya pesta pertunangan,jadi tidak semeriah acara pernikahan,setelah menerima beberapa wawancara dari media dan menerima ucapan selamat dari para tamu,acara pun di lanjutkan dengan acara tos wine.
Andrew yang dari tadi mencari-cari di semua tempat di ruangan itu tidak juga menemukan Sherin,hatinya mulai sedikit gelisah,jelas-jelas tadi dia melihatnya di hotel ini.
Dari kecil sampai besar,dia adalah wanita yang di manja oleh semua orang.Laki laki di sekelilingnya yang mana tidak suka padanya.
Hanya Andrew saja yang selalu biasa-biasa saja terhadapnya.
Andrew menunduk melihatnya sebentar,sedikit kesal dan menarik untuk melonggarkan dasi di lehernya.
"kamu pergi ke sana ambil minum dulu sebentar,aku akan pergi ke toilet."
Setelah menjawab,dia juga tidak peduli apa respon Mina,kaki ramping itu segera melangkah ke arah belakang menuju ke Hall belakang.
Ternyata benar sekali,di satu pojok terlihat Sherin yang sedang melihat handphone.
Hatinya sangat gembira
__ADS_1
"Sherin.." sapa Andrew
Mendengar suara itu,jelas terlihat tubuhnya tersentak sekejap,
perlahan dia mengangkat kepalanya melihat Andrew,lalu melebarkan bibirnya untuk tersenyum dan menyahut."Andrew."
Hall belakang adalah tempat dimana *orang bawahan*berada.
Jarang sekali bisa melihat orang dari depan masuk kesana,
makanya kedatangan Andrew ke sana membuat semua mata orang-orang di sana menuju padanya.
Sherin mengerutkan dahi sambil berkata dengan nada suara yang datar dan asing."umm....kamu ada apa mencari aku?"
Tentu saja Andrew merasakan semua itu,dia spontan menarik tangan Sherin dan membawanya pergi keluar,lalu setelah menemukan sebuah ruangan kosong,dia membawa Sherin ke ruangan itu dan menutup pintu.
"apa yang kamu inginkan?" tanya Sherin lalu dengan sekuat tenaga dia menghempaskan tangannya dari tangan laki laki itu.
"aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu,papa ku yang mengatur dia untukku." jelas Andrew buru-buru.
Sherin merapatkan bibirnya,Andrew bisa menjelaskannya ini kepadanya membuat harga dirinya yang kasihan itu menjadi jauh lebih lega.
"kamu tidak perlu menjelaskannya kepadaku!"
Sebenarnya,di hati Sherin benar-benar mengerti,walaupun Andrew tetap seperti biasa baik terhadapnya,mereka berdua pasti tidak mungkin untuk bersama.
Dia sudah ada Simon,walaupun dengan cara yang bagaimana dia mendapatkan anak ini,tapi tetap saja dia sudah pernah melahirkan,ini adalah kenyataan yang tidak bisa di bantah lagi,
oleh karenanya mereka sudah di takdirkan, tidak mungkin ada hasil,jangankan kalangan atas seperti mereka,bahkan di keluarga biasa pun,dia yang sudah pernah melahirkan seorang anak ini saja sulit untuk di terima.
Maka terhadap Andrew,dari awal dia juga hanya bisa memilihnya menjadi teman.
Berpikir sampai di sini,raut wajahnya menjadi tidak berharapan lagi,awalnya saat menerima pilihan dari ibunya,dia tidak mengerti,kata-kata yang keluar dari bibir ibunya;perlu membayarnya seumur hidup,artinya apa?,saat ini,dia sepertinya sudah mengerti.
__ADS_1
Jelas sekali,prilaku Sherin yang cuek terhadapnya,merangsang Andrew.Dia langsung menariknya ke dalam pelukannya lalu menundukkan kepalanya,dan menciumnya.