
Seorang pria yang begitu angkuh dan berkuasa seperti Devan malah rela berbuat sampai seperti ini demi dirinya.
"aku mendengar apa yang waktu itu kamu dan Simon bicarakan" Devan menarik Clover dan memberikan satu ciuman di dahinya."kamu juga harus ingat, percaya padaku, aku tidak akan pernah mengecewakanmu"
Clover tertegun, pembicaraannya dengan Simon? pada saat mereka jalan-jalan ke mall waktu itu? tiba-tiba dia menyadarinya, dia menatap Devan dan merasa sedikit bersemangat, "kamu....pada saat itu kamu...."
Devan membantunya untuk berdiri dan menariknya masuk ke dalam pelukannya, "iya, pada saat itu aku sudah mulai menyukaimu"
Clover menggigit bibirnya, hatinya merasa sangat bahagia.
Pria ini benar-benar sudah membuat hatinya sangat sangat terharu.
Dia pasti merasa karena saat ini masih ada Gabriel, jadi dia hanya bisa menggunakan cara lain untuk membuktikan cintanya kepadanya.
Dia merasa sangat bahagia, bagi dia, cara seperti ini jauh lebih terharu daripada mengadakan upacara dan pesta pernikahan yang seperti kebanyakan orang lain lakukan.
"sudah lah, kekasihku, bukan kah ini sudah waktunya memberikanku jawaban, apakah kamu bersedia untuk membiarkanku menjagamu seumur hidupku?"
Clover menganggukkan kepalanya, terus mengangguk tanpa henti disertai dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
Selanjutnya mereka berdua duduk sangat lama di depan makan ibu Clover sambil berpelukan, sampai matahari mulai terbenam, baru lah Devan menggandeng tangan Clover "ayo jalan, aku akan membawa kamu untuk makanan sesuatu"
Clover menganggukkan kepalanya, saat dalam perjalanan menuju kemari mereka hanya memakan sedikit roti, sekarang perutnya memang sudah sedikit lapar.
Saat mereka sudah berada di luar area pemakaman, dari jauh mereka sudah melihat Dylan.
Saat Dylan berjalan mendekat, Devan meliriknya dan berkata, "kenapa kamu datang kemari? apa ada masalah?"
Clover melihat Dylan, dia tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Dylan, "Terima kasih beberapa tahun ini sudah menemani Devan, menggantikan aku untuk menjaganya "
Karena waktu itu Dylan pernah marah kepadanya di kantor, jadi Dylan merasa sedikit malu, melihat dia berinisiatif menyapanya, Dylan segera mengulurkan tangan kirinya secara reflek, hanya saja saat seorang pria menatapnya dengan tatapan mengerikan, Dylan segera menarik tangannya kembali.
Dylan menatap Clover sekilas, dia seketika terlihat sulit untuk membuka mulutnya.
Clover menyadarinya, maka dia ingin melepaskan lengan Devan, tetapi Devan malah menahannya dan berkata kepada Dylan, "bilang saja!"
"aku sudah menelpon mu tapi kamu tidak menjawabnya, Gabriel masuk rumah sakit lagi"
Gabriel masuk rumah sakit lagi? Clover tidak mengerti, dia menoleh dan mendongak menatap Dylan.
__ADS_1
"apa hanya karena itu sehingga membuatmu jauh-jauh datang kemari?" ekspresi Devan sangat tenang, tidak terlihat terguncang sedikit pun.
Seketika, Dylan tidak tahu harus berkata apa lagi.
Benar juga, kenapa dia bisa lupa, saat ini wajah asli Gabriel sudah di ketahui oleh Devan, jangankan masuk rumah sakit, bahkan meskipun Gabriel mengalami kecelakaan sekali lagi, Devan juga tidak akan peduli padanya bukan?
"kenapa dia bisa masuk rumah sakit?"
Mereka bertiga masuk ke mobil, Dylan yang mengendarai mobilnya.
Clover dan Devan duduk di kursi bagian belakang.
"efek samping kecelakaan yang waktu itu, di sini Kadang-kadang sepertinya ada sedikit masalah, dokter bilang dia sedikit mengidap skizofrenia" Devan menunjuk otaknya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....