
Melihat Devan menatap fokus pada dirinya, dan tidak berkata, Clover menggunakan dokumen di tangannya membanting di mejanya. "presdir Devan, apakah menurutmu sikap seperti itu baik terhadap pekerjaan?"
Sekretaris yang baru saja masuk membawa dua cangkir kopi, ketika mendengar perkataan ini, kedua tangannya bergetar, dia tidak tahan mengangkat kepala melihat wanita di depannya ini.
Dia memeng cantik, tapi dia berani berani berbicara seperti itu kepada presdir Devan, dia adalah orang pertama yang berani melakukannya.
"Nona Clover, sikapmu seperti ini cocok untuk membicarakan kerja sama?"
Sekretaris itu memastikan dalam hatinya, benar, inilah presdir Devan, tidak membungkukkan badannya demi kecantikan.
"kamu keluar dulu!" Devan melambaikan tangannya pada sekretaris itu.
"iya, presdir"
Menunggu sosok punggung wanita itu menghilang kemudian, kedua tangan Clover meletakkan di atas meja. "Devan, sekretaris kamu itu semuanya menyegarkan mata, kamu setiap hari melihat mereka datang ke sini?"
Devan menjilat bibirnya, wajahnya yang tampan,bibirnya yang tipis terangkat, dia berdiri dan berjalan ke samping Clover,memeluk pinggangnya dari belakang, kepalanya bersandar di bahu kanan Clover dan mengelus, "aku sangat rindu padamu"
Clover mengerutkan alis, apakah pria ini pandai bermain peran? tadinya masih dingin bagai salju, sekarang malah tidak tahu malu.
Dia pun mendorongnya, "tandatangan kontraknya dulu!"
Devan ulang menariknya ke dalam pelukan,bibirnya menekan ke bawah, dan telapak tangannya mulai berjalan menyentuh tubuhnya.
Clover berusaha ingin melepaskannya, "Devan, apa kamu sudah gila? ini masih di kantor"
Selesai berkata, dia merapikan rambut dan pakaiannya.
__ADS_1
Tetapi devan menekan lagi ke arahnya,
"aku tidak peduli"
"kamu..."
"kita makan siang bareng, kalau tidak, kontraknya tidak perlu di bicarakan"
"apa kamu serius? tidak apa-apa, kalau begitu aku hanya bisa kembali sore hari" lalu dia mengambil tas di sofa dan akan pergi.
"aku, Devan berbisnis dengan orang lain, tidak pernah takut akan ancaman" dia berbicara dengan serius, tetapi tangannya tidak berhenti menyentuh Clover.
"namun, berbisnis dengan kekasih hati aku takut akan ancaman" tidak menunggu Clover menjawab, dia langsung menambahkan.
Kekasih hati? pertama kali Clover mendengar kata ini, hati Clover tiba-tiba berdebar kencang, wajahnya memerah dan sedikit merasa malu.
Dia berpikir dan membalikkan badannya, merangkul leher Devan lalu menciumnya, "sikapmu bagus, kalau begitu aku akan menunggumu di cafe di sebrang jalan, setelah pulang kerja kamu datang mencari ku?"
"dong....dong...." terdengar suara ketikan pintu ...
Clover secara otomatis lepas dari pelukan Devan.
Pada saat ini, pintu di dorong, dan yang masuk itu adalah Gabriel.
Hati Clover sedikit terkejut, ada gelombang kemarahan yang muncul. Namun, di sini, wajahnya tanpa memiliki perubahan mengangkat sudut bibirnya. Dia melihat pada Devan dan berkata, "presdir Devan, kamu kedatangan TAMU?kalau begitu, saya akan pergi dulu." dia sengaja menekan kata tamu.
Berakting? siapa yang tidak bisa? di masa lalu dia tidak ingin dan tidak suka, sekarang, dia merasa sesekali berakting, bagus juga untuk mengembangkan temperamen seseorang.
__ADS_1
Gabriel secara alami juga melihatnya, tidak seperti ketenangannya, raut wajah Gabriel menjadi jelek. Hanya melihatnya berjalan melewati meja ke sisi Devan,merangkul lengan Devan dan bibir merahnya bergerak, berpura-pura tenang dan berkata, "Devan, siapa ini?"
Devan melihat ke samping, membalikkan badannya dan menarik lengan nya dari rangkulan gabriel.
Ketika tangannya terlepas, tatapan Gabriel menjadi suram,tangannya mengepal, dan kukunya yang tajam hampir menusuk masuk ke dalam kulit telapak tangannya. Wanita sialan ini tidak cukup untuk berhubungan di luar negeri, sampai ikut datang ke dalam negeri juga....
Devan menjawab dengan tenang, "klien, datang untuk menandatangani kontrak, apa kamu datang ke sini memiliki urusan?"
.
.
.
Bersambung....
Mohon maaf bila tulisan dan bahasanya kurang di mengertiπ
.
.
.
Mohon dukungannya like dan komen......
Terimakasih....
__ADS_1
Love you all
ππππ