
"Direktur Devan, pinggangmu tidak sehat! hahaha....."
Hari-hari seperti itu berjalan selama setengah bulan lagi.
Clover tidak membahas tentang masalah pindah kembali ke dalam negeri, Devan juga tidak berkata tentang itu.
Sampai....
"direktur Clover, ini adalah rancangan kerja sama yang di kirimkan oleh beberapa perusahaan dari dalam negeri, silahkan melihatnya!"
Clover merasa aneh dan langsung mengambil dokumen itu dari tangan Wuli.
"apa yang terjadi?" meskipun Clover ada ingin memberi tahu keinginan dia untuk bekerja sama dengan beberapa perusahaan pada saat menghadiri acara kemarin, tetapi perusahaan-perusahaan itu memberikan Clover jawaban yang tidak pasti, meskipun CX lumayan terkenal di luar negeri, tidak banyak yang tahu tentang CX di dalam negeri, Clover tidak berharap lagi, selain itu, masalah yang harus dia urus pada saat kembali ke dalam negeri sangat banyak, jadi Clover tidak mengurus tentang kerja sama dalam negeri lagi.
Nama perusahaan yang tertera di atas adalah perusahaan yang Clover ajak untuk bekerja sama kemarin.
Clover merasa semakin kaget ketika dia membaca dokumen.
Jangka waktu bekerja sama Rata-rata adalah 3-5 tahun, keuntungan yang di janjikan oleh mereka juga sangat bagus.
Clover mengerutkan alisnya dan langsung teringat dengan Devan, dia mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan sebuah foto kepada Devan.
"apa semua ini adalah hasil perbuatan kamu ?"
__ADS_1
Devan membalasnya dengan cepat.
"aku hanya sekedar membahas tentang itu, mereka sendiri yang membuat keputusan."
Clover mengerutkan alisnya, hanya sekadar di bahas oleh direktur Devan, mana mungkin orang itu berani tidak membuat keputusan?
"aku sudah kangen kamu?"
"jadi, pulang saja, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak pada saat malam hari"
Devan mengirim dua pesan itu secara bersamaan, rasa sedih yang di rasakan Clover pada waktu yang lama tiba-tiba menghilang, ternyata, Devan bukan tidak ingin Clover pulang, Devan hanya sedang membangun jalan untuk Clover.
Clover memegang ponselnya dan mengetik beberapa kalimat di ponselnya, setelah berpikir kembali, Clover menghapus kata-kata yang di ketiknya, lalu membalas, "baiklah, tunggu aku!"
Meletakkan ponselnya, Clover mengerutkan alisnya dan merasa sedikit risau ketika mengingat Gary.
Karena hatinya memiliki masalah, Clover tidak bisa bekerja dengan fokus, kebetulan masalah kantor tidak terlalu banyak pada sore hari ini, jadi Clover lebih awal pulang ke rumah.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Clover sudah mendengar suara tawa Momo dan kemarahan Simon.Kedua suara itu seperti adalah instrumen utama rumah mereka.
Clover membuka pintu dan masuk.
"ma, kenapa kamu pulang begitu awal?" Momo melihat Clover dahulu.
__ADS_1
Ekspresi Simon tidak begitu jelas, "ma...."
"Momo, apa kamu nakal lagi? mama bahkan sudah mendengar kakakmu memarahi kamu pada saat di luar pintu" sambil berkata, Clover berlalu ke kamar mandi dan cuci tangan.
Pada saat keluar, Clover melihat Momo menundukkan kepalanya dan berdiri sebelahan dengan Simon.
"kenapa?"
"ma, kamu lihat hasil tingkah laku Momo!" Simon menunjuk ke arah kanannya.
Clover menoleh ke arah kanan dan melihat wajah Gary yang di gambar dengan pensil warna hitam dan merah. Gary yang menyadari Clover yang tengah menatap dirinya menundukkan kepalanya dengan malu.
Clover menutup mulutnya dan berusaha untuk menahan tawanya, ekspresinya menjadi dingin ketika dia menatap Momo, "Momo, mengapa kamu sembarang menggambar di wajah paman?"
Momo mengembangkan pipinya, "paman tidak bilang tidak boleh menggambar di wajahnya"
Clover menjitak pelan kepala Momo "kamu hanya tahu mengganggu pamanmu" sambil berkata, Clover berjalan ke kamar mandi dan membasahi handuk sebelum berjalan ke sisi sofa dan siap-siap untuk membersihkan wajah Gary.
Handuk yang berada di tangan Clover langsung di ambil oleh Gary,
"aku sendiri bisa"
Clover terdiam sejenak sebelum menurunkan tangannya yang berada di tengah udara dengan perlahan.
__ADS_1
.
Bersambung.....