
Ruangannya sunyi sesaat, tiba\-tiba Devan mendekatinya, lalu berkata dengan rendah di telinga Clover, "pergi!"
Satu kata sederhana tanpa emosi itu lagi.
Clover tersenyum penuh arti, lalu berbalik untuk berjalan keluar.
Setelah itu, pintu terbanting dan menutup di belakangnya.
Clover tidak bisa menahan diri untuk menoleh, di matanya terlihat begitu banyak *****.
Dia berbalik dan berjalan ke tempat pesta pernikahan sedang berlangsung.
Kemudian, sesosok kecil keluar dari sudut ruangan.
Wajahnya terlihat penuh dengan amarah.
'si penghianat itu benar-benar sangat jahat kepada mama, tetapi mama itu malah masih dengan bodohnya tersenyum kepadanya'
....
__ADS_1
Selanjutnya, di tempat pesta pernikahan, Clover hampir sepanjang waktu hanya bersembunyi di sudut ruangan untuk bisa menatap Devan, melihat setiap gerakannya, tidak bisa tidak terpengaruh olehnya, jelas dia tahu ,dirinya itu sangat lah bodoh, tetapi dia merasa tidak rela mengalihkan pandangannya, dia takut, tidak tahu kapan bisa bertemu lagi dengannya setelah ini.
Jadi dia hampir menatapnya dengan tatapan rakus, sedangkan Devan tetap menjadi pusat perhatian semua orang di sana.
Melihat begitu banyak wanita yang berusaha mendekatinya dengan motif tersembunyi, Clover tersenyum, matanya terlihat senang, tetapi juga merasa sedih.
Hidup ini masih begitu panjang, Devan, setelah tidak ada Sherin, apa kamu berencana seumur hidup seperti ini?
"kak Clover,bagaimana kalau kakak dan kak Devan melakukan one night stand? lagi pula, kalian tidak sedang dalam negeri, kakak iparku juga tidak tahu, setidaknya bisa melepaskan kerinduan kan?" Amy mengangkat gaun pengantin nya yang panjang, dan berjalan ke samping Clover, melihat dia sedang melamun, Amy berusaha menggodanya.
Clover tahu kalau Amy pasti menyadari dirinya yang terus memperhatikan Devan, sehingga wajahnya pun menjadi memerah. dia berbalik dan memelototinya, lalu berkata, "kakak sepupumu itu, di dalam hatinya hanya ada Sherin, meskipun aku bersedia melakukan one night stand dengannya, dia tidak akan mau denganku,"
Selesai berbicara, dia mendengus dengan dingin,tidak tahu perasan apa yang di rasakan nya saat ini.
Sama sekali tidak bahagia? Clover sendiri pun kapan pernah merasa bahagia? Devan tidak bisa melupakannya, kapan dirinya juga bisa melupakan Devan?
Tapi di dunia ini selain cinta, bukan kah ada yang masih di namakan moralitas?
Gabriel menjadi seperti itu,bagaimana mungkin mereka bisa dengan egoisnya bahagia bersama?
__ADS_1
Di dalam kamar yang lain....
"apakah sudah mendapatkan sesuatu?"
"Devan, bukan kah satu tahun yang lalu sudah pernah di selidiki? kenapa sekarang harus di selidiki lagi?" Dylan bertanya dengan bingung.
Devan menatap ponselnya yang menampilkan poto Clover,dia tersenyum dengan dingin, wanita itu memberikannya sebuah perasaan yang tidak asing, membuat dia lebih dari sekali melamun karenanya.
Hari ini saat dia berkata kalau dia memang kekurangan laki-laki, tatapan matanya jelas terlihat seperti sedang menantikan sesuatu. Membuat dirinya tanpa di duga bereaksi, pengendalian dirinya dari dulu selalu kuat, dia tidak memiliki alasan untuk memiliki perasaan pada wanita yang hanya ditemuinya beberapa kali.
"beri tahu hasilnya saja!" Devan mendesaknya dengan dingin.
"hasil apa? tidak ada yang aneh. Devan, Sherin sudah meninggal. Kamu dan aku sudah melihat nya di kremasi, terima kenyataan ini, oke? apa kamu masih ingat kejadian di jalan saat itu, wanita yang salah paham karena mengira kamu menyukainya? terus wanita penari yang di karaoke yang berusaha menjadi wanita yang kamu sukai....terus...." beberapa tahun ini Devan selalu merasa kalau semua wanita terlihat mirip dengan Sherin.Tidak tahu sudah berapa kali terjadi salah paham yang seperti ini.
.
Bersambung....
.
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungannya.
Like ada Komen......