Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Jangan Pernah Melebihi Batas!


__ADS_3

 


Suaranya seakan\-akan tenggelam di tarik kembali dari gairah ke kenyataan,Sherin mendorong nya menjauh,terengah\-engah dan mengulurkan tangannya untuk menghalangi bibir tipis yang di tekannya.


 


"itu,bukannya kamu ingin keluar untuk berjalan jalan, aku....aku akan pergi membereskan kamar terlebih dahulu" setelah berkata, di dalam lorong yang sepi itu, Sherin mendorong Devan lagi,berbalik dan berlari ke kamar.


Meskipun cara Gabriel dalam menangani masalah membuatnya sangat marah,tetapi pada saat ini dia adalah tunangan Devan, Sherin juga tidak ingin memiliki hubungan yang lebih dalam dengan Devan,maka dia memberikan dirinya sendiri sebuah batasan.


Dia tidak peduli dengan bagaimana orang luar berpikir tentang dirinya.


Lagi pula,hidup di masa sekarang,kamu mungkin bisa memiliki ratusan versi dirimu di mata ratusan orang, satu hal di matamu juga akan memiliki pendapat yang berbeda di mata orang yang berbeda.


Sherin tidak bisa mengendalikan orang lain,tetapi dia merasa bahwa asalkan semua perbuatan yang di lakukan itu tidak salah, dia juga selalu percaya bahwa, seiring berjalannya waktu dia akan mengetahui sifat orang tersebut.

__ADS_1


Devan menundukkan kepala,dan menyapu rambutnya ke belakang dengan satu tangan,merapatkan bibir tipisnya, dan menghela nafas dengan berat, perasaan dia terhadap wanita tidak begitu kuat, dia teringat dengan kata-kata Dylan, pada saat ini,dia sangat menyia-nyia kan waktu seorang pria yang paling berharga.


Dan dari awal dia sudah bilang bahwa begini lah sifat aslinya.


Tetapi,sangat jelas bahwa setelah dia bersama dengan Sherin, dia berpikir seperti ini;hampir tidak perlu Sherin menggoda terlalu banyak,perasaannya sudah tidak tertekan.


Ketika Dylan membawa Simon kemari, dia masuk dan melihat Devan yang sedang minum air es. Cuaca begitu dingin,tapi minum air es? dia tidak habis pikir, lalu memalingkan wajah. Devan menatap Dylan,kemudian berbalik badan dan berjalan ke ruang tamu.


"Simon,kamu pergi ke kamar tidur temui mama saja!" setelah berkata kepada Simon, Dylan pergi duduk di sebelah Devan, dan menatap Devan sambil tersenyum.


Ketika dia sedang berbicara,tubuhnya menyamping dan bersandar di dinding, dan senyuman Dylan semakin melebar.


"hei, melihat kamu seperti ini, apakah sampai sekarang kamu masih belum mengusap bibirmu?"


Dylan tersenyum dan melihat ke bawah, Devan meraba wajahnya,lalu segera menarik kembali tangannya, dia mengambil buku yang ada di sebelahnya dan mengalihkan pandangannya,kemudian berkata dengan dingin, "jangan pernah membandingkan aku dengan kamu!"

__ADS_1


Dulu,saat masih muda, Devan mengira bahwa melakukan hal seperti itu dengan siapa pun rasanya akan sama saja.


Saat ini,setelah memahami tentang percintaan, dia baru mengerti bahwa jika tidak ada cinta sebagai dasar,maka melakukan hal itu juga tidak beda jauh dengan binatang.


Dylan tidak akan begitu mudahnya membiarkan Devan pergi, dia mengambil ponselnya,Jari-jari ramping itu dengan cepat membalik ponsel, dan meletakkan ponselnya di atas buku Devan, dan berkata "sudah lepaskan dia?"


Tatapan Devan tertuju pada gambar dirinya yang ada di ponsel itu, kemudian mengambil ponselnya dan melemparkan ke sofa, "tidak usah mengejek ku, percaya lah, kamu sendiri pasti akan mengalami hari seperti itu juga, aku akan menunggu hari itu tiba"


Dylan mengangkat bahu, dan dengan bingung menatap Devan, mengambil ponselnya lalu berdiri "aku? mungkin di kehidupan selanjutnya," Dylan menjawabnya dengan santai, kemudian mengambil pisang dan mengupas kulitnya.


"oh ya? aku pikir, kamu sudah tekad untuk menjadi adik ipar ku"


ucap Devan sambil mengambil pisang di tangan Dylan, terdiam lama, kemudian Devan tertawa dingin.


Setelah beberapa saat kemudian, dan setelah dia menghabiskan sebuah pisang itu, Dylan berkata dengan menyindir, "bagaimana mungkin dia masih bisa kembali?"

__ADS_1


__ADS_2