
Sesampainya di rumah...
Ruang kerja
Punggung Felice menyangga ke meja,melihat Devan yang tengah berdiri di sisi jendela, dia mengetuk-ngetuk meja dengan sudut buku, "katakan lah,kenapa pengantin wanitanya ganti orang!"
Devan mengetik rokok di tangannya, diam dalam waktu lama, baru lah memutar kepalanya untuk melihat Felice,
"ganti orang? bukan kah dari awal memang dia?"
Felice mengerutkan kening, "mana Sherin itu? Devan,kamu sudah mencintainya, aku bisa melihat..."
"sudah meninggal!"
"sudah meninggal?" Felice terkejut tak bisa merespon.
Tok tok tok... suara pintu di ketuk dan di dorong terbuka, Gabriel berjalan masuk dengan membawa nampan berisi secangkir air teh, "tante, Devan pernah bilang, kamu suka minum teh pochi, aku buatkan secangkir teh pochi untuk mu"
Pandangan Devan jatuh ke cangkir yang di letakkan di atas meja, "kalian ngobrol saja, aku akan pergi ke perusahaan dulu!"
Saat keluar, melihat ayah dan ibunya sedang duduk di sofa,dan berbicara dengan Simon, dia juga tidak menyapa,langsung saja keluar....
Setelah Devan pergi,Felice membawa teh yang di buatkan oleh Gabriel ke lantai bawah.
__ADS_1
Gabriel mungkin juga merasakan,kalau Felice tidak ingin akrab dengannya, dengan pintar dia mengatakan pada ayahnya Devan dan juga ibunya Devan,perusahaannya sedang ada urusan,jadi dia pun juga ikut keluar dengan Devan.
"Felice,apakah kamu merasa, Devan kali ini,sepertinya banyak berubah"
Pandangan Felice langsung menatap ke pintu, dia teringat pemandangan saat Devan dan Sherin datang ke rumahnya untuk mencari dirinya.
"kak,mungkin putramu mengalami masalah yang tidak bisa di lewati nya" selesai berkata, dia mencicipi teh...
Kali ini Devan menyuruh mereka pulang untuk menghadiri acara pernikahannya, beberapa tetua juga tidak bertanya banyak tentang detailnya.
Ayah dan ibunya Devan mengira pasangannya adalah Gabriel, jadi mereka tidak merasa kaget,sedangkan Felice mengira pasangannya adalah Sherin, juga tidak merasa kaget pada awalnya.
Tapi,tidak sangka...
Simon meletakkan psp di tangannya,lalu mengambil bantal dan menutupi wajahnya dengan bantal tersebut, mengeluarkan suara yang tersedak, "karena mama ku sudah tidak ada...."
Ayah Devan yang terus diam tidak bisa berbicara, tiba-tiba berkata, "Simon,siapa mama kamu itu?"
Ibunya Devan menarik bantalnya, dia ingin menanyakan banyak hal lagi, tapi melihat wajah Simon yang penuh dengan air mata, hatinya merasa kasihan, memeluk Simon ke pangkuannya,
"aiyo,ada apa dengan ini? kenapa kamu menangis seperti ini?"
...
__ADS_1
"Devan,siapa mama yang di maksud anak kecil ini? bawalah dia datang ke sini, membuat cucuku begitu sedih..."
Saat ibu Devan menelpon, Devan sedang duduk di dalam mobil, mendengar ibunya menanyakan tentang Sherin, dalam waktu sekejap saja, rasa sakit itu menyerbu hati, memisahkan sudut bibirnya yang kering, tenggorokannya bergetar, tapi dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
"ibu,dia sudah tidak ada"
Akhirnya, dia mengatakan beberapa kata ini, diapit menelan ludah.
Ibu paling mengerti anaknya, bahkan hanya beberapa kata, ibu Devan tanggap dalam sekejap.
Kemudian dia mematikan telpon,menarik Simon ke dalam pelukannya, hatinya juga mulai ikut sedih.
Orang yang bisa membuat putra dan cucunya begitu tidak bisa merelakan atas kepergiannya, dia benar-benar ingin tahu, siapa dia? tapi,kenapa sudah meninggal?...
.
Bersambung...
Udah 3 part aja,,,
Terimakasih...
Mohon dukungannya like dan komen...
__ADS_1