Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Devan Cemburu


__ADS_3

Clover mengambil jaket yang di berikan Mohan. Jaket itu berwarna hitam dan memiliki wangi yang tipis. Sebuah bunga ros di jahit di bagian dada jaket itu. Jaket itu tidak sepeti jaket pria. Clover tertawa dan menutupi badannya dengan jaket itu sebelum memejamkan matanya.


Beberapa hari ini suasana hati Clover tidak baik. Jadi dia juga tidak bisa tidur dengan tenang, sekali merasa lega, Clover langsung tertidur dengan nyenyak.


"sepertinya perkembangan mereka berdua lumayan baik?" Dylan pura-pura tidak melihat ekspresi Devan.


Pria yang di sampingnya merasakan api di badannya. Tatapannya menjadi lebih dingin,begitu juga suaranya, "berani berebut wanita denganku, benar-benar berani!"


"hei hei hei...bisa jadi pria itu sama sekali tidak tahu kalau Clover itu wanitamu. Kamu adalah pria yang sudah menikah, siapa yang...."


"Dylan, kamu berpihak kepada siapa sebenarnya?" Devan meliriknya.


"sudah sudah. aku tidak akan bicara lagi"


Setelah itu Dylan masih terus mengikuti di belakang mobil itu.


Ketika Clover bangun, mereka masih di tengah jalan, tepi jalan yang di penuhi sawah yang di tumbuhi rumput, Clover duduk tegak dan melihat ke Mohan, "kita sedang di mana?"


"kamu tadi bilang kamu mau pergi ke desa Simba kan?"


Clover mengangguk, "iya...."


"kita sudah mau sampai, di depan sana saja" Mohan menunjuk ke depan sana.


Clover melihat ke arah yang di tunjuk Mohan, dia melihat sebuah desa.


Alisnya mengerut, apakah orang yang mau dia cari adalah seorang petani?


Ketika ibu Clover masih muda, kecantikannya sangat luar biasa. karena ibunya jarang berinteraksi dengan tetangga, Mereka mengira ibunya bersikap dingin karena ibunya anak orang kaya yang melarikan diri dari rumahnya.


Fakta membuktikan perkiraan orang orang itu tidak salah.


Tetapi sikap ibunya yang selalu terlihat arogan, orang yang bisa dia cintai, pasti bukan orang biasa juga.


Tetapi....desa seperti ini!


Mobil Mohan berhenti di depan gerbang desa, "apa perlu aku temani kamu jalan?"


Clover menggelengkan kepalanya, "tidak perlu. aku datang untuk mengurus masalah pribadi "

__ADS_1


Mohan mengerti maksud Clover "baik.kalau begitu aku pergi urus masalahku dulu.Kalau kamu sudah selesai, telpon aku saja.Aku akan datang jemput kamu pulang"


Clover mengangguk dan menatap Mohan dengan wajah terima kasih.


Kemudian, Clover turun dari mobil....


Ketika mobil Mohan sedang berputar arah, dia melewati sebuah mobil hitam. Clover mengira dirinya salah lihat, dia melihat ke nomor plat mobil hitam itu, dan hatinya merasa kaget, ekspresi wajahnya berubah.


Setelah itu, Clover melihat Devan berjalan ke arahnya dengan satu tangannya di saku dan satu tangannya lagi memegang ponsel.


Setelah sampai di sisi Clover, Devan berkata dengan dingin, "apa kamu bahagia bersamanya di sepanjang perjalanan nona Clover?"


Alis Clover mengerut, dia tidak menjawab dan langsung berjalan memasuki desa.


Devan mengikuti di sampingnya dan tidak berbicara juga.


Clover melirik ke wajah Devan, pasti Devan melihat dirinya bersama Mohan tadi.


Devan tiba-tiba menoleh ke Clover ketika Clover sudah akan melihat ke arah lain.


"kamu, mengapa bisa tahu aku ada di sini?" Clover tidak tahu apa yang sedang Devan pikirkan. Tetapi tatapan Devan membuat dia merasa sedikit bersalah.


"mengapa tidak mengangkat teleponku dan juga tidak membalas pesan teks dariku"


"selain itu?" Devan menatap ke Clover.


Selain itu? Clover bingung. Ada apa lagi?


Detik selanjutnya, Devan memegang bagian belakang kepala Clover,lalu menciumnya dengan kuat.


Mata Clover membesar, apakah pria ibu sudah gila? banyak orang melihat ke mereka.


Clover mendorong Devan dengan kuat....


"Devan, kamu lagi berbuat gila?"


Ekspresi wajah Devan tidak baik sampai menakutkan.


"lain kali, tidak boleh begitu dekat sama pria lain!"

__ADS_1


Alis Clover mengerut, dia mengangkat tangannya dan ingin melepaskan tangan Devan yang sedang memegang kepalanya, tetapi Devan langsung menahan gerakannya.


"Devan, dia hanya pas datang syuting film ke sini dan sekalian mengantar aku saja" berpikir tentang Devan tidak percaya kepadanya, Clover merasa marah.


Devan memeluk Clover, "kamu tidak memiliki keinginan, tidak berarti orang itu juga"


Clover mengangkat alisnya, Clover merasa Mohan telah memiliki orang yang dia sukai. contohnya wanita yang mereka bertemu di jalan tadi. Tetapi kemarahan Clover sudah agak lega setelah Devan mengikuti dia ke sini, "lain kali tidak lagi"


Devan mengelus kepala Clover, "masih berani ada lain kali?"


Clover tidak menjawab, dia menyadari lumayan banyak penduduk di sana melihat ke mereka dari jauh.


Teringat mereka berciuman tadi, wajah Clover memerah. Dia ingin menjauhi Devan tetapi pria itu malah melingkari pinggangnya.


Beda dengan daerah pelangi, penduduk daerah Simba sangat banyak. Orang muda, orang tua, dan anak-anak sangat ramai.Rumah-rumah di desa ini rata-rata memiliki rumah mewah kecil yang kuno.


"apakah kalian datang mencari seseorang?" seorang tante berusia sekitar 50 tahun bertanya sambil menjahit baju Wol.


"tante, salam kenal. Aku ingin bertanya apakah anda tahu Tuan Gala Simba tinggal di mana?"


Kecepatan menjahit baju tante itu seketika melambat, dia menyipitkan matanya, lalu melihat ke Clover dan Devan.


"kalian cari tuan Simba untuk?"


Nada suaranya seperti sedang menginterogasi. Clover melihat ke Devan dan menyadari ekspresi pria itu tidak berubah.


"aku...."


"kamu cari dia untuk berbisnis?" Devan memotong kata-kata Clover dan pegangannya di pinggang Clover mengerat.


Ekspresi tante itu menjadi lembut, "oh....ternyata mau berbisnis, silahkan...." tante itu menoleh ke belakang, lalu berteriak "kamu sini. Antar mereka ke rumah tuan Simba."


Seorang anak kecil berusia sekitar 14-15 tahun lari dari keramaian. Anak itu sangat kurus, dia membungkuk kepada tante itu. "baik tante"


Anak kecil itu menoleh ke Clover dan Devan "ikuti aku"


"apa kamu merasa semua dari mereka ada sebuah aura yang membanggakan dirinya?" Clover bertanya kepada Devan.


Orang biasa bertemu Devan yang memiliki aura seperi itu pasti merasa lemah dan takut. Tapi anak kecil di depan mereka aja bisa berdiri tegak dengan bangga.

__ADS_1


Tidak tahu harus bilang mereka tidak mengerti dunia ini, atau harus bilang mereka terlalu percaya diri.


Devan tidak menjawabnya. Dia hanya menarik Clover agar berjalan lebih dekat dengannya.


__ADS_2