
Clover mendongak dan melihat tatapan mata Devan yang terlihat rumit.
"jika sudah mempunyai pria lain, apa kamu masih menginginkan ku?" raut wajahnya tidak berubah, dia bertanya dengan serius.
Setelahnya dia melihat kilatan rasa sakit di dalam mata Devan, lalu Devan mengulurkan kedua tangannya dan meletakkannya di bahu Clover, dia bertanya dengan suara yang serak, "apakah di waktu kemarin, terjadi sesuatu dengan kamu?"
Clover menggelengkan kepalanya,lalu hanya bertanya sekali lagi kepadanya, "apa kamu masih menginginkan ku?"
Devan menelan ludahnya, merapatkan kedua bibirnya dan mengangguk,
"ya, masih!"
"Devan, sebesar apa cintamu kepadaku? bahkan meski kamu tahu dia bukan anak kamu, kamu tetap bersedia menerimaku?" dia berusaha menahan tawanya dan terus menggodanya.
Devan menundukkan kepalanya lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Clover, dahinya di letakkan di dahi Clover, suaranya terdengar serak saat berkata, "di bandingkan dengan kehilanganmu, semua ini tidak lah penting... Sherin, tidak peduli hal apa lagi yang nanti masih akan kita hadapi, bisa kah kamu jangan pernah meninggalkan ku lagi untuk selamanya?!"
"Hiksss...." Clover merasa sangat terharu, masih belum sempat meneteskan air matanya, tetapi Helena yang dari tadi berdiri tidak jauh dari mereka sudah menutup mulutnya dan menangis.
"putraku, dia adalah putrimu... cepat kamu lihat dia, dia sangat mirip denganmu!" karena tidak tahan melihat anaknya yang begitu menderita, Helena tidak bisa menahan diri untuk tidak memberitahukan yang sebenarnya.
Tubuh Devan bergetar, dia segera melepaskan Clover lalu melihat mata Clover yang berkaca-kaca terlihat ingin tertawa. Dia menundukkan kepalanya lalu melihat seorang gadis kecil yang bersembunyi di dalam pelukan Clover, matanya yang besar terus menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Wajahnya, itu adalah anaknya, tidak salah lagi...
Dia sangat bahagia, dia mendongak, dengan bersemangat dan menatap Clover, tiba-tiba dia teringat sesuatu, "apakah karena malam itu?"
Clover berdehem pelan lalu mengangguk.
Devan mengangkat kepalanya dan menggigit bibirnya, dia tersenyum, dia sangat bahagia, seperti anak kecil, dia tidak berhenti mencium wajah Clover...
Saat ini,Clover merasa kegigihannya selama 4 tahun ini membuahkan hasil, segala penderitaannya selama ini layak untuk di lakukan.
Setelah itu, Devan berjongkok dan menatap Momo, "panggil papa!"
Momo menjulurkan lidahnya kepada Devan lalu mengangkat kepalanya dengan sombong, "penghianat, aku tidak mau memanggilmu papa!"
baik sampai sampai membuat Clover tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan mereka.
Devan mengerutkan alis nya lalu menoleh dan menatap Clover, "penghianat?"
Clover mengusap hidungnya,lalu berjongkok, "Momo, dia ini adalah papa kamu, saat itu dia mempunyai alasannya sendiri, bukannya sengaja tidak menginginkan kita." setelah itu, dia menunjuk Simon yang sedang berdiri, "yang ini, adalah kakakmu"
Tetapi wajah kecil Momo tetap terlihat dingin, tangan kecilnya menunjuk Devan, matanya melihat ke arah Simon, "kalian berdua adalah penghianat! semuanya,jahat!"
__ADS_1
Dia menatap Devan, "saat mamaku melahirkan aku, dia hampir mati, kamu ada di mana? demi untuk membesarkan aku, mamaku setiap harinya bekerja keras, kamu ada di mana? waktu itu, aku juga melihat kamu memarahinya, kamu sama sekali tidak bersikap baik kepadanya, lalu kamu masih menyuruhku memanggilmu papa, tidak mungkin..." selesai bicara, dia menggandeng tangan Clover, "ma, ayo kita pergi makan, jangan pedulikan mereka, mereka semua orang jahat..."
.
.
.
Bersambung....
.
###
Sekedar mengingatkan!
Jangan sungkan-sungkan untuk tekan like, dan komen bawelnya๐
Biar Mpu tambah semangat nulisnya.....
Terimakasih....
__ADS_1
๐๐๐๐๐