
Sherin menoleh ke samping dan menatap Devan, dia terkejut, ternyata Devan masih bertahan dengan ekspresinya yang tadi.
"Gabriel,cinta bukan barang yang bisa di jual belikan,juga tidak bisa di gunakan sebagai suatu perbandingan!"
"Devan....kamu bajingan....aku tidak akan membiarkan kalian bisa bersama, tidak akan....." ucap Gabriel berteriak.
Setelah dia berteriak dengan sedih, panggilannya di matikan.
Sherin menundukkan kepala,di bandingkan dengan suasana tadi,seketika menjadi tegang.
Kebahagiaan mereka,di takdir kan berdiri di atas ketidak bahagiaan wanita lain.
Setelah Gabriel mematikan panggilan, dia mengurung dirinya sendiri di dalam kamar.
__ADS_1
Pakaian yang ada di dalam lemari,semua di keluarkan, dan di robek-robeknya, yang tidak bisa di robek, dia gigit dengan mulut.
Pembantunya mendengar suara,dia dengan segera memanggil ibunya Gabriel.
"Gabriel,apa yang kamu lakukan?" ibu Gabriel berkata sambil mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar.
Melihat semua barang berantakan, ibunya Gabriel langsung menarik Gabriel ke dalam pelukannya.
"mama, Devan meninggalkan aku!" Gabriel menyandar di pelukan ibunya, menangis sangat sedih.
Karena beberapa tahun ini ibu Gabriel menderita penyakit depresi, jarang berkomunikasi dengan Gabriel, saat ini dia melihat anaknya yang sedang sedih, dia tidak tahu harus berkata apa, dia hanya bisa mengusap air mata Gabriel.
Gabriel mendongak,menatap Gary yang bersandar di kusen pintu dengan raut wajah yang menunjukan bahwa dia sudah mengetahui.
Dia melepaskan diri dari pelukan ibunya, berjalan maju ke depan, lalu menarik kerah baju Gary, "kamu sangat senang? semua karena kamu, jika bukan kamu yang memaksa Devan, dia tidak akan membatalkan tunangan bersamaku, semua karena kamu.....kamu dan ibumu sama, tidak bisa senang melihat aku bahagia,sekarang kalian puas, benar kan?"
Gary dengan raut wajah terbengong, lalu menjawab "Gabriel,aku pernah bilang sama kamu, kalau aku tidak pernah bertemu dengan ibuku"
__ADS_1
"tetapi darah yang mengalir di dalam tubuhmu itu adalah darah orang yang menjijikan itu" di dalam pikirannya penuh dengan amarah, jadi ketika dia berbicara,tidak ada batasannya.
"Gabriel,kamu tidak boleh berkata seperti itu!" ibu Gabriel tiba-tiba berdiri,dia berdiri di depan Gabriel, dengan nada yang tinggi dia menegur Gabriel.
"ibu, kenapa, kamu tahu dia adalah anak orang yang menjijikan itu, dan kamu masih membelanya,kamu lihat,beberapa tahun ini, karena wanita yang menjijikan itu, berapa banyak penderitaan yang kamu rasakan? kamu tidak mengizinkan ayah berbagi hati dengan wanita ****** itu, dan walau dia tidak memberi cinta padamu,kamu...."
Plakk! Gabriel belum selesai berbicara,ibu Gabriel langsung menamparnya.
"ma!" gary dengan ekspresi terkejut, dia melangkah satu langkah ke depan, menahan tubuh belakang Ibu Gabriel, "mama, Gabriel sedang emosi, apa yang dia katakan,jangan di hiraukan!"
Gabriel menggunakan tangannya yang tidak terluka untuk menutupi wajahnya,kemudian dia menatap ibunya dan Gary bergantian, "ahhhh!" dia berteriak dengan keras, kemudian dia berlari keluar.
Ibu Gabriel memegang kepala, mundur beberapa langkah, terduduk di atas kasur, melambai-lambaikan tangan "Gary, pergi lah! kejar Gabriel, jangan hiraukan aku!"
Gary mengerutkan kening,menatap ibu Gabriel dengan tatapan yang dalam, membalikkan badan, dan segera mengejar Gabriel.
Gabriel yang memakai sepatu hak tinggi, belum pergi jauh, dia di tarik oleh Gary,
__ADS_1
"Gabriel,kamu harus tenang!"
Tenang, bagai mana dia bisa tenang?