Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Sia Sia Saja Panik


__ADS_3

Simon yang terkejut itu menyusut sebentar, sesaat kemudian, dia pun mengeluarkan suara berkata "mama!"


"heh..." hanya saja, baru saja Simon bersuara, Sherin sudah menangis tambah sedih lagi, wanita ini merasa dunia di hadapannya ini sudah terbalik.


Sherin pun merosot ke bawah, lalu terduduk terdiam mati rasa di lantai.


Devan yang menatapnya terus itu lalu mengulurkan tangannya dan merangkul pinggang Sherin untuk memapahnya berdiri.


"anak yang meninggal itu bukan Simon, Simon masih hidup." ucap Devan dengan nada kecil agak serak dan sedikit bergetar.


Jujur, walaupun ini semua hanya lah sebuah ulah sandiwara, hanya sebuah kesalah pahaman, tapi Devan benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri perasaan wanita itu terhadap Simon, membuatnya tersentuh sangat mendalam di hatinya.


Wanita yang tak di kenal,bisa karena mengasuh anak ini 1 bulan, lebih sedih sampai pingsan, hati yang seperti apa sebenarnya yang terdapat di dalam hati wanita itu?


Membandingkan,saat Devan menelpon ke wanita ini, dan saat Devan menelpon untuk hal yang sama kepada Gabriel,


Yang hanya, walaupun dari suaranya terdengar khawatir, tapi dalam perjalanan,setelah dia menelpon menenaykan kondisi keseluruhan anak itu dan setelah mendengar jawaban itu, datang ke rumah sakit pun tidak.


Simon sebenarnya hanya jatuh tersenggol oleh mobil seseorang saat mundur karena dia berdiri di sudut yang tidak bisa di lihat oleh pengemudi itu, dan karena kecepatan mobilnya lambat, dan respon anak ini cepat, makanya saat mobil terus mundur dia juga sudah mengelindingkan badannya keluar, jadi karena itu lah tidak terjadi masalah besar.


Lalu,Simon pun mengajukan dengan cara ini untuk membuat perbandingan antara Gabriel dan Sherin.ketika itu di terlalu gegabah dalam memutuskan hal ini.


Tapi,meski begitu Devan juga saat ini sudah mempunyai sedikit pandangan yang berbeda antara terhadap wanita di hadapannya ini dan Gabriel.


Kalau Gabriel adalah wanita yang tidak mementingkan nyawa anaknya, sebenarnya buat apa juga dia menikahinya?


"bukan Simon?" mata Sherin yang tidak berdaya itu lagi-lagi tidak dapat menahan air mata yang turun.


"mama!" Simon saat ini sudah berdiri di depan ranjang Sherin, menarik tangan Sherin untuk memegang wajahnya sendiri, "ma,aku Simon,aku belum mati!"


Kehangatan tubuhnya itu menyalur ke hati terdalamnya melalui tangannya. Sherin baru bisa merapatkan bibirnya, dengan kuat menghapus air matanya, tapi apa daya? semakin di usap semakin banyak berderai air mata.

__ADS_1


Tangannya yang gemetar itu menarik Simon masuk ke dalam pelukannya, berpikir-pikir,lalu mendorong nya lagi, dan mencubit-cubit pipinya, Simon yang terkejut itu pun mengeluarkan suara,"aduhh" setelahnya Sherin baru kembali lagi memeluknya erat-erat dalam pelukannya.


"Simon,kamu masih hidup, masih hidup? syukurlah!"


"mama,sebelumnya kamu pergi ke ruangan yang salah, dengar-dengar anak itu pagi hari sudah di antar ke sini, karena terus menerus tidak bisa menghubungi orang tuanya, jadi dokter yang mendengar kamu mencari anak kecil pun mengira kamu adalah ibu dari anak itu,makanya dia membawamu ke ruangan yang salah. Aku tidak apa-apa,hanya terluka bagian luar saja sedikit,saat itu sempat terkejut makanya papa mengantarku ke rumah sakit."


Mendengar penjelasan Simon, Sherin pun menyoroti nya dari atas ke bawah beberapa kali, setelah itu hatinya masih tetap ada perasaan sedih, melihat bayangan yang terbaring di ranjang itu memang tidak berbeda jauh dengan Simon, namun.....


"setelah kamu pingsan tidak lama, orang tua anak itu menemuinya. orang tuanya bilang anak ini punya IQ-nya rendah bawaan lahir, kemudian juga ada penyakit jantung bawaan, jadi kecelakaan ini juga bisa di bilang mengurangi kesusahan dia juga." Devan yang sepertinya bisa melihat pemikiran Sherin itu pun bersuara menjelaskan.


Sherin menghirup nafas, mengangguk-anggukkan kepala,memeluk Simon, dan tidak berbicara lagi.


Mendapatkan kembali setelah kehilangan, membuat perasaanya bercampur aduk.


Tiba-tiba teringat sesuatu, dia melepaskan Simon dari pelukannya, menoleh ke arah Devan yang berada di samping, "Simon,kamu dan papamu pulang dulu saja, udara di rumah sakit tidak bagus!"


"bagai mana dengan mama?" tanya Simon.


"sudah larut malam seperti ini, aku menginap di sini dulu malam ini, besok pagi aku langsung pergi bekerja." jawab Sherin.


Hal ini yang membuat perasaan Simon terhadap Sherin pun bertambah dan levelnya meningkat lagi.


Di dalam hatinya bukan hanya sekali pernah membayangkan, alangkah baiknya kalau wanita ini adalah ibunya, tapi papanya mengatakan pasti tidak mungkin, karena anak laki laki itu mirip seperti ibunya, oleh karenanya ibunya seharusnya memiliki kecantikan yang memukau.


"Simon,aya nurut ya!"


"perlu tidak antar Sherin terlebih dahulu?" Devan yang dari tadi hanya diam tidak membuka suara itu, Tiba-tiba membuka suara. Tidak tahu apakah ini hanya perasaanya yang keliru saja, Sherin merasa nada suara laki laki ini sepertinya tidak sama dengan yang dulu begitu keras dan dingin, saat ini lebih lembut.


"tidak perlu,tidak perlu.sudah malam, kamu bawa Simon pulang saja, dan kamu sepertinya juga tidak membawa obat kan? tetap di sini,juga tidak bisa tidur dengan baik." setelah mengatakan ini, Sherin pun menyesal, dia tiba-tiba saja teringat akan hal ini, namun lupa akan hubungan di antara mereka, dia berbicara seperti ini sangat jelas sedikit kurang cocok.


"baiklah.." Devan memandangi Sherin mendalam, ujung bibirnya yang kaku itu secara tidak di sadari pun melengkung ke bawah.

__ADS_1


saat pulang


"papa,apa kamu tidak merasa mama sangat baik hatinya?" Simon berdiri di belakang,tangan mungilnya di letakkan di pundak Devan, menepuk-nepuk nya dengan ringan.


Devan sedikit tidak senang sesaat setelahnya baru dengan perlahan menjawab, "terhadap kamu, dia memang baik." terhadap laki laki itu, Sherin hanya biasa -biasa saja juga tidak peduli, di tambah lagi dengan beragam cueknya.


"ayo papa katakan! bagaimana dengan penolongku itu? hari ini ada pemikiran apa terhadapnya?" tanya Simon.


"dia mendengar bahwa kamu kecelakaan, dia juga sangat khawatir."


Simon mendelikkan mata ke atas dengan gaya meremehkan "baik lah, dia terhadapmu,memang baik!"


Terdiam sesaat, Simon pun lanjut berkata "papa Devan, aku terakhir kali memberi tahumu, kalau kamu benar-benar tidak ingin dengan mamaku, aku yah hanya bisa mengincar pasangan lain untuk mamaku."


Jatuh lah beberpa garis hitam di dahi Devan, menjulurkan tangannya dan menepuk-nepuk tangan kecil di pundaknya itu, "Simon,kalau kamu sekali lagi tidak sopan seperti ini, percaya tidak? papa akan melempar kamu ke luar."


Melototinya sejenak,kembali duduk di kursinya,kedua tangannya menyilang, memeluk lengannya, bibir Simon bergumam "kalau saja aku lahir 20 tahun lebih awal, papa pikir masih ada bagian mu? benar-benar tidak tahu bersyukur"


Setelah ayah anak itu pergi, Sherin tidak mengantuk lagi, otaknya di penuhi dengan kejadian-kejadian hari ini.


Di tambah lagi, dia sedang mempertimbangkan masalah pengunduran dirinya bekerja.


Walaupun bisa di bilang dia lumayan suka pekerjaan ini, tapi dia berpikir asal dia ada keinginan, sebenarnya pekerjaan mudah untuk di cari.


Tempat ini ada Gabriel, ada manager Lupus, dia benar-benar tidak ada keinginan untuk melanjutkannya.


Toh dia juga baru bekerja beberapa hari, mumpung masih belum ada perasaan, lebih baik pergi sedini mungkin.


Keesokan harinya, Sherin menulis dengan pena sebuah surat pengunduran diri, dan pergi ke ruangan manager Lupus.


Tak di sangka, saat dia mendorong pintu ruangan manager Lupus, dia pun melihat Gabriel sedang duduk di dalam.

__ADS_1


TBC


Ayolah!!! mana dukungannya??😍😍👍


__ADS_2