
Sebelum Sherin sempat bereaksi, Devan menarik Sherin ke dalam dan langsung menutup pintu ruang baca. "maaf!" Sherin mengulangi lagi. Devan menatap kepada Sherin beberapa saat dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Sherin. kemudian dia memegang pipi Sherin dan bertanya "sakit?"
Sherin tidak bisa menggerakkan badannya dan jantungnya berdetak dua kali dengan cepat, bukan kah Devan harus marah kepadanya? Sherin menggelengkan kepala dan memiringkan kepalanya untuk menghindari sentuhan dari tangan Devan. Devan melangkah satu langkah ke depan, memeluk pinggang Sherin ke arahnya. Devan memandang wanita di hadapannya dengan serius dan berkata "apakah ada yang pernah berkata kepadamu, kamu terlihat lebih berbeda dari biasanya jika di lihat dari jarak dekat seperti ini!"
Sherin merasa kaget dan segera menjauhi devan dengan mundur dua langkah. Sherin menjawab dengan wajah yang tenang "tidak ada yang pernah berkata begitu kepadaku" hati Sherin merasa gugup.Riasan topengnya ini,sebagian besar bergantung dengan cahaya luar. Dia menggunakan bedak yang berwarna gelap,agar kulit putihnya terlihat gelap dan tidak bercahaya.Menerangkan sisi bibir dan wajahnya, agar bibir ranumnya terlihat tebal dan wajahnya yang langsing terlihat besar. Tetapi semua ini hanya bisa berhasil ketika di lihat dari jarak jauh.Jika di lihat dari jarak dekat, semuanya akan terlihat berbeda karena tidak ada bantuan cahaya.
Mendengar jawaban dari Sherin, alis Devan terangkat. Apakah cuman dia sendiri yang merasa aneh?
"aku masih harus pergi bekerja nanti.Jika tidak ada maslah lain, aku akan keluar dulu" ucap Sherin.
"bersiap lah untuk makan terlebih dulu! setelah itu,baru pergi. aku akan mengantar kamu."
"tidak,jangan!" Sherin langsung saja menolak. Devan mengantar dirinya? bagaimana jika Gabriel melihatnya?
"apa maksud kamu?" Devan bertanya kepada Sherin.Devan sangat tidak suka jika Sherin menolak dan mencoba menghindarinya.
"kamu adalah tunangan Gabriel.Jika orang lain melihat kamu mengantar aku, aku takut akan menyebabkan hal-hal yang tidak di inginkan" jawab Sherin. Sherin menyadari bahwa dirinya sangat suka berbohong akhir-akhir ini.
Menyebabkan hal-hal yang tidak di inginkan? Devan menatap Sherin sambil tersenyum. "Sherin, kamu adalah wanita pertama yang bisa membuat aku merasa sakit hati."
__ADS_1
Kata-kata yang sangat sederhana itu,menggerakkan hati Sherin. Satu kata 'Sherin' dari Devan bisa membuat hati Sherin merasa gugup.Melihat sekeliling ruangan yang tidak asing, Sherin merasa hidup memang sangat lah lucu.
Tidak berapa lama saat yang lalu, Sherin bahkan sampai berlutut agar pria ini tidak mengusirnya dari rumah ini.
Tapi sekarang....
Sherin menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya, dia tidak tahu harus bagai mana menjawab Devan.
Devan adalah tunangan orang lain,tetapi dia malah menyukainya. Sherin membenci dirinya yang tidak berguna dan merasa malu dengan hatinya yang telah tersentuh.
"pandangan Tuan Devan memang unik. merasa sakit hati oleh karena seorang pembantu." Sherin meluapkan semua emosinya dan melihat Devan dengan tatapan menyindir. Devan menghidupkan sebatang rokok dan mematikannya lagi setelah melihat wajah Sherin.
"oh ya? lalu? Tuan Devan ingin satu wanita berada di dalam rumah terus dan satu lagi di luar rumah?" Sherin terpaksa, berbicara dengan nada sindir.Terpikir Devan berpihak kepada Gabriel tadi, tanpa Sherin sadari nada suaranya menjadi semakin asam.
Walaupun Sherin adalah orang yang sederhana, yang tidak memiliki apapun, dia tidak akan mau menjadi selingkuhan orang lain. Apalagi,Sherin sendiri mengenal Gabriel dan Gabriel sangat baik terhadapnya.Dia tidak akan bisa melakukan hal seperti itu. Devan tidak marah dan malah melebarkan senyumnya sambil menyentuh barang yang ada di mejanya.Melihat Devan tidak bersuara, Sherin berputar balik badannya dan berjalan ke arah pintu.
"berikan aku waktu, aku akan menyelesaikannya." ucap Devan.
Seketika Sherin berhenti. Bagaimana Devan akan menyelesaikannya? menghapus perjanjian pernikahan dia bersama Gabriel? Sherin berputar balik badannya lagi dan menghadap kepada Devan.
__ADS_1
"sepertinya kamu sudah salah paham. aku tidak pernah memiliki pemikiran lain terhadap kamu dan aku juga tidak pernah berpikir ingin memiliki hubungan apapun dengan kamu.Kamu ingin menyelesaikan masalah kamu sama Gabriel dengan cara apa, itu masalah kamu sendiri, tidak ada hubungannya dengan aku!" Sherin berkata. Dia tidak bisa menghancurkan pernikahan orang lain hanya demi diri sendiri.
Devan tidak berkata apa-apa.tiba-tiba ponselnya berdering, dia mengangkatnya dan berkata "halo? ooh...kamu atur saja!..." Sherin menatap kepada Devan. Badannya besar dan tinggi dan juga tatapannya tajam.Di lihat dari sisi apapun pria ini terlihat tampan. Sherin tidak akan bisa melupakan perasaan dirinya saat dia melihat pria ini di hari itu.Mungkin saat itu, Sherin sudah jatuh cinta kepada pria itu. Sherin mengira dia tidak akan bisa jatuh cinta lagi karena selalu mengingat ayahnya yang pergi meninggalkan ibunya dan dirinya. Sherin mengira dia akan bisa mengatur hatinya dengan baik setelah menolak perasaan Andrew.
Sherin menyadari bahwa dia tidak bisa.
Devan mematikan telponnya dan menatap kembali ke arah Sherin dengan sebuah senyuman "aku merasa bangga bisa di tatap seperti itu oleh dirimu" ucap Devan dengan nada mengejek membuat Sherin merasa malu "semua orang suka menatap kepada manusia dan barang yang enak dilihat" balas Sherin.
Devan berjalan menuju ke arah Sherin dan seperti itu, Devan melangkah satu langkah ke depan, Sherin akan mundur satu langkah. Akhirnya,Sherin mundur sampai sisi belakang dan badannya pun bertabrakan dengan dinding.
"tetapi aku suka menatap wajah kamu, walaupun wajah kamu tidak enak dilihat.mengapa bisa begitu?" suara Devan yang sangat dalam membuat wajah Sherin memerah. Sherin mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak berani bertatapan dengan Devan.
"aku tidak mengerti apa yang kamu katakan" Sherin berusaha untuk menenangkan pernafasannya dan memiringkan badannya, menghindari sisi Devan dan meninggalkan ruang baca.
Melihat bayangan punggung Sherin, pandangan Devan menjadi tenggelam....
Wajah Sherin masih terlihat memerah setelah dia kembali ke kamar Simon.
"mama, kamu berada di ruang baca papaku begitu lama. apakah mama dan papa melakukan hal-hal yang aneh?" Simon langsung meloncat dari tempat tidurnya dan bertanya kepada Sherin ketika dia melihat Sherin kembali masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Tentu saja pertanyaan Simon membuat Sherin merasa gugup, "anak kecil ini sedang memikirkan apa? mama hanya pergi meminta maaf kepada papa kamu"