
"Ayo kita pergi!" Sherin berkata kepada Yuta, bersamaan dengan itu,Sherin menutup jendela mobil ke atas.
Mobil sedang berjalan,air mata Sherin terus berlinang,memang dalam suasana genting lah orang baru bisa melihat dan tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat? bukannya begitu?
Pria itu membuka mulut mengatakan mencintai dirinya, tapi di keadaan seperti itu, dia tidak banyak bertanya sepatah kata pun kepadanya, bahkan melihat dirinya sebentar pun tidak,langsung saja memilih pergi bersama Gabriel.
Sherin berpikir,Apa Devan pernah memikirkan, ketidakberdayaannya,bahwa dia tidak bersalah?
Sementara itu....
"Devan,aku tidak sengaja mengatakan kalau Sherin itu adalah pengasuh,hati wanita itu begitu beracun,berani-beraninya dia mau membunuhku? untung saja aku menghalanginya dengan lengan ku,kalau tidak,,mungkin saja aku sudah tidak bernyawa lagi" setelah berkata,Gabriel menundukkan kepala,perlahan menarik air mata.
Kedua tangan Devan masuk ke kantong celananya,tidak melihat perasaan wanita itu.
Tapi,kedua tangannya tanpa bisa di kontrol mengepal dengan kuat,dalam matanya ada kemarahan yang sangat dalam tak terlihat batasannya.
Devan menatap wanita di hadapannya ini, 14 tahun yang lalu, bayangan tubuh kecil itu menggunakan badannya sendiri untuk melindungi dirinya dan dia sampai terluka,kembali muncul di matanya, jelas jelas,watak aslinya begitu baik,mengapa.. .seperti sekarang ini?
Sebenarnya,saat kejadian itu,di bawah alam sadarnya Devan memilih untuk percaya bahwa Sherin tidak akan berani melakukan hal seperti ini,saat itu hatinya juga sangat marah karena dirinya terlalu menggunakan emosi untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun,Devan bertahun-tahun mengenal Gabriel,baru berapa lama mengenal Sherin?
Tapi....saat ini,Devan lebih mempercayai insting.
Namun,di dalam hatinya lebih banyak lagi kekecewaan.
"hal ini,selesai sampai di sini" akhirnya,Devan melemparkan satu patah kata,membelokkan badan,siap siap untuk pergi.
Sikap Devan itu, sangat jelas terlihat sehingga membuat Gabriel sadar ada yang tidak beres,dengan terkejut membelalakkan mata, serta merta berdiri,tanpa ada waktu untuk berpikir sedikit pun,jarum yang ada di tangannya di tarik keluar,seketika kain kas di tangannya di basahi menjadi berwarna merah segar.
"hst,," Gabriel tidak bisa menahan suara rintihan kecilnya.
Ketika ujung sorotan mata Devan melihat situasi ini,dengan cepat dia membalikkan badan,menekan bel di bawah kepala ranjang.
"apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Devan dengan sedikit panik sambil mengambil tisu dari atas meja, mengusap tangan langsing Gabriel yang kenyal,menekan-nekan.
Mata Gabriel memerah,di lanjutkan dengan jatuh ke dalam pelukan Devan, "Devan,kamu percaya kepada wanita itu? dan tidak percaya kepada aku?"
Devan tentu terkejut,terdiam sesaat, mengecil-ngecil kan mata, menjawab pertanyaan Gabriel "baik lah,baik jaga luka kamu!"
__ADS_1
Saat ini, seorang dokter dari luar berjalan masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, yang bersamaan masuk juga Dylan.
Devan menyerahkan Gabriel ke dokter, lalu dia berjalan ke luar dari dalam kamar tersebut.
"Sherin sudah di jemput oleh adik sepupu kamu,sepertinya suasana hatinya sangat jelek." Dylan memberi laporan pada Devan.
"tidak ada yang lain?"
"ada!"
"...."
"aku bilang kepada Sherin,kalau kamu percaya dia, terus, apa kamu percaya,Gabriel sendiri yang mengambil pisau dan menusuk dirinya?" setelah berkata, Dylan secara reflek menatap Devan lekat-lekat.
Alis mata Devan mengerut,pandangan matanya perlahan menjadi gelap, benar,dia percaya kepada Sherin,kalau begitu juga berarti,secara tidak di sadari Devan itu juga percaya bahwa Gabriel sendiri yang menusuk dirinya sendiri.
"sekarang ini,kamu mau bagaimana bersikap kepada Sherin, demi kebaikan Sherin,aku rasa seharusnya kamu memberitahu kan Sherin!" Dylan diam dan diam,masih saja membuka mulut berkata.
Devan balik menatap Dylan sebentar,lalu menganggukkan kepalanya.
Di waktu yang bersamaan,di rumah Sherin.
"aku akan bermalam di sini untuk menemani kamu!"
"tidak perlu,Yuta,kamu pergi saja,biarkan aku tenang sebentar"
Yuta memandang Sherin lama sekali,sorotan matanya berubah-ubah, "kalau begitu baik lah,telpon aku kalau kamu ada apa-apa, masalah di sana,aku bisa bantu kamu bereskan,kamu tidak perlu memasukkan ke dalam hati, besok....aku akan datang menemui kamu lagi"
Hingga terdengar suara pintu tertutup menyebar, hati Sherin yang tegang itu, baru lah seutuhnya merasa lega.
Perut Sherin mengeluarkan suara kruk....kruk...., baru lah dia merasa kaget menyadari bahwa dia belum makan malam.
Kemudian Sherin berdiri,pergi ke dapur,mengeluarkan mie instan yang belum sempat di makan tadi siang.Lalu menyalakan api kompor,meletakkan panci di atasnya,Namun dia lupa untuk menambahkan air di dalamnya.
Saat Devan masuk ke dalam,langsung mencium bau gosong yang sangat tebal, mengangkat kepala,dan melihat Sherin yang bersandar di pintu kaca dapur sedang melamun,bawah panci itu sudah terbakar menjadi berwarna merah, dia hanya mengedip-ngedip kan mata.
__ADS_1
Kaki panjangnya melangkah beberapa langkah berjalan ke depan,mematikan api kompor,menambah sedikit air, menuangkannya ke dalam panci.
Sementara Sherin hanya merasa ada sebuah bayangan yang berjalan di belakangnya,kemudian terdengar suara menuangkan air "zhtzht"
Wanita itu belum sempat merespon,bayangan yang tinggi besar itu sudah menekan tubuhnya.Selanjutnya wanita itu pun masuk ke dalam pelukan yang di kenalnya dengan baik.
Setelah tersadar, Sherin mulai memberontak dengan sekuat tenaga,tapi Devan sedikit pun tidak memberinya peluang untuk lepas dari pelukannya.
"kamu... "
Sherin belum sempat membuka mulut untuk berbicara, bibirnya sudah di segel oleh bibir Devan, di cium sampai dia tidak berdaya.
Akhirnya,Devan melepaskan Sherin, Sherin membalikkan badan, akan pergi,namun di gendong melintang oleh Devan,berjalan ke ruang tamu.
Devan duduk di atas sofa, dan Sherin duduk di atas paha Devan.
Sherin memberontak sekuat tenaga,tetap saja tidak berhasil,jadi terserah pria itu saja.Dia membuang pandangan, alis Sherin mengerut, dengan nada yang tidak ramah berkata "mau apa kamu datang ke sini? meminta keadilan untuk calon istrimu?"
Devan setengah menyipitkan mata,lalu melototi menatap Sherin, tidak menjawab ucapan Sherin,tangan besarnya malah mencubit ringan pinggang Sherin, Sherin merasa takut dengan perasaan geli,tubuhnya agak bergetar,dia menggunakan tangannya untuk menahan tangan besar Devan "kamu sebenarnya mau apa? kalau kamu merasa aku lah yang melukai Gabriel,kamu pergi ambil pisau dan tusuk balik saja!" Sherin balas melototi Devan dan berteriak dengan keras.
Devan terdiam lama sekali,tangannya yang melingkar di pinggang Sherin, menjadi semakin erat. "Sherin,aku tidak pernah curiga padamu" setelah mengatakan,Devan menanamkan kepalanya di dahi Sherin.
Sekujur tubuh Sherin mengeras kaku beberapa saat, baru lah dengan nada kecil berkata "tapi kamu juga percaya pada Gabriel,bukannya begitu?"
Mendengar perkataan ini, Devan mengangkat kepala, menyipitkan mata melihat Sherin sejenak, melengkung-lengkung kan ujung bibirnya, lalu menarik Sherin masuk ke dalam pelukannya, selanjutnya menundukkan kepalanya,bibirnya yang tipis itu menempel di samping telinga Sherin,dengan nada yang rendah dan serak berkata "bukan, aku percaya kamu"
'bukan,aku percaya kamu'
Empat kata simple ini,membuat sekujur tubuh Sherin bergetar, kepenatan di dadanya,seketika menjadi lancar.
"mengapa?" di mata Devan, Sherin bukan seharusnya lembut dan baik, polos kan?
Devan mengerutkan alis, memang benar, mengapa? mengapa respon pertamanya langsung percaya kepada Sherin, apa timbangan di hatinya sudah lama sudah berat sebelah?
"insting, apa kamu percaya?"
"kamu gombal, saat itu kamu melirik aku sebentar pun tidak, kamu langsung membawa Gabriel ke rumah sakit, percaya aku? kalau kamu mempercayai aku, apa kamu bisa memperlakukan aku seperti itu?" setelah Sherin selesai berkata,matanya memerah,air matanya menetes ke bawah tanpa bisa di tahan.
__ADS_1