
Baju yang Devan menyuruh orang untuk belikan adalah sweater hitam, jaket putih yang tidak memiliki kerah dan legging hitam. Melihat bahan pakaiannya, Sherin bisa memastikan harga pakaian ini bukan lah harga yang dia sanggup untuk membelinya.
Devan dan Dylan yang sedang membahas sesuatu langsung melihat ke arah Sherin secara bersamaan setelah Sherin keluar dari ruangan mengganti bajunya. Rambut Sherin yang hampir kering di sisir kan ke satu sisi, riasan di wajahnya juga sudah terhapus sedikit karena hujan tadi. Garis kaku pada wajah Sherin terlihat lembut pada saat itu. Di tambah dengan pakaian yang di kenakan nya, Sherin terlihat sangat murni dan mempesona.
"wanita ini benar-benar makin di lihat makin cantik" Dylan bergumam. Dylan mengagumi kecantikan Sherin.
Devan menghalangi penglihatan Dylan dengan sebuah dokumen dan berkata "kamu tunggu aku dan Sherin di tempat parkir saja!"
Dylan mengerti kata-kata Devan, lalu dia mengambil dokumen tersebut. Dia menunjukkan jari tangannya yang terkepal seperti akan meninju ke wajah Devan dan dia pun keluar. Dylan berpikir, Devan sudah melarang orang lain untuk jangan melihat wanita itu,ketika wanita itu bahkan belum menjadi milik dirinya.
"Keringkan rambut kamu dan turun lah ke bawah. aku akan mengantar kamu ke kantor." Devan menahan dirinya untuk tidak melihat ke arah Sherin.
Sherin mengangguk dan berkata "aku akan mengembalikan baju ini kepada kamu setelah aku mencucinya"
Devan melirik ke Sherin dengan dingin. "jika kamu tidak mau baju itu, buang saja!"
"kalau begitu, kamu tidak perlu mengantar aku ke kantor. aku bisa pergi sendiri." orang-orang akan berkata apa lagi jika Sherin di antar oleh Devan ke kantor dengan memakai baju yang berbeda dengan tadi.
Devan tahu apa yang sedang Sherin pikirkan, dia mengambil jasnya yang terletak di atas sofa dan memakainya sambil berkata "aku hanya akan mengantar kamu sampai tempat di samping gedung Simba."
Saat Sherin akan turun dari mobil, Devan menarik lengannya dan berkata "kamu tidak boleh mengunci pintu rumah kamu malam ini! aku akan datang untuk tidur bersamamu"
__ADS_1
Sherin menoleh ke Devan dengan mata yang membesar, kemudian melihat ke Dylan yang berada di depan tempat mengemudi. Dia menghirup sebuah nafas yang panjang dan menjawab Devan "Devan, apakah kamu ingin membuat aku tidak bisa menikah untuk selamanya? atau kamu ingin aku di lempar telur oleh orang-orang pada saat aku keluar?"
"apa maksud kamu?"
"aku adalah seorang wanita yang belum menikah. kamu adalah seorang pria yang memiliki tunangan.Apakah masih akan ada pria yang berani menikah dengan aku setelah mendengar aku pernah tidur bersama kamu?"
"tapi aku tidak melakukan apa pun kepadamu?"
Sherin merasa kalau pria ini tidak bisa di ajak untuk berkomunikasi.Orang lain juga tidak akan percaya walupun tidak ada apa-apa yang terjadi. Bahkan pada pagi hari ini,pemilik rumah sudah bertanya kepada Sherin pagi tadi, apakah Sherin sudah memiliki pacar. pemilik rumah mendengar ada yang mengetuk pintu kamar Sherin pada saat tengah malam.
"Devan,kamu bisa memiliki semua wanita di daerah ciput untuk menjadi selingkuhan kamu dan aku menjamin mereka pasti akan mengatakan iya,mau tanpa syarat. Mengapa di antara sebanyak orang di sini kamu malah harus mencari aku?" Sherin berkata sambil mengikat rambutnya.
Sherin menghembus sebuah nafas dan menatap ke Devan dengan tatapan seolah olah Devan adalah orang yang bodoh "apakah kamu benar-benar tidak mengerti kata kataku atau kamu pura-pura tidak mengerti? aku tidak ingin menyukai pria yang di miliki wanita lain, aku tidak ingin berebut satu pria dengan wanita lain, bisa kah kamu tidak menggangguku lagi?" Sherin langsung turun dari mobil setelah dia berbicara tanpa menghiraukan Devan lagi.
Ada garis hitam besar yang muncul di dahi Dylan. wanita ini benar-benar berani, dia bahkan menolak Devan sebanyak dua kali.
Devan melihat ke bayangan belakang Sherin yang semakin menjauh. Ekspresi gelap di wajahnya berubah menjadi sebuah senyuman kecil "berarti maksud dia adalah dia akan menerima aku jika aku tidak memiliki wanita lain?"
Mata Dylan gemetar, mengapa dia tidak tahu pengertian Devan begitu berbeda dengannya?
Namun,pandangan Dylan terhadap Sherin benar benar berubah. Semua wanita akan bergegas mendekati Devan setelah Devan mengedipkan matanya kepada mereka,tetapi Sherin malah menolak Devan setelah Devan terus begitu berusaha untuk mendekati dirinya.
__ADS_1
"kamu harus segera membeli rumah yang Sherin sewa atas nama Sherin.berapa pun harganya!" Devan memerintah kepada Dylan.
Dylan menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah mengira kalau Devan yang selalu dingin itu juga akan menggunakan uang untuk menarik perhatian orang yang dia cintai ketika dia jatuh cinta.
Hanya saja,bagaimana caranya untuk menarik perhatian wanita seperti Sherin.apakah harus menggunakan uang? Dylan mengerutkan alisnya....
Tetapi, Dylan juga jelas mengerti Devan pada saat ini tidak akan mendengarkan kata-kata nya.
Ketika Sherin telah sampai di kantor, dia mengeringkan pakaiannya yang basah di kamar mandi dan mengganti kembali pakaian tersebut.Dia tidak tahu bagai mana cara untuk menjelaskannya jika ada orang lain yang melihat dia memakai pakaian mahal yang di belikan oleh Devan.
Sherin tidak lembur hari ini, dia juga tidak memiliki kerjaan lain pada malam hari.Karena Yuta dan Devan, Sherin tidak makan banyak pada siang hari jadi dia pergi ke supermarket untuk membeli sedikit lauk dan barang kebutuhan sehari-hari.
Saat pulang ke rumah, langit masih sedikit terang. Sherin melihat mobil hitam yang parkir di depan gang rumahnya setelah dia turun dari bus. hatinya menjadi kembali kacau. Sherin tidak pernah berpikir Devan yang memiliki harga diri dan kesombongannya yang begitu tinggi bisa terus mengejar dirinya walaupun Sherin sudah menolaknya beberapa kali. Sherin bahkan sudah mengatakan kata-kata yang begitu kejam kepadanya pada siang tadi dan Devan tetap datang ke rumahnya lagi. Sherin tidak tahu dia harus bagaimana menghadapi Devan.Berjalan melewati mobilnya, Sherin mengabaikan bayangan hitam yang berada di dalam mobil dan berjalan memasuki gang.
Sherin mendorong pintu dan melihat kamarnya menjadi kosong. sambil menyentuh dinding kamarnya, hatinya merasa tidak berdaya....
"aku sudah menyuruh orang untuk memindahkan barang-barang kamu ke depan" tiba-tiba pria yang di belakang Sherin berkata dengan nada yang merasa puas.
Sherin tidak bereaksi sedikit pun dan hanya menundukkan kepalanya.
"Devan, bisa kah kamu jauhkan dirimu dariku? aku tidak sedang main-main denganmu. aku benar-benar merasa kalau kita tidak cocok. aku pernah menjadi pembantu di rumah kamu.apakah kamu tidak takut orang lain tertawa kalau kamu menyukai seorang pembantu?"
__ADS_1