
Sherin menyembunyikan perasaan kacau di dalam matanya dan melihat ke Devan yang tengah memegang payung dan berdiri di jarak kurang dari sepuluh langkah darinya. Sherin merasa bersalah di dalam hatinya,tetapi dia menghadapi Devan dengan wajah yang tenang dan bertanya "Direktur Devan, kamu datang kesini untuk makan juga?"
Devan berjalan beberapa langkah menuju Sherin, matanya( tertuju pada lengan Sherin yang di pegang oleh Yuta. "Yuta, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Devan dengan ketus.
Yuta memasangkan wajah yang jelas terlihat tidak senang, dia tahu kalau Devan tidak pernah menyentuh makanan yang pedas. Yuta tidak percaya jika Devan benar-benar datang kesini untuk makan. Yuta sepertinya mengerti sesuatu ketika dia melihat Sherin yang berusaha menghindar dari tatapan Devan.
"Devan, jangan bilang sama aku kalau kamu menyukai Sherin?" pancing Yuta.
Badan Sherin langsung terasa kaku, dia seketika menyela ucapan Yuta, "Direktur Yuta, apa yang sudah anda katakan?"
"Devan, apakah kamu benar menyukainya?" seperti tidak mendengar kata-kata Sherin, Yuta menatap ke Devan dan mengulangi lagi pertanyaannya. Sherin menyingkirkan tangan Yuta, meletakkan tasnya di atas kepalanya menjadikan sebagai payung lalu berjalan keluar. Dia mengabaikan kedua pria itu.
"iya, aku menyukainya."
Hujan menjadi semakin lebat dan deras. tetapi walau begitu, suara lembut Devan terdengar sangat jelas di telinga Sherin. Sherin berpikir apakah pria ini sudah gila? mengapa dia berani mengakui perasaannya bahwa dia menyukai Sherin di depan orang lain ketika dia sudah memiliki tunangan?
"Devan, bukan kah dia adalah pembantu di rumah kamu? kamu menyukai seorang pembantu?" suara Yuta berkata. Sherin menghentikan langkahnya dan menoleh ke Yuta dengan tatapan dingin. Setelah beberapa saat, Sherin melirik ke Devan "Direktur Devan, saya sudah pernah menjelaskan kepada anda. saya tidak menyukai pria yang sudah dimiliki wanita lain." Setelah itu, Sherin lanjut berlari di tengah kehujanan yang sangat deras itu.
Seakan akan tahu kalau Sherin akan berlari, Devan langsung mengejarnya. Devan mengangkat payungnya ke atas kepala Sherin dan memegang bahunya ketika Sherin ingin memanggil taksi.
"ikut aku!" Devan mengajak Sherin sambil menarik pergelangan tangan Sherin.
"saya masih harus kembali lagi ke kantor.Saya tidak ingin merepotkan Direktur Devan."
Maksud dari jawaban Sherin adalah untuk mengingatkan Devan agar dia sadar diri. karena Sherin akan kembali lagi ke kantor dimana tempat tunangannya berada.
__ADS_1
Devan melihat ke Sherin, selain wajahnya, pakaiannya sudah basah kuyup. tangannya yang sedang memegang tas juga sudah kedinginan sampai memerah.Devan memberikan payungnya ke tangan Sherin dan langsung menggendong Sherin ke dalam mobilnya. Setelah itu, Devan meminta Dylan untuk menghidupkan mobil dan Devan mencoba untuk membuka pakaian Sherin.
"apa yang akan kamu lakukan?" Sherin tidak menyetujui perlakuan Devan terhadapnya
"akan membuka baju kamu" Devan menjawab dengan raut wajah santai. kemudian,dia melepaskan jaket Sherin dengan sekuat tenaga dan menyimpannya secara sembarang ke sampingnya.
"Devan, kamu sudah gila! masih ada orang lain di dalam mobil" Sherin berkata tanpa berpikir banyak. Dylan yang berada di depan tidak tahu menekan tombol yang mana, tiba-tiba munculah satu layar yang menghalang antara kursi depan dengan kursi belakang.
"Nona Sherin tidak perlu khawatir.Kualitas isolasi suara layar ini sangat bagus." Dylan berkata. Sherin ingin menjelaskan kepada Dylan, tetapi pada saat itu layarnya sudah menutupi semua penglihatan ke kursi depan.
Rasanya Sherin ingin menggali lubang dan sembunyi di dalamnya.Mengapa mobil sekarang memiliki fitur seperti ini? sangat canggih.
Tatapan gelap Devan tertuju ke wajah Sherin. detik berikutnya, Devan langsung memeluk pinggang Sherin dan mencium bibir ranumnya itu. Sherin merasa kaget dan memaksa Devan untuk melepaskannya.
"Devan,apakah kamu sudah benar-benar gila?" rasa tidak suka Sherin yang terlihat jelas, sekali lagi membuat Devan merasa emosi. Ekspresi wajahnya menjadi gelap dan dia mencekal kedua tangan Sherin "Gila? benar, aku sudah gila! kalau tidak, aku tidak akan merasa sedih karena kamu!"
Devan mengambil handuk yang berada di kursi depan dan mengeringkan rambut sherin yang basah sambil berkata "apakah kamu tidak mendengarkan aku, ketika aku menyuruh kamu untuk jangan bertemu lagi dengan yuta?
Merasakan gerakan di kepalanya, hati Sherin merasa hangat. Tetapi dia sengaja memiringkan kepalanya ke satu sisi dan menjawab Devan "memangnya siapa kamu, bisa mengatur hidup pribadi saya?"
Devan uang sudah berusaha menahan kemarahannya melirik ke wajah Sherin dan berkata "apakah kamu pikir, aku sudah tidak memiliki cara lain? lebih baik kamu mendengarkan kata-kata aku jika kamu masih ingin bertemu dengan Simon!"
Tentu saja, Sherin tidak pernah berpikir kalau Devan bisa menggunakan Simon untuk mengancam dirinya. Sherin menatap ke Devan dengan raut wajah tidak senang "bagai mana bisa kamu begitu licik?!"
Bibir merah Sherin yang sedikit menggembung menjadi sebuah kemanjaan di mata Devan. Devan kemudian tersenyum dan berkata "aku tidak pernah menganggap bahwa diriku adalah seorang pria bijaksana"
__ADS_1
Sherin berkata dengan dingin. "manusia licik!"
Devan mengedipkan matanya dan memeluk Sherin lagi, kemudian memberikan sherin sebuah ciuman yang ringan.
"kamu...."
"Sherin, aku serius!" Devan berkata dengan wajah serius.
Sherin menelan kata-kata yang ingin dia katakan tadi dan menundukkan kepalanya. hatinya merasa kacau lagi. pada saat itu, layar yang menghalangi dia antara kursi depan dan kursi belakang bergerak maju ke atas.
Dylan melihat kepada keduanya dan berkata "kita sudah sampai di hotel!"
"Turun!"
Tidak tahu sejak kapan, mobil sudah tiba di tempat parkir. tetapi, hotel?
Sherin memegang baju dengan erat dan bertanya kepada devan "Devan, mengapa kamu membawa aku ke hotel?"
Devan tidak bisa menahan diri dan dia tertawa "Sherin, apa yang sedang kamu pikirkan?"
Kemudian, Devan mengelus rambut Sherin dengan wajah penuh kasih sayang.
Di dalam kamar hotel.
Devan mengambil baju yang dia minta Dylan untuk pesan dan melemparkan baju itu ke sofa yang berada di depan Sherin. " cepat pergi, gantilah baju kamu!"
__ADS_1
Sherin yang tengah mengeringkan rambutnya merasakan kehangatan di dalam hatinya ketika dia mendengarkan ucapan Devan. Ternyata Devan membawa Sherin ke hotel agar Sherin bisa mengeringkan rambutnya yang basah kuyup dan mengganti baju. Pria dingin ini benar-benar jadi mengejutkan ketika dia memberi perhatian.
Baju yang Devan menyuruh orang untuk belikan adalah switer hitam, jaket putih yang tidak memiliki kerah dan lengan hitam. Melihat bahan pakaiannya, Sherin bisa memastikan harga pakaian ini, bukan lah harga yang dia sanggup untuk membelinya.