
Clover melihat Devan begitu kesal, dia hanya menggigit bibir bawahnya dan tidak berani bersuara, tetapi selama bertahun-tahun,yang paling nyaman adalah saat ini.
"kamu lepaskan tanganku dulu!"
Devan memelototinya, wajahnya masih suram, tetapi tangannya sudah di lepaskan.
Clover mengangkat tangannya dan melingkarkan nya di leher Devan, menariknya ke bawah, bibir merah dengan otomatis menyambutnya dan menciumnya.
"Devan, aku tahu aku salah, jangan marah lagi,ya?" setelah berkata, dia bangkit duduk, dan bersandar di lengan Devan, dengan gampang dia berkata kepadanya.
Dia bisa merasa kalau kemarahan Devan sudah lebih mereda, tidak bisa menahan menghela nafas lega.
"kenapa kamu harus pergi waktu itu? dan bagaimana dengan wanita yang mati itu?"
"pada waktu itu aku mengira kalau aku sudah jahat pada Gabriel, aku merasa sangat bersalah, jadi aku hanya bisa pergi, dan mengenai orang mati itu,itu bukan aku, aku tidak tahu persis apa yang terjadi"
Devan menundukkan kepalanya,menyipitkan matanya dan memandangnya, sebelum dia datang ke bandara, dia sudah di beritahu tentang sebab dan akibat masalah ini oleh Felice, dan dengan lembut menyentuh wajah cantik Clover, "mengapa kamu tidak percaya kalau aku pasti bisa mengatasinya? apakah kamu tahu, bagaimana aku menjalani hidupku setelah kehilanganmu beberapa tahun terakhir ini?"
Setelah berkata, dia menyamping, dan Clover jatuh terlentang di kasur, Devan berbalik badan dan menekannya dari atas.
Clover mendengarkannya bicara, tiba-tiba dia merasa campur aduk di dalam hatinya, Devan sangat sulit menerima keadaan beberapa tahun ini, tetapi hati Clover justru merasa sedikit lebih senang?
"aku dengar,kamu menyiksa dirimu sendiri setiap hari, minum-minum sampai muntah darah, Devan, kamu seperti ini, apakah kamu ingin aku menjadi janda di masa depan?" Clover berkata, sambil memukul beberapa pukulan di dada Devan.
Dia yang seperti itu membuat hati Devan menjadi lembut, seluruh tubuhnya menekan dari atas, membenamkan kepalanya di leher Clover, dan mencium aroma tubuhnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, suara Devan dengan lembut berkata, "aku belum bilang ingin menikahi kamu, kamu ingin menjadi janda siapa?"
Clover merasakan sakit di hatinya, menyeka air matanya,lalu mendengus dengan dingin, "jika tidak mau, ya sudah...." sudut bibirnya terpancar senyuman, pria yang bisa mengorbankan nyawanya karena dia, jika dia tidak ingin menikahinya, bagaimana pun juga itu berarti adalah miliknya.
Kedua orang itu berpelukan untuk waktu yang lama,sangat lama....Tiba-tiba, Clover teringat, kalau dia lupa, belum memberitahukan kepada Devan tentang Momo, dia berpikir,lalu menggigit bibir bawahnya,
"kamu bangun dulu,aku masih punya sesuatu untuk kasih tahu kepadamu"
"tidak mau!"
"kamu sangat berat,"
"kalau begitu, kamu di atas saja!"
Di luar pintu
"tidak akan"
Simon tertegun, dia ingin mengetuk pintu, Tifa menarik tangannya, "apa yang ingin kamu lakukan?"
"aku melihat papaku tadi seperti itu, aku khawatir dia akan memukul mama ku"
"tidak, mereka itu...mereka sedang bermain permainan."
"bermain permainan? kamu bohong, mengapa permainan harus mendiskusikan siapa di bawah dan siapa di atas?"
__ADS_1
Helena berjalan ke arah mereka, batuk ringan, mengulurkan tangan, mengetik pintu, "itu...Devan , sudah waktunya untuk makan,"
Tifa menempelkan telinganya di pintu dan bersandar di pintu.
.
Bersambung...
.
.
Gimana??
.
Ngetik di part ini, Mpu jadi ketawa sendiri š¤£š¤£
Tak tahu kalau kalian....?
.
Udah 3 part ini lho....
Jangan lupa tekan like dan komen yang banyakš
__ADS_1
Terimakasih....