Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Jahat Atau Tidak, Harus Di lihat Kepada Siapa?


__ADS_3

...Di coffee shop...


Setelah Gabriel baru saja pergi....


Devan berjalan ke sana dari arah berlawanan, matanya memandang Clover, bibirnya tersenyum, sebenarnya tidak lama setelah Gabriel datang dia sudah masuk kemari, tetapi saat dia melihat mereka berdua sedang duduk bersama, dia ingin melihat bagaimana cara Clover mengahadapi Gabriel, maka dia mencari tempat duduk di baris yang sama dengan mereka lalu duduk di sana. keberadaannya di batasi oleh layar, sehingga mereka tidak menyadarinya keberadaannya.


Awalnya dia berpikir,jika Clover tidak mampu menghadapi Gabriel, dia tidak keberatan untuk membantu Clover mengatasinya, tetapi dia tidak menyangka kalau Clover-nya ternyata hebat juga.


"lumayan! Clover-ku ada kemajuan" seiring dengan terdengarnya suara yang sangat familiar, sesosok tubuh yang tinggi duduk di seberangnya, noda kopi yang ada di sana sudah di bersihkan sampai bersih. Tetapi meja yang masih terlihat basah itu mengingatkan Clover kalau Gabriel baru saja datang kemari.


"sejak kapan kamu datang kemari?" Clover bertanya. Devan berkata seperti itu, itu jelas menunjukkan kalau dia sudah datang dari tadi.


"sedikit lebih lambat dari Gabriel" sambil berbicara, dia mengambil cangkir Clover,lalu hendak meminumnya, Clover jadi panik, "itu bekas ku"


Devan menatapnya dan tersenyum, "memangnya kita masih saling membedakan ini punya siapa?" setelah berkata seperti itu, dia langsung menyeruputnya.


"apa kamu merasa kalau aku sangat jahat?" Clover bertanya dengan hati-hati, tatapan matanya menatap Devan tanpa berkedip, dia takut melewatkan ekspresi sekecil apapun di wajahnya.


Devan mengulurkan tangannya, jarinya yang panjang itu mencubit pipi Clover dengan lembut, "jahat atau tidak, harus di lihat kepada siapa? selain itu penafsiran baik atau buruk kembali kepada masing masing orang"

__ADS_1


Clover tertegun, seketika dia mengerti maksud Devan.


Benar sekali, sebagai sesama manusia, kita harus bisa menempatkan diri kita di posisi orang lain. Jika orang lain itu baik kepadaku, aku juga tidak akan merugikannya, itu sudah cukup.


Gabriel sudah memprovokasinya, jika dia tidak menyerang balik, itu bukan baik hati namanya tetapi bodoh!


Tetapi pada akhirnya dia akan tetap menyusahkan orang yang mencintainya.


"ayo kita jalan, aku akan membawa kamu ke suatu tempat"


Saat ini di coffee shop sudah penuh dengan orang, Clover melihat tangannya yang di gandeng oleh Devan, lalu mendongak dan melihat pria yang ada di depannya, Clover menarik nafas yang dalam, dia merasa sedikit terharu dan bahagia, saat ini dia terang-terangan tidak sembunyi-sembunyi seperti yang dulu.


Demi dia, dia tidak akan mengalah lagi kepada Gabriel.


Sambil berpikir seperti itu, dia menggenggam tangan Devan semakin erat.


Devan melihat ke bawah dan melihat ujung jari Clover sedikit memutih karena menggenggam tangannya dengan sangat kuat.


"sepertinya kamu tidak akan pernah melepaskan tanganmu lagi?" dia bertanya

__ADS_1


"iya!" Clover menganggukkan kepalanya dengan yakin.


Kebahagiaan yang tidak terlukiskan mengalir di hatinya, Devan membungkukkan tubuhnya yang tinggi dan mencium pipi Clover dengan pelan, bibirnya terasa panas, "Clover...."


Wajah Clover memerah....


Di samping mobil, saat dia melihat Clover akan duduk di kursi belakang, Devan mengerutkan alisnya dan berkata, "duduk di depan saja, agak sedikit jauh, aku merasa kesepian kalau mengendarai mobil seorang diri"


"kenapa tidak menyuruh sopir untuk mengendarai mobilmu?"


"ingin berdua saja dengan mu" dia menjawabnya dengan sangat santai.


Pipi Clover terasa sedikit panas, tetapi dia tetap menurut untuk duduk di samping kursi pengemudi....


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2