Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Kakek Clover Bertemu Ayah Gabriel


__ADS_3

"Mungkin masalah baru datang lagi?"


"Masalah baru?" Clover tak mengerti dan merasa sedikit penasaran dengan masalah yang bisa di sebut sebagai 'masalah baru' oleh Devan.


"kalau keluarga Gabriel datang meminta dia kembali, kamu mau bagaimana?" Devan menatapnya dengan lekat, sampai tidak mengedipkan matanya.


"keluarga Gabriel?" Clover benar-benar tidak menyangka tentang itu, sambil makan bubur, dia menjawab dengan santai,


"bukan kah kamu sudah menyelesaikan masalah ini?"


Devan melipat tangannya di depan dadanya dan menyandarkan di sofa, sudut bibirnya terangkat karena merasa bahagia terhadap kepercayaan Clover terhadap dirinya. "kamu benar-benar bersikap tenang saja"


Clover mengangkat alisnya, "apa kamu tidak benar-benar mengurus tentang itu?" kalau Gabriel tahu Clover menjemput Gary keluar, wanita kejam itu tidak tahu mau buat masalah apa lagi?


Devan tidak menjawabnya,alisnya mengerut dan menyipitkan matanya sambil mengangguk, menjawab dengan santai, "tidak. Jadi, keluarga Gabriel sudah mencari ke sini" Devan melihat ke jam di tangannya, "kalau tidak ada insiden lain, dalam dua jam, mereka seharusnya akan sampai ke sini"


Clover berdiri, menggigit bibir bawahnya dan mengerutkan alisnya, tidak mengerti akan tujuan Devan.


Mereka bisa mencari sampai sini dalam waktu begitu pendek, Devan jelas tahu tentang itu tetapi dia tidak berniat untuk menghentikannya.


"biarkan mereka datang saja, aku ingin tanya dengan jelas, mengapa kakakku bisa sampai ke rumah Gabriel, lalu apa hubungan ayah Gabriel dengan ibuku?" walaupun masalah ini tidak bisa menjadi jelas hari ini, Clover tetap akan mencari kesempatan untuk bertanya ke ayah Gabriel tunggu kondisi Gary agak baikan.


Clover ingin bertanya mengapa kakaknya bisa di asuh di rumah Gabriel, mengapa ayah Gabriel bisa begitu mirip dengan Gary ketika dia bukan ayah mereka.....


Devan tidak berbicara, hanya memegang tangan Clover dan menyuruh dia untuk duduk.


Sesuai dengan perkiraan Devan, mereka mendengar suara bel dari luar pintu dua jam kemudian, awalnya Devan ingin pergi melihat, tetapi Clover yang cemas lebih cepat sampai ke depan pintu dan Clover melihat seorang pria yang berusia sekitar 40 50 tahun.


Clover terdiam sejenak, dan dia baru menyadari orang itu adalah ayah Gabriel setelah melihat dengan teliti.


Ayah Gabriel yang melihat Clover juga terdiam sejenak, sebelum berkata, "apa kamu adalah Clover?"

__ADS_1


Clover berpikir ayah Gabriel tidak akan senang jika dia menjumpai dirinya, tidak menyangka dia menyapa Clover dengan nama panggilan nya dengan ramah.


"iya, pa.....paman" kalau orang itu tidak sopan terhadap Clover, Clover juga tidak akan berpikir mau sopan terhadapnya. Tapi sekarang orang itu tidak memiliki maksud jahat,Clover juga tidak tega bersikap jahat kepadanya dan mengikuti Gary menyapanya.


Clover mundur dua langkah dan membiarkan ayah Gabriel masuk.


Yang terkejut adalah ayah Gabriel datang sendiri, Clover tidak melihat Gabriel.


Pada saat ayah Gabriel melihat Devan di ruang tamu, ekspresinya sangat tenang dan itu membuat Clover sedikit tidak mengerti. Bukannya dia akan marah ketika dia melihat menantunya bersama dengan wanita lain?


Mau sebagus apapun etikanya, melihat adegan seperti itu pun seharusnya dia merasa marah.


"Devan...." ayah Gabriel menyapa Devan duluan.


Devan melirik dia,lalu berdiri dari sofa, berjalan ke sisi Clover, "suruh kakakmu keluar" setelah itu, Devan menyuruh ayah Gabriel untuk duduk.


Clover tidak tahu Devan sedang berpikir apa,dia menuruti kata-katanya, lalu pergi ke kebun belakang untuk memanggil Gary ke ruang tamu.


"kak, nanti kamu akan bertemu dengan orang familiar, jangan terlalu emosi ya!" pada saat sudah akan sampai di ruang tamu, Clover memberi tahu dulu kepada Gary karena takut Gary akan terlalu emosi jika dia bertemu dengan ayah Gabriel nanti.


Langkah kakinya juga tidak berhenti, Gary sangat tinggi dan langkah kakinya juga panjang, Clover menghabiskan tenaga yang cukup banyak baru bisa mengejarnya.


"Gary...." suara ayah Gabriel terdengar sedikit sedih.


Clover terdiam sejenak, lalu melihat ke Devan, berjalan ke arahnya.


Kemudian Clover menoleh ke Gary, tidak tahu apa karena Clover sudah mengingatkannya tadi atau Gary mengenal ayah Gabriel, jarang-jarang emosinya sangat tenang seperti ini.


Gary menatap ke ayah Gabriel dan tidak memberikan reaksi apa pun.


Clover baru saja ingin berkata sesuatu, suara bel berdering lagi dari pintu, Clover mengerutkan alisnya, dan Devan mengangguk terhadap Clover, menyuruhnya pergi untuk membuka pintu.

__ADS_1


Mereka baru saja pindah ke sini dan belum sempat memberi tahu orang lain, jadi, Clover merasa sedikit ragu tentang yang datang itu siapa, pada saat membuka pintu, Clover merasa sangat kaget, kakek, paman, dan beberapa petugas keamanan yang memakai pakaian serba hitam.


Clover tentu kaget dan bahagia, "kakek, paman, mengapa kalian bisa datang ke sini?"


"mengapa kamu tidak memberi tahu kami ketika kamu mempunyai masalah sebanyak ini? kalau bukan karena ayah anak-anak mu, kita pun tidak kan pernah tahu beberapa tahun ini kamu mengalami begitu banyak masalah" paman Clover adalah seorang pria yang hangat, namun senyumannya sangat dingin.


Pada saat itu, Clover baru mengerti mengapa Devan tidak mau membatu dia menyelesaikan masalah tentang itu dan mengapa Devan membuat ayah Gabriel datang ke sini, Devan ingin Clover sendiri yang memahami masalah masalah ini.


"kakek, apa nenek baik-baik saja?" Clover tersenyum kepada kakeknya yang terus menatap dirinya dari tadi, kakeknya melirik, "generasi keluarga kami di permainkan begitu saja oleh orang luar, apa kamu mau seperti ibumu, tidak ingin peduli dengan kehidupan sendiri hanya demi seorang pria?"


Kakek berkata dengan dingin dan masuk ke dalam rumah, Clover menghirup sebuah nafas dan melihat ke pamannya, pamannya menyipitkan matanya kepadanya, "kakek mengkhawatirkan kamu makanya dia begitu, jangan masukkan ke dalam hati"


Clover mengangguk dan mengikuti pamannya masuk ke dalam.


Di dalam ruang tamu, ayah Gabriel dan Gary sedang berbicara, Devan tidak berbicara hanya menyandar di sofa dengan kedua tangan di dalam sakunya.


Melihat Clover dan mereka masuk, Devan berdiri dan menyapa mereka.


"kakek, paman, kalian sudah datang?" ekspresi Devan terlihat sangat tenang, dan semua ini semakin menjelaskan kepada Clover bahwa semua ini sudah di rancang oleh Devan.


"Devan, kali ini sudah merepotkan kamu" kakek Clover menepuk bahu Devan. Berbeda dengan kedinginan dia terhadap Clover, kakeknya bahkan mengangkat sudut bibirnya terhadap Devan.


Sikap yang berbeda ini membuat Clover tidak tahu harus berkata apa.


Mendengar suara, ayah Gabriel menoleh ke mereka, Clover menyadari dia tidak memberi banyak ekspresi dan merasa sedikit aneh. Ekspresi ayah Gabriel itu sangat menjelaskan kalau dia tidak mengenal kakek dan paman Clover.


Benar! wajah orang bisa berubah, tetapi berubah sebanyak apa pun, paling hanya menjadi agak tua, Clover tidak percaya kalau ayah Gabriel sama sekali tidak mengenal kakeknya.


Ekspresinya itu jelas terlihat seperti menghadapi orang asing, atau ayah Gabriel benar-benar tidak mengenal kakek? Clover merasa bingung dengan pemikirannya sendiri.


Di dalam tatapan kakek, memancar sebuah emosi yang asing, dia dengan cepat berjalan ke Gary dan memanggil sebuah nama yang Clover tidak pernah mendengar "Moldi"

__ADS_1


Gary tidak bereaksi, ayah Gabriel yang tidak bergerak dari tadi berdiri dengan santai dan melihat ke kakek dan paman Clover, setelah itu dia melihat ke Devan dan bertanya, "dua orang ini adalah...."


Ayah Gabriel belum sempat berkata, paman yang berdiri di jarak beberapa meter langsung berjalan ke sisi Clover dengan cepat, Clover pun menoleh ke samping dan melihat pamannya memegang sebuah pistol dan menunjuk ke arah kepala ayah Gabriel....


__ADS_2