
Sherin merasa terganggu di tatap oleh Devan, lalu dia berkata, "apakah kamu ingin membantu ku?"
"ya, biar aku saja!" Devan menjawab dengan serius,
Sherin merasa terkejut, Devan ingin membantu?
Sherin mengira Devan hanya merasa segan, dengan sengaja dia mengangguk dan berkata "boleh,kamu saja yang cuci piring!"
Sherin berkata sambil mulai membereskan piring di atas meja tetapi di hentikan oleh Devan.
"kamu pergi sana,istirahat lah! biar aku saja"
"apa?" Sherin yang sangat merasa kaget sampai mulutnya ternganga.
Devan cuci piring?
"itu....biar aku saja yang cuci"
__ADS_1
Devan hanya tersenyum, membuka jasnya, kemudian melipat lengan kemeja putihnya ke atas, seperti sudah terbiasa dia mengumpulkan sisa-sisa lauk menjadi satu, lalu membuangnya ke tempat sampah, kemudian,dengan gerakan yang sudah terlatih dia membereskan piring di atas meja dan membawa ke tempat mencuci piring.
"sebelumnya,apa kamu pernah melakukannya?" Sherin bertanya karena penasaran.
"pada saat SMA, aku bertengkar dengan ayah, aku di hukum untuk mencuci piring selama setengah bulan di hotel,"
"apa?" Sherin agak terkejut.
Devan sangat suka melihat raut wajah Sherin seperti ini, dia membungkuk dan mencium kening Sherin.
"duduk di sana saja,setelah aku selesai mencuci piring, aku ingin menanyakan sesuatu"
Sherin tidak menanyakan apa-apa lagi, dia tahu,saat ini, perasaan di hatinya tengah di penuhi oleh rasa kebahagiaan.
Dia baru saja duduk, tidak lama kemudian,melihat Devan mengelap tangannya dan berjalan ke arahnya.
Devan duduk di sebelah Sherin, mengangkat tangannya untuk memeluk Sherin, dan Sherin pun menyandar ke dalam pelukannya.
"Devan, menurut kamu, apakah kamu mempunyai hutang budi kepadaku? apabila tidak, kamu orang yang sangat luar biasa, kenapa bisa menyukai wanita biasa sepertiku?" Sherin terus berpikir sambil bergumam sendiri.
Tangan Devan yang berada di pinggang Sherin, merangkulnya dengan erat, "benarkah? dari dulu siapa yang bersikeras menolak aku?" Sherin tidak bisa melihat ekspresi wajah Devan, tetapi dari intonasinya berbicara, dia bisa mengira sudut bibirnya pasti sedang tersenyum.
__ADS_1
Dia tertegun, apakah ini memang Devan? dia menggelengkan kepala, tidak tahu.
"tadi kamu bilang ada hal yang ingin kamu tanyakan? ada apa, tanyakan lah....!"
Di saat Devan ingin bertanya, handphone yang di atas meja berdering.
Tidak jauh dari Sherin,lalu Sherin mengambilnya dan memberikan kepada Devan. Matanya menatap tajam, dia melihat nama Gabriel.
Dia menundukkan kepala,hendak berdiri,karena jika dia ada di sana, mereka jadi tidak leluasa untuk berbicara,tetapi di tarik oleh Devan supaya duduk kembali.
Devan mengangkat telpon, dan kemudian dia menekan handfree,
"Devan...." suara di sebrang sana.
"ada apa? " jawab Devan singkat.
Sherin menyadari,saat ini Devan tidak lagi lemah lembut seperti dulu terhadap Gabriel.
"Devan,kamu tidak boleh melakukan hal ini kepadaku! aku yang dulu menyelamatkan nyawa kamu, bagaimana kamu bisa meninggalkan aku begitu saja?" intonasi Gabriel berbeda dengan intonasi sebelumnya, intonasinya sekarang sangat kasar, bisa terdengar, emosinya sedang tidak stabil.
"Gabriel, kita tidak memiliki rasa cinta, memilih untuk berpisah, ini demi kebaikan kita" ekspresi Devan tidak ada perubahan,sangat terlihat tenang.
__ADS_1
"kamu bohong, bilang saja kamu mencintai orang lain, kamu mencintai pengasuh yang bekerja di rumah kamu...hmm,Devan, dari sisi mana,aku lebih segalanya di bandingkan dengan dia, kenapa kamu mencintai dia, tidak mencintaiku?" Gabriel langsung bertanya demikian.....
Sambil nunggu up lagi,boleh mampir di novel lainnya yang berjudul 'Penantian cinta arga'