
Dengan kesadaran terakhir yang tersisa itu, Devan membalikkan badannya ingin keluar.
Devan pun menurunkan gagang pintu yang ternyata sudah terkunci dari luar.
Anak nakal ini,tidak tahu dia tahu tidak apa yang sedang di lakukannya?
Devan memejamkan matanya dan sekuat tenaga menarik wanita itu dari ranjang, kemudian memapahnya, dia ingin menyiram wanita itu dengan air dingin agar wanita itu sadar kembali.
Hanya saja.....pintu kamar mandi juga terkunci.
Memikirkan mereka berdua di dalam kamar tersebut, Devan memejamkan matanya,ada sedikit perasaan tidak tenang.
Dia berpikiran untuk mendobrak pintu, namun secara reflek dia menoleh lagi ke arah wanita yang terbaring di ranjang dan setengah dadar itu, dia adalah seorang wanita, dengan kondisi sepertinya sama dengan dirinya, jika sekarang dia mendobrak pintu, takutnya hal ini bisa menjadi sulit untuk di jelaskan.
Walaupun dia percaya tidak terjadi apa-apa, tapi bagaimana dengan orang lain?
Tangannya pun akhirnya dia turunkan.
Hanya saja,wanita itu bagaimana bisa mengetahui hal ini?, matanya menjadi suram....wajahnya tampak tidak senang, dan menahan diri.
Sherin di dalam pelukannya dengan tidak sadarkan diri, terus menerus mengelus-elus laki laki yang menggendongnya itu.
Jakun Devan bergerak dengan keras, walaupun bentuk tubuh wanita ini tidak jelek, tapi biasanya walaupun laki laki ini melihatnya juga bisa menganggap dirinya tidak melihatnya.
sesuai saja,wanita seperti apa sih yang di inginkan Devan, bisa-bisa tidak ada.
Tapi saat sekarang ini, bagi laki laki itu wanita ini bukan tidak ada aura yang menggoda dirinya.
Devan lalu membaringkan kembali Sherin ke atas ranjang, saat dia ingin melepaskan kedua tangannya, dia pun di tarik erat oleh wanita itu.
Semua kesadaran diri Devan terbuyar sampai di sini.
Malam itu, Sherin hanya merasa dia telah bermimpi, mimpi yang sangat sangat aneh.
Dalam mimpinya, ada perasaan yang seakan menusuk dan membelah hatinya, menyakitkan, ada juga perasaan senang yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.....
Saat membuka kedua matanya, kepalanya terasa sedikit pusing, namun bagaimana pun rasa sakit itu tidak bisa mengalahkan sakit pada tubuhnya.
Sherin mencoba menggerakkan tubuhnya, bagian yang terletak di antara ke dua kakinya terasa nyeri membuat dirinya tidak bisa menahan diri untuk mengerutkan dahinya,apa yang terjadi?
Dia menopang tubuhnya untuk duduk.
__ADS_1
Lalu menemukan,dia bukan berada di dalam kamarnya, melainkan di kamar Simon
Anehh!
Dia membuka selimutnya ingin turun dari ranjang, lirikan dari ujung matanya membuatnya kelihatan ada segumpal-segumpal bekas seperti bekas benturan berwarna keunguan di pahanya, dia terkejut dan terdiam seketika.
Ini,apa yang sebenarnya telah terjadi??
Kenapa,dia sedikit pun tidak bisa mengingatnya.
"chiit..." terdengar bunyi pintu terbuka dari luar sana, secara reflek dia menarik selimutnya, menutupi badan bagian bawahnya.
"mama..." itu suara Simon
Sherin merasa lega dan berbatuk kecil, selain itu baru bertanya, "Simon,kemarin aku kenapa bisa tertidur di kamar mu?"
Simon tidak langsung menjawab pertanyaannya,mengelilingi kamar, membuka pintu kamar mandi, dan melihat ke dalam sejenak, bibirnya melengkung ke atas menggambarkan sebuah senyuman puas.
Lalu berjalan ke samping Sherin, berpura-pura tidak tahu apapun dan berkata," mama,salam kamu dan papaku sudah tidur seranjang, bagaimana kesannya?"
"Shiungg..." Sherin hanya merasakan darahnya menancap ke atas,matanya melotot besar sekali, mulutnya setengah terbuka, nafasnya menjadi sangat cepat.
Setelah beberapa saat, dengan sorotan mata yang bengong,dia berkata." Simon, kamu....kamu tadi bilang apa?"
"Maksudnya,mama dan papaku, harusnya sudah melakukan hal itu, hal yang membuat wajah orang malu itu deh?seperti ini, harusnya kamu bisa....sudah jadi mama ku dehh?" jawab Simon yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sherin.
Bapak yang di hotel kemarin sudah menjamin 100%, obat ini pasti mujarab.
Dahi Sherin mengerut menjadi satu, Tiba-tiba menarik selimutnya sampai menutupi atas kepala,perlahan menundukan kepala, saat dia melihat badan dan pahanya terdapat bekas yang sama.
Sebodoh apapun dirinya, dan sebagaimana tidak berpengalamannya dia,saat ini dia juga tahu apa yang sudah terjadi.
Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat ini,otaknya sangat kacau,namun hal yang sangat di luar dugaan adalah dia tidak meneteskan air mata,karena hal ini sangat mengejutkan dirinya,hingga menangis pun juga tidak bisa menyelesaikan masalah ini.
Sherin dan Devan?
Laki laki yang semalam baru saja bertunangan dengan wanita lain itu, laki laki yang sudah dia pastikan tidak mungkin bisa ada hubungan apapun dengan dirinya, tapi dia dan laki laki itu justru melakukan *hubungan* itu.
Ini....
Dahinya mengerut,tidak bisa menerima.
__ADS_1
"papa ku,setiap bulan tanggal 1,biasa menemaniku tidur, mama semalam kebetulan tertidur di kamarku, maka...." ucap Simon dengan perlahan dan berhati-hati,sambil memperhatikan ekspresi wajah Sherin.
Sherin menghempaskan selimut yang ada di tangannya, lalu melototi Simon, dengan wajah yang sangat serius dia berkata, "Simon,ayo katakan sejujurnya! semalam di dalam susu yang kamu berikan kepadaku itu,apa kamu sudah menambahkan obat?"
Sejak dia mengasuh Simon,dia sangat hangat,lembut, memanjakan dan menurutinya.Baru pertama kalinya berwajah serius seperti ini.
Simon yang di pelototi dengan tajam itu pun menelan ludah, menyesali diri karena telah menutup-nutupi tindakannya tapi akhirnya ketahuan juga.
"aku...aku..."
"apa kamu tahu,apa yang telah kamu lakukan? apa kamu tahu,kamu sudah membuat masalah besar?" ujar Sherin dengan nada suara yang seakan sangat sakit tapi berusaha menahannya,layaknya seorang ibu yang selalu mengerti akan sifat dan perilaku anaknya.Walaupun dia dan anak itu,baru berinteraksi dalam waktu yang tidak lama.Tapi Sherin tetap mengerti sekali anak itu,ekspersi wajahnya menandakan bahwa dia pasti terlibat dalam hal ini.
Sherin mengingat kembali bahwa tidak lama setelah dia meminum susu itu,dia menjadi tidak bertenaga,tidak mungkin hanya kebetulan.
Simon hanya menundukkan kepalanya,tidak bersuara.
Sherin melihatnya,sangat marah namun apa daya, mengambil nafas dalam-dalam, dengan nada yang dingin dia berkata,
"kamu keluar dulu,aku ingin memakai baju!"
Pikiran nya sangat kacau, ini adalah pertama kali untuk dirinya, sesuatu yang paling berharga bagi seorang wanita dalam hidupnya hilang begitu saja, kalau bilang dia itu tidak di rugikan itu bohong..tapi hal ini terjadi karena ulah anaknya, dia bisa berbuat apalagi?
Pikirannya sangat kacau seakan kusut menjadi satu,tidak bisa berpikir sedikit pun.
Apa sebenarnya,Devan....
apa mungkin......dia juga terminum obat?
"kamu samalam juga...."Jawab Simon setelah lama sekali di interogasi dengan serius dan terus-menerus oleh Sherin, sambil menundukkan kepalanya berjalan keluar.
Dan dia lalu membalikan badannya lagi untuk menatap Sherin, raut wajahnya penuh dengan perasaan tidak senang.
Jelas-jelas dia merasa bahwa dia telah melakukan sesuatu yang mengagumkan, mama kenapa tidak berterima kasih padanya,tapi malah seganas itu?
Dia bukannya menyukai ayahnya? Simon bukannya sudah membantunya??
Melihat Simon seperti itu, Sherin pun mengambil celana tidurnya yang terletak di dalam selimut itu, kemudian berdiri.
Menahan sakit di antara kedua kakinya itu, turun dari ranjang dan berjalan ke hadapan Simon, lalu jongkok dan berkata, "Simon,aku dan papa mu bukan suami istri, maka kita tidak boleh melakukan hal tersebut. Tante Gabriel baru lah calon ibumu,...semalam yang kamu lakukan itu,kamu tahu tidak bahwa kamu sudah melakukan kesalahan."
menghadapi anak yang besar tanpa dampingannya ini, Sherin yang saat itu sungguh marah dan tidak rela,tapi kalau tidak memarahinya, dia juga merasa kalau dia tidak melakukan apa yang menjadi tugas seorang ibu.
__ADS_1
Simon sepertinya sudah menyadari keseriusan dari hal ini, menundukkan kepala dan tidak bersuara.
Dia pikir bahwa tante Sherin suka pada papanya, dia pikir,jika dia melakukan ini tante Sherin pasti merasa sangat senang, tapi saat ini tante sama sekali terlihat tidak senang dan bahagia, malah ekspresi wajahnya seperti ingin menangis,apa mungkin benar,dia sudah salah?