
Kediaman Devan
"pak,kata dokter,dia mungkin hanya terkejut saja dan pingsan sementara." ujar pak Hasan melaporkan kondisi Sherin kepada Devan setelah mengantarkan pulang dokter,lalu mengangkat lengannya mengusap keringat di dahinya dan merasa lega setelah itu.
Jika bukan Devan mengamati semuanya tepat waktu,kalau bukan karena mencari Simon,dia sengaja menurunkan kecepatan mobil mereka, hari ini mungkin wanita itu sudah tidak bernyawa lagi.
Karena jalan itu adalah jalan tepi gunung, ditambah dengan dua arah serta luas jalan yang sempit,dengan posisinya terbaring seperti itu di tengah jalan,kalau saja mobil mereka berkecepatan tinggi seharusnya mobil mereka bisa melindas langsung ke atas badannya.
Walaupun beberapa jam sudah berlalu,tapi memikirkan kejadian tersebut,hati Devan masih saja merasa ketakutan terhadap kejadian berbahaya itu.
"Tante,dia....bisa seperti ini karena demi menyelamatkan diriku." ujar Simon yang tidak bersuara dari tadi sejak kembali ke rumah,kemudian tiba tiba dia berjalan keluar dari kamar.Dari suaranya yang serak dan matanya yang sedikit merah itu bisa terlihat dia sudah menangis lama.
Bagaimana pun cerdasnya anak itu,dia tetap masih anak kecil,berhadapan dengan masalah kematian pasti bisa membuatnya merasa takut.
Tangan Devan yang bergenggaman erat itu pun perlahan lepas,dengan raut wajah yang masih sedikit tidak enak dilihat dia menatap anak itu sebentar lalu berkata."sekarang kamu sudah berani ya pergi dari rumah?"
Simon menundukkan kepalanya,dan bergumam."siapa yang menyuruh papa mengusir tante?" tapi dia juga tahu bahwa tadi dia hampir saja membuat masalah besar,oleh karena itu,dia hanya menundukkan kepalanya tidak berani melihat Devan.
Dari perkataan papanya,dia tahu bahwa pengasuhnya pergi bukan atas kehendaknya sendiri,makanya dia berpura-pura tidur,
dan saat Sherin keluar dari villa,dia sembunyi-sembunyi keluar dari pintu belakang dan mengikutinya meninggalkan villa tersebut.
Devan memandangi anaknya dan termenung kembali,saat itu dia sedang duduk di belakang,melihat ke arah samping jalanan karena takut lolos dan tidak menemukan Simon,maka saat itu dia menyimak betul semuanya.Dia melihat Sherin langsung membanting dan menelungkupkan badannya untuk melindungi Simon dan spontan dia langsung memperingati pak Hasan,namun posisi mereka terbaring terlalu dekat dengan belokan di jalanan tersebut.Ditambah kecepatan mobil yang jauh lebih cepat di banding dengan kecepatan manusia.
Dia spontan dengan cepat membongkokkan badannya ke depan,dan membelokkan stir yang di kemudikan oleh pak Hasan itu ke kiri.untung saja pembatas jalan itu kokoh dan untung saja saat itu juga tidak ada mobil yang datang dari arah berlawanan.Kalau tidak,benar benar sulit di bayangkan apa yang akan terjadi...
"papa,papa bukan karena takut pengasuh itu menyukai papa,makanya papa baru mengusirnya pergi kan ya?" gumam Simon dengan suara yang halus sambil menarik lengan baju Devan.
__ADS_1
"Dia sudah pernah memberitahuku berkali-kali bahwa dia tidak ada perasaan apapun terhadap papa....aku mohon pa,biar kan lah dia tetap tinggal di rumah kita,paling-paling gajinya aku sendiri yang bayar." lanjut Simon karena tidak mendapat jawaban sedikit pun dari Devan.Tahun ini dia membantu situs situs ternama memperbaiki beberapa kekurangan sistem situs mereka,dan dari situ dia memperoleh uang yang tidak sedikit jumlahnya.
Kali ini,Devan baru merespon, menundukkan kepalanya dan melihat anaknya,dari sorotan matanya terlihat bahwa dia ada sedikit terkejut bercampur sedih di hatinya.Sifat mereka sangat mirip,memohon kepada orang lain bukanlah prilaku yang seharusnya bisa mereka lakukan.
Kelebihan apakah yang dimiliki wanita ini sampai\-sampai dalam waktu sesingkat ini dia bisa meluluhkan hati Simon.
"papa bisa mencari pengasuh yang lebih baik lagi untuk mu!" jawab Devan dengan nada serak namun dari suara itu terdengar jelas bahwa dia sudah agak menyerah.
Melihat Devan yang tetap saja tidak menyerah, dia menarik kembali tangannya,lalu bersujud dan membungkukkan badannya dan berkata."aku merasa dia seperti mama."
Sambil mengatakan itu,Simon diam-diam melirik Devan lalu mengangkat tangannya dan mengusap matanya kemudian berkata."wanita lain mendekatiku,baik terhadapku,semua itu hanya karenamu papa,aku merasa hanya dia yang melakukan semua ini demi diriku...."
Pandangan matanya terasa sedih.sejak Simon perlahan-lahan mandiri,untuk pertama kalinya dia mendengar dua kata ini dari bibir anak itu.
Adalagi,mendengar kata kata bahwa Sherin mendekati bukan karena dirinya,itu juga membuat Devan merasa agak tidak senang.
Kalau kekhawatiran Devan sebelumnya adalah karena pengasuh baru ini bisa membahayakan Simon,pemikirannya ini seharusnya sudah terhapus dari benaknya sewaktu pengasuh itu menyelamatkan Simon tanpa memperdulikan nyawanya sendiri.Hanya saja yang membuatnya lebih bingung lagi apa mungkin hanya karena dia benar-benar suka anak kecil,suka Simon makanya dia sampai tidak memperdulikan nyawanya sendiri dan pergi menyelamatkan anak orang lain?
Kalau saja wajah mereka sedikit mirip,mungkin saat ini dia bisa curiga bahwa pengasuh baru itu adalah ibunya.
Tapi,jelas saja itu tidak mungkin.wajah anak itu tidak mirip dengannya,bahkan terlihat tampan,dia berpikir pasti ibunya adalah wanita yang mempunyai kecantikan memukau yang luar biasa.
Devan mengangkat tangannya,mengelus-elus kepala Simon sambil berkata."cepat tidurlah! papa akan membiarkannya tetap di rumah ini."
Prilaku dan pengalaman seseorang bisa di palsukan,tapi seseorang hanya bisa hidup satu kali saja di dunia ini,dan dia bisa menyelamatkan nyawa Simon tanpa memperdulikan nyawanya sendiri,benar-benar membuat Devan tidak bisa beralasan lagi untuk mengusirnya.Malah sebaliknya,ketika itu dia takut sekali terjadi apa-apa dengan wanita itu.
" papa,serius kan ya?" tanya Simon lalu berdiri setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari Devan.
__ADS_1
Simon dengan cepat berlari ke kamar sebelah,tapi tangannya di tarik oleh Devan ketika dia akan memasuki kamar itu,di lanjutkan dengan gerakan."sshut..."lalu menarik Simon keluar dan dengan bersamaan dia menutup pintu kamar tersebut sambil berkata."dia masih belum sadar,dokter bilang dia harus beristirahat.Besok pagi baru temui dia lagi,ayo nurut ya?"
Kemudian dia menggelengkan kepalanya saat melihat dengan jelas tidak ada tetesan air mata lagi di mata Simon.Anak ini memang sengaja di beri oleh papanya untuk bertentangan dengan dirinya.
Keesokan pagi harinya,ketika Sherin sadar,dia melihat dekorasi langit langit yang dia kenal,dia pun terdiam sejenak.
ini bukannya rumah Devan? tapi jelas jelas semalam dia sudah pergi meninggalkan rumah ini.
Sambil memijat pelipisnya,dia perlahan bangun,dia merasa sedikit sakit di bagian lututnya,dia buka selimutnya dan melihat bahwa lututnya terbungkus kain perban putih.
Mengilas balik apa yang terjadi,baru lah dia teringat kejadian semalam.
Dia menurunkan kakinya dari ranjang dan berdiri,lalu berlari ke arah pintu.
"aduh..." ucap Sherin yang merasa menabrak sebuah dinding.
"ngapain berlari? kamu pikir mau reinkarnasi?" balas Devan dengan suara datar tidak berperasaan dan tidak sabaran.
Sherin mengelus-elus dahinya dan tidak mempermasalahkan sumpahan Devan tadi,lalu langsung bertanya." bagaimana kondisi Simon semalam? dia tidak apa apa kan?"
Devan menatap Sherin dengan rambut yang agak berantakan sampai-sampai menutupi sebagian wajahnya,walau dia terlihat sedikit lemah,tapi sudah berenergi kembali,ini membuat Devan terdiam sejenak menatapnya,dan dari matanya terlihat perasaan suka yang tidak jelas dari mana datangnya terhadap wanita ini.
Hampir saja nyawa wanita ini hilang,sekarang baru saja sadar sudah memimirkan Simon,perhatiannya ini melebihi dirinya sebagai ayah dari anak itu,dan membuatnya salut pada wanita ini.
Sherin berputar melewati laki laki itu untuk memungut selimut yang terjatuh di lantai dan menariknya dengan remeh lalu melempar selimut itu ke atas ranjang.
Saat ini Devan baru menoleh ke arah Sherin dan berkata."ayo katakan! apa maumu?"
__ADS_1