
Clover memutar badannya dengan perlahan dan melihat Dylan berjalan ke arahnya sambil memegang gelas alkohol, melihat penampilan Clover yang kacau, Dylan sangat terkejut sampai matanya membulat dan tatapannya berisi senyuman, "kakak ipar, kamu pergi kenapa? mengapa bisa sampai seperti itu?" Dylan mengikuti Tifa memanggil Clover kakak ipar.
Karena mencemaskan Devan, Clover sama sekali tidak melihat senyuman di wajah Dylan, Clover langsung menarik lengan Dylan dengan kuat, "Dylan Devan dimana? bagaimana kondisinya? Devan di mana?"
Suara Clover jelas sedang menahan air mata dan Dylan yang mendengarnya menjadi bingung.
Dylan menunjuk ke belakang Clover, "itu, bukannya dia di sana?"
Clover menyeka air matanya, lalu menoleh ke belakang, dia melihat Devan benar-benar berdiri dari jarak yang tidak jauh dari dirinya, meskipun Devan membelakangi Clover, dia tetap bisa memastikan bahwa orang itu adalah Devan. Kemudian Clover berjongkok di lantai dan mulai menangis dengan suara keras.
Mendengar suara Clover menangis, Devan sibuk meletakkan kembali gelas alkohol di tangannya dan berjalan ke Clover kemudian membatu Clover berdiri. Alis Devan mengerut ketika dia melihat penampilan Clover yang kacau. "kamu kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi? kenapa bisa sampai begitu?"
"benar, direktur Clover, acara sudah hampir selesai. Kalau bukan karena bantuan Tuan Devan dan mereka, kamu hari ini akan membuat semua orang menonton lelucon."
Clover melihat ke jam di tangannya, rumah sakit itu adalah rumah sakit paling terpencil di daerah Ciput sehingga memerlukan waktu 3-4 jam untuk pergi dan pulang.
Clover menoleh ke Dylan dan mengerutkan alisnya, "bukankah kamu menyuruh orang untuk menelpon aku dan memberitahu aku kalau Devan mengalami kecelakaan? aku langsung pergi ke rumah sakit itu dan aku tidak dapat menemukan kalian, aku tidak membawa ponsel juga jadi aku hanya bisa kembali lagi ke sini untuk mengambil ponsel dan ingin menelpon lagi kepadamu"
Semakin berkata Clover merasa semakin sedih, air mata yang baru saja berhenti kembali mengalir lagi.
Dylan mengerutkan alisnya, lalu menunjuk dirinya sendiri kemudian menunjuk ke Devan, "aku, aku telpon ke kamu? mana ada! tadi pagi aku pergi untuk menjemput Devan, setelah itu kami langsung datang ke sini bersama-sama, kecelakaan apa? mengapa aku tidak mengerti maksud perkataan kamu"
Clover mengambil ponselnya dan mencari daftar halaman telpon kemudian menyerahkannya kepada Dylan, "kamu coba lihat, jam 7 lebih bukankah kamu menelpon aku?"
Dylan merasa semakin bingung setelah melihat layar ponsel Clover yang menampilkan nama 'Dylan'.
Mendengar itu, Devan langsung mengambil ponsel Clover yang dipegang oleh Dylan dan menekan ke nama Dylan tersebut, tatapan Devan tenggelam setelah melihat nomor ponsel yang tertampil, "ponselmu sudah di sentuh oleh orang lain, nama yang tersimpan itu Dylan tetapi nomor ponselnya bukan nomor ponsel Dylan"
Clover merasa terkejut, lalu mengambil ponselnya, di daftar telpon benar-benar ada dua kontak yang bernama Dylan, pada waktu itu Clover perhatikan ada lebih dari satu nama Dylan di daftar telponnya, mengetahui dirinya tertipu, ekspresi Clover tenggelam dan bayangan seseorang melewati mata Clover.
Clover menangis dan sambil tertawa, kemudian memeluk Devan dan meletakkan kepalanya di dada bidang Devan, "asalkan kamu baik-baik saja! aku benar-benar sangat terkejut"
Alis Devan bergerak, lalu dia memeluk Clover sambil menepuk punggungnya. "jangan terlalu panik waktu bertemu dengan masalah, aku belum mengalami insiden lagi kamu sudah begitu, kalau....."
Clover mengangkat kepalanya dan langsung menutup mulut Devan dengan sebelah tangannya, "tidak boleh ada kalau!" tatapan nya sangat tegas.
__ADS_1
Sudut bibir Devan terangkat, dia berbisik di telinga Clover, "tetapi aku sangat bahagia melihat nona Clover menjadi seperti itu demi diriku"
Dari sudut yang Clover tidak bisa melihatnya, Devan memberikan sebuah tatapan kode kepada Dylan dengan wajah dingin.
Karena ketakutan yang dirasakan pada siang tadi, Clover merasa sangat capek sehingga dia pulang ke rumah setelah menyelesaikan masalah-masalah penting pada sore hari.
Melihat kondisi Clover yang tidak baik, Simon bertanya, "ma, kamu kenapa?"
Clover memeluk Simon dan pada detik itu, Clover merasa dia bisa tidak peduli pada semuanya asal mereka berempat bisa terus sehat dan aman.
Meskipun Simon hanya berusia 10 tahun, kecerdasannya selalu lebih tinggi dibanding anak yang seusia dengannya.
Clover pun menceritakan kejadian siang tadi kepada Simon.
"ma, kamu coba berikan kepadaku nomor ponsel yang sudah menelpon mama itu, aku akan mencari tahu informasi tentang orang itu dan posisi dia pada saat menelpon mama"
Clover sangat terkejut, "kamu bisa mencari tahu tentang itu?"
Simon mengangguk dan mengambil ponsel Clover sebelum memasukkan beberapa angka, setelah beberapa saat, Simon berkata, "pendaftar nomor ini adalah seorang pria yang berusia 18 tahun, posisi dia pada saat menelpon mama adalah di rumah kita"
Clover kaget dan dia pun langsung berdiri, "kamu, kamu bilang rumah kita?"
Clover menjadi bingung, di rumah ini selain mereka berempat hanya ada seorang pembantu yang bertanggung jawab di bagian kebersihan, satu lagi bertanggung jawab memasak dan mencuci baju, selain itu ada dua supir dan satu orang yang bertanggung jawab atas air listrik dll. terakhir adalah bibi Su yang mengikuti Clover pergi dari luar negeri.
Tadi pagi yang menelpon Clover adalah suara seorang wanita.
Bibi Su dikecualikan, dia sudah mengikuti Clover beberapa tahun dan Clover tentu saja mengerti bibi Su.
Bibi yang memasak itu juga bisa dikecualikan, karena orang itu datang dari rumah Devan.
Kalau begitu berarti bibi yang bertanggung jawab di bagian kebersihan, berpikir sampai sini, Clover langsung berdiri dan ingin pergi bertanya kepada bibi itu, setelah berpikir kembali, Clover melihat Simon, "atau tidak, tunggu ayahmu pulang, mama tanyakan dulu padanya, setelah itu lihat mau bagaimana?"
Mungkin karena mengetahui Clover mengalami ketakutan yang sangat besar, Devan jam 7 lebih sudah sampai di rumah.
Pada saat Devan pulang, Clover sedang menemani Momo bermain permainan engklek.
__ADS_1
Clover adalah ibu dari dua anak, namun senyuman dia terlihat seperti seorang gadis, Devan berdiri di depan pintu dan mengambil foto adegan itu kemudian menatap ke Clover.
Jarang-jarang Simon tidak sedang bermain ipad, dia menyandar ke sofa dan melihat ke Clover dan Momo, kemudian memarahi Momo dari waktu ke waktu.
"Momo, apa kepalamu baik-baik saja? kamu sudah pernah meloncat tempat itu, kamu loncat lagi?"
"Momo, apakah kamu bodoh? seharusnya kamu loncat itu dulu...."
Simon semakin marah dan menggendong Momo keluar dari kotak, "kamu ke sini dulu, lihat kakak lompat sekali! mengapa bisa punya adik bodoh seperti kamu?"
Clover yang berada di samping tidak tahu harus tertawa atau menangis, "Simon, apakah kamu sedang mengatakan mama secara tidak langsung?"
Simon melihat ke Clover dan menyentuh bagaian kepalanya dengan malu.
Momo sangat aneh, dia memiliki emosi kecil dengan semua orang kecuali Simon, dia selalu membalas kemarahan dan gangguan Simon dengan senyuman di wajahnya.
Orang bilang kakak laki-laki itu sayang kepada adik perempuannya, keluarga Clover justru terbalik, adik yang sayang pada kakaknya.
"Simon, lain kali jangan mengatai adikmu seperti itu, mengerti?"
Suara devan.
Mereka bertiga menoleh kepadanya.
Momo paling semangat, dia berlari ke Devan dan langsung memeluknya, "papa, kamu sudah pulang?"
Clover memegang bahu Simon dan memberikan sebuah senyuman kepada Devan yang berjalan menujunya.
Devan memeluk Momo beberapa saat sebelum menyuruh Simon membawa Momo ke bibi Su untuk mandi.
Kemudian Devan menarik Clover masuk ke dalam kamar.
"kenapa? ada apa sampai harus berbicara di dalam kamar?"
.
__ADS_1
.
.