
"Devan, kakek bisa melihat kamu benar-benar menyukai Clover" berkata sampai sini, kakek Clover memijat dahinya dan berhenti beberapa saat sebelum lanjut berkata, "tetapi kalau suatu saat kamu harus memilih salah satu antara ayahmu dan Clover, kamu akan memilih siapa?"
"kakek, anda bisa bicara dengan terus terang saja" Devan berkata, sebenarnya pada saat mencari kembali Clover kemarin, Devan sudah menebak pasti ada sesuatu pada saat di ruang baca ayahnya, tetapi Devan tidak bisa berbuat apa-apa juga karena ayahnya tidak mau berkata tentang itu.
"kamu jawab dulu pertanyaanku, jika suatu hari kamu harus memilih satu di antara mereka, apa yang akan kamu lakukan?" kakek Clover sangat keras kepala.
Devan menekan rasa khawatir di dalam hatinya dan menatap ke pria tua di depannya, "Clover adalah ibu dari anak-anak ku, dia juga adalah kekasih ku yang sama pentingnya dengan ayahku"
Mendengar kata-kata itu, ekspresi kakek Clover menjadi agak lega.Dia terus menatap Devan beberapa saat.
"ayahmu membunuh ayah Clover" nada bicara kakek Clover sangat tenang. Tetapi tatapannya berisi sakit hati dan tidak daya.
Meskipun Devan sudah mempersiapkan mentalnya, dia tetap merasa sangat terkejut. Selama beberapa menit itu, dia menatap kakek Clover dengan tatapan kosong.
Tenggorokan Devan bergerak dengan emosi. kedua tangannya mengepal menjadi sebuah tinju dan suara tulang terdengar karena Devan menggenggam tangannya sendiri dengan kuat.
Akhirnya Devan tahu mengapa ayah Gabriel begitu berani, dia pasti sudah mengira kakek Clover tidak akan berani melakukan apa-apa terhadapnya.
Karena kalau Clover mengetahui tentang masalah ini, hubungan mereka akan hancur.
Hati Devan terasa sakit seperti di tembak oleh Beribu-ribu panah ketika dia berpikir suatu hari dia mungkin bisa kehilangan Clover.
Pantas ayahnya bisa menyetujui permintaan ayah Gabriel yang tidak masuk akal itu....
Pantas Gabriel berani membohongi dia, ternyata mereka memiliki kelemahan ayah Devan.
"kakek..... jangan beritahu Clover!" pada detik itu, Devan merasa berbicara saja memerlukan tenaga yang sangat besar.
Kakek menghela sebuah nafas dengan suara rendah lalu berdiri, setelah bertatapan dengan paman Clover, kakek menepuk bahu Devan, "kalau ada waktu, kamu boleh bicara tentang kejadian waktu itu bersama ayahmu, bisa jadi kejadian sebenarnya tidak seburuk apa yang kita pikirkan."
Pada saat Clover bangun, waktu sudah malam, rasa sakit di bagian belakang kepalanya mengingatkan Clover kejadian siang tadi bukan sebuah khayalan.
Setelah membuka mata, Clover melihat Devan berdiri di samping tempat tidur, tidak bergerak dan terus menatap dirinya.
"kamu....kenapa kamu terus saja menatapku?" Clover merasa sedikit malu.
Devan menghela sebuah nafas dan kembalikan dirinya ke realitas, "apa kamu sudah lapar? aku akan pergi mengambil makanan untukmu"
__ADS_1
Melihat Devan hendak pergi, Clover menjadi cemas, "di mana kakek dan pamanku?"
"mereka sudah pulang"
"kakakku dan ayah Gabriel? lalu, kenapa aku bisa tiba-tiba pingsan tadi siang?" Clover memegang bagian belakang kepalanya, "aku merasa seperti ada yang memukulku sampai pingsan, kepalaku sakit sekali...."
Devan terdiam sejenak, merasa sedikit bersalah, dia berbisik kepada Clover, "aku sudah menyuruh dokter untuk memeriksa kamu, katanya gula darahmu terlalu rendah, kamu....itumu sudah datang, apa kamu tidak tahu?"
Setelah itu, Devan menambah, "kakek dan pamanmu membawa ayah Gabriel pergi, kakak mu masih di rumah kita, tenang saja"
Clover mengangguk, dia menarik selimutnya dan melihat ke bawah dengan wajah memerah ketika dia mengerti kata-kata Devan, "siapa....sispa yang membantuku memakai....itu?"
Suara lembut Devan berkata, "kamu ingin siapa yang membantu kamu?"
Wajahnya Clover semakin memerah dan dia langsung menutupi wajahnya dengan selimut, "kamu....kenapa kamu bisa membantu aku memakai itu?"
Devan tidak menjawabnya, Clover melamun sejenak dan diam-diam menarik selimutnya turun, setelah itu, Clover melihat Devan membawakan semangkuk makanan dari luar.
"cepat bangun dan makan ini, tubuhmu memang sudah lemah biasanya" Clover menoleh ke Devan dan melihat semangkuk makanan yang berwarna hitam di atas meja, alisnya mengerut, "itu apa?"
"ayo,makan dulu baru tidur"
Pada saat makan sampai setengah, Clover tiba-tiba mengingat sesuatu, "oh ya, apakah kakekku sudah berhasil menanyakan apa tadi? apa yang terjadi?"
Devan mengambil sendok yang di pegang Clover, dia mengisi mangkuk dengan penuh dan menjawab dengan tenang, "tidak berhasil menanyakan apapun, jadi kakek dan paman membawa dia pulang, sini, buka mulutmu...."
"aku bisa makan sendiri, tidak perlu kamu suapi!" Clover ingin mengambil kembali sendok yang dipegang Devan, tetapi Devan memegang sendok itu dengan kuat sampai jari-jarinya menjadi warna putih.
"aku harus lebih baik kepadamu, baik hingga suatu hari kamu tidak akan tega meninggalkan aku" Devan tidak sengaja mengucapkan kata-kata hatinya.
Kemudian Devan menatap Clover dengan gugup.
Clover menutup mulutnya sambil tertawa, "aku mana tega meninggalkan kamu? kamu kaya, tampan, dan selalu baik kepadaku, kemana lagi harus cari pria seperti kamu?" setelah berkata, Clover memiringkan kepalanya dan mencium bibir Devan.
Devan yang sempat bereaksi langsung menekan bagian belakang kepala Clover untuk meneruskan ciuman itu.
'Clover, jika suatu hari itu datang,aku minta tolong kamu untuk bisa pikirkan tentang kebaikanku......
__ADS_1
Ingatan Devan kembali ke telpon bersama ayahnya satu jam yang lalu.
***************
"ayah, apa kamu benar-benar membunuh ayah Clover?"
Ayah Devan tidak bersuara pada waktu yang sangat lama, di dalam hati Devan memancarkan sebuah harapan, dia berharap ayahnya menjawab itu hanya sebuah salah paham, tapi ayahnya berkata, "iya, kamu bisa menganggap begitu"
***************
"Devan, aku sangat tidak ingin kamu pulang" sambil berkata, Clover ingin mengambil mangkuk yang di pegang Devan untuk di letakkan di atas meja, tetapi Clover menyadari kalau Devan memegang mangkuk itu dengan sangat erat.
Clover merasa sedikit ragu, Devan hari ini terlihat jelas tingkahnya ada yang berbeda.
Kemudian Clover mendorong Devan, "Devan, apa kamu ada sesuatu yang tidak memberitahu aku? mengapa kamu terus melamun?"
Devan yang kembali tersadar pun mengelus kepala Clover dan tersenyum dengan ringan, "aku sedng berpikir, tanpa kamu, nanti aku akan pulang tiap malam tidak bisa tidur bagaimana?"
Sudut bibir Clover terangkat dengan cantik, dia bangun dan berlutut di atas tempat tidur sebelum melingkari leher Devan, "atau kalau tidak,aku berhenti bekerja saja, aku pulang menjadi nyonya Ningga milikmu dan menjadi seorang ibu rumah tangga yang menjaga suami dan mendidik anak, bagaimana?"
Pada detik itu,Clover benar-benar berpikir seperti itu.
Mendengar kata-kata Clover, Devan menggelengkan kepalanya, dia memegang pipi Clover dan berkata dengan serius, "Clover, aku tidak berharap kamu menyimpan semua perhatianmu pada diriku dan anak kita, kamu bisa mempunyai mimpi dan karier sendiri"......"Jika begitu, meskipun kamu tidak mau aku lagi suatu hari, kamu tidak akan mati hanya karena tidak ada aku di sisimu" Devan menambah di dalam hatinya.
Clover melamun sejenak, "Devan, apakah aku menyelamatkan dunia pada saat kehidupanku sebelumnya? kalau tidak, mengapa aku bertemu dengan pria yang baik seperti kamu?" Clover bercanda.
Tetapi Devan tidak bisa tertawa, 'Clover,kalau suatu hari kamu tahu pria yang kamu merasa baik ini adalah anak dari orang yang telah membunuh ayahmu, apa kamu masih bisa merasa kamu menyelamatkan dunia pada kehidupan lalu?
Hati Devan, sangat sakit!
.
Bersambung.....
.
.
__ADS_1
.
Mohon maaf bila tulisan dan bahasanya kurang di mengerti🙏