
Clover ingin mencari Amy,tetapi rumahnya terlalu besar.Ada tiga kolam renang di dalamnya, ada juga pusat kebugaran, ruang dansa, dan sebagainya. Ada puluhan kamar, pola dekorasi setiap kamar hampir sama.jadi dia terus berkeliling dan tersesat.
Pernikahannya itu di adakan di halaman di depan rumah, dan saat ini tidak ada seorang pun di ruangan itu, jadi dia tidak bisa bertanya.
Tiba-tiba dia mendengar suara gemercik air di kamar sebelah, dia dengan sedikit bersemangat,langsung mengangkat tangannya dan mengetuk pintu untuk menanyakan arah.
Setelah beberapa saat,suara air berhenti.
Kemudian, pintu terbuka dari dalam...Matanya pertama-tama melihat sepasang kaki yang masih meneteskan air dari atas, dan kemudian mendongak perlahan, ke perut, ke dada, dan kemudian ke mata suram Devan.
Seketika, Clover menelan ludah dan menatapnya dengan tatapan rakus.
Menampakkan respons naluriah.....
"Nona Clover, tampaknya, anda kekurangan sentuhan seorang laki-laki ?" Devan berkata, lalu berbalik, mengambil sebatang rokok dari meja, mulai menyalakannya, dan menghisap nya di bibirnya yang tipis itu. Asap melingkar di ujung lidahnya.....
Dia memicingkan mata pada wanita di depannya....
Kekurangan seorang laki-laki? Clover tidak tahan untuk tidak melengkungkan bibirnya.Dia memang kekurangan laki-laki....Dia, kekurangan, dia!
__ADS_1
Dia mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan Devan. Saat Clover melihat sebatang rokok yang terselip di antara jari Devan, dia langsung mengerutkan alisnya tanpa sadar.
Saat terakhir kali bersamanya, Devan pernah berjanji pada Sherin kalau dia tidak akan pernah merokok lagi, ini?
"merokok tidak lah baik untuk kesehatan!" Clover tanpa sadar menyerukan apa yang dia pikirkan.
Setelah itu, dia dengan jelas melihat Devan mengerutkan alisnya, dan bibirnya yang tipis itu juga sedikit terbuka. Devan bahkan tidak meliriknya sedikit pun, hanya berkata dengan dingin, "pergi!"
Clover merapatkan bibirnya, lalu untuk sesaat, dia merasakan sangat emosi.
Apakah setelah di dunia ini tidak ada Sherin lagi, maka tidak akan ada wanita lain lagi?
Jika kamu seperti ini, bagaimana dirinya bisa tenang? bagaimana bisa rela?
"aku hanya ingin bertanya,aula depan ada di mana?" Clover menatap Devan, raut wajahnya hampir terlihat bodoh.
sepertinya Devan tidak pernah bertemu dengan seorang wanita yang menatap seorang pria dengan tatapan menusuk seperti ini. Devan mengambil jubahnya, setelah itu, dia mengulurkan tangannya untuk menutup pintu, pintu pun tertutup kembali.
Clover menundukkan kepalanya, setelah itu dia pelan-pelan berbalik dan bersandar ke pintu sambil perlahan merosot ke bawah dan duduk di lantai. dia mendengar suara lirih yang berasal dari dalam, sudut bibirnya perlahan naik.
__ADS_1
Bahkan jika itu hanya sedikit lebih dekat, dia sudah merasa sangat puas.
Dia mengira kalau Devan setidaknya akan lebih lama di dalam, jadi dia sama sekali tidak waspada.
Biar bagaimana pun memakai baju itu membutuhkan sedikit waktu. Sehingga saat tidak sampai satu menit kemudian Devan sudah membuka pintu, dia pun langsung jatuh ke lantai.
Kepalanya berada di antara kedua kaki Devan, saat itu posisinya sangat terlihat canggung dan memalukan.
Tatapan mata Devan terlihat sukar di mengerti dan menatap wanita yang terjungkal di lantai itu dengan datar,
"sebenarnya, apa yang mau kau lakukan?"
Clover tertegun, setelah itu, perlahan lahan dia duduk dan bernafas dengan terengah-engah, dia pun berdiri dan berbalik lalu menatap Devan, "jika aku berkata, aku memang kekurangan sentuhan seorang laki-laki, apa kamu bersedia memenuhinya?"
Clover merasa kalau dirinya sudah gila, makanya sampai bisa mengatakan hal seperti ini....
.
Bersambung....
__ADS_1