
Dini hari keesokan harinya di bandara
"kak, boleh kah aku membawamu kembali ke kota Ciput? apa kamu ingat kota Ciput? tempat di mana kamu di besarkan?"
"argh....kamu pergi, kamu pergi. Aku tidak mau pergi ke kota Ciput, aku tidak mau pergi!" Gary sudah tiba di samping pesawat.Clover awalnya berpikir kalau Gary akan bahagia, jadi dia memberitahu kepadanya. Tetapi dia tidak menyangka reaksinya begitu besar.
Kemudian, Gary tidak mau naik pesawat lagi.
Tidak peduli bagaimana Clover membujuknya pun tetap tidak berguna.
Pada akhirnya, Clover membawanya langsung dari rumah sakit. Devan mengkhawatirkannya dan menemaninya.
Karena rumah yang awalnya di sewa terlalu kecil, Devan langsung mengganti ke villa besar yang terpisah setelah tiba.
"Devan, bisa kah menjemput Simon dan Momo ke sini, kakakku merasa waspada kepada kita, jadi dia tidak bisa membuka hatinya, namun Simon dan Momo adalah anak-anak. mungkin kah?"
"baik. aku akan mengaturnya"
__ADS_1
Hati Clover bahagia. Jujur saja, dia tidak membawa banyak harapan ketika bertanya. Lagi pula, kondisi Gary tidak stabil, dia akan kehilangan emosinya dengan tidak jelas, kadang bahkan bisa melukai orang. Simon dan Momo masih anak anak, dia sebenarnya juga khawatir apakah Gary tidak akan melukai mereka, tidak terduga Devan menyetujuinya tanpa ragu.
"Devan, betapa baiknya kamu terhadapku" beberapa hari ini, demi Gary, mereka tinggal di kota Seroja selama empat hari. Dia takut menunda pekerjaan Devan dan menyarankannya untuk kembali ke kota Seroja terlebih dahulu, tetapi bagaimana pun Devan enggan pergi, dia menemaninya di rumah sakit pada siang hari.
Di malam hari, ketika dia tertidur dan bangun di tengah malam, dia melihat kalau Devan masih berbicara dengan Dylan tentang pekerjaan.
Jadi, selama beberapa malam selalu begitu. Di pagi hari, ketika dia bangun, Devan sedang Konferensi vidio di luar negeri.
Tetapi di siang hari Devan tidak melakukan apa-apa dan hanya menemaninya. Devan yang begitu membuat Clover sakit hati.
"sudah pernah kita katakan,tidak akan meninggalkan satu sama lain, apa kamu lupa?" pria itu menanggapi Clover dengan santai. Dia merasa ini masalah yang biasa antara sepasang kekasih memang seharusnya begitu.
Selesai dia berkata, dia pun bangun dan turun dari tempat tidur.
Clover tahu bahwa Devan akan bekerja lagi. Dia cemas, lalu menariknya. "atau tidak, kamu jangan kerja lagi malam ini, tidur lebih awal saja?"
Setelah itu mendorong lengan Clover ke samping, berputar badan dan berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
Clover berpikir dan menarik nafas, kemudian bangun dan maju memeluk Devan dari belakang, "apakah....kamu sudah bosan denganku?" Clover cemberut dan wajahnya tampak gelap.
"bagaimana mungkin?" kata Devan sambil berbalik badan dan menatap Clover dengan wajahnya yang sedikit gugup.
Ada kilasan bahagia di wajah Clover, tetapi wajahnya sangat kecewa. "tapi, kamu sudah berhari-hari....tidak menyentuhku?"
Setelah kata-kata tersebut, dia mengulurkan jari-jarinya dan mulai membuka kancing kemeja Devan, satu demi satu dari atas ke bawah....
Dia mendengar nafas Devan dari yang ringan hingga yang berat.
ketika tangannya menyentuh kancing terakhir, Clover tidak bergerak, hanya melihat ke atas dan menatap Devan, tanpa sadar ******* bibir merahnya, "Devan....." dia berbisik.....
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....