
Pada malam hari, Sherin yang sedang tertidur nyenyak harus terbangun karena mendengar suara.
(tok tok tok) menggedor pintu.....
"Sherin, buka pintu! jika kamu tidak membuka pintu sekarang, aku akan menyuruh orang untuk membongkar pintu ini!" suara Devan terdengar agak serak, sepertinya dia sedang dalam keadaan mabuk. Hati Sherin merasa kacau, dia memejamkan matanya dan menghirup nafas yang dalam, "Devan, mengapa kamu tidak pulang ke rumah kamu sudah larut malam seperti ini dan malah datang ke rumahku?"
Sherin langsung mengulurkan tangannya dan mengambil tas berisi kosmetik yang terletak tidak jauh darinya.Dia bergegas menata riasan untuk dirinya. Sherin mengira dirinya sudah aman untuk tidak menata riasan pada saat tidur karena dia hanya tinggal sendirian.Sekarang,Sherin berpikir dia harus tetap menata riasan dulu sebelum tidur.
"aku menyuruh kamu untuk membuka pintu!" Devan berkata dengan nada memaksa.
"tunggu sebentar! aku akan memakai pakaian dulu" Sherin mengerti personalitas pria ini, karena pria ini akan benar-benar membongkar pintu jika dia tidak segera membukanya.sebelum Sherin membuka pintu, dia memeriksa riasan nya terlebih dahulu.Setelah memeriksa riasannya di cermin, Sherin langsung membuka kan pintu dan satu tubuh yang tinggi langsung jatuh menimpa ke arahnya. Sherin membawa Devan ke tempat tidurnya.Rumah dia sangat kecil, tempat yang bisa di duduki hanya tempat tidurnya saja.
Devan menatap Sherin dengan tatapan yang tajam.Setelah Devan merentangkan lengan panjangnya, Sherin yang sedang berdiri di sisi tempat tidur di tarik olehnya hingga terbaring di tempat tidur bersamanya. Sherin berusaha untuk bangun, tetapi Devan menghalangi gerakannya dengan mengunci Sherin menggunakan lengan panjangnya.
Bau alkohol dari Devan pun sangat menyengat membuat Sherin mengerutkan alisnya.
Cahaya kuning yang gelap terpancar di wajah Devan melalui tirai jendela dan menambahkan sedikit kesombongan pada wajahnya yang tampan. Sherin memaksa dirinya untuk menoleh ke arah samping dan berhenti untuk memandang wajah Devan. "Devan, tolong sadar diri! Sherin bersuara untuk mengingat kan Devan, juga untuk mengingatkan dirinya.
__ADS_1
Devan mengelus-elus pipi Sherin dengan lembut. Perlakuan Sherin membuat Devan merasa di abaikan untuk pertama kali di dalam hidupnya. Devan mengarahkan wajah Sherin untuk berhadapan dengan wajahnya dan sedikit berbisik dengan suara rendah "Sherin, apakah kamu benar-benar membenci diriku?" tanyanya.
Sherin dan Devan saling bertatapan.Sherin melihat ke tatapan Devan dan menjawab sambil tersenyum "apakah kamu pikir aku masih akan menyukai dirimu setelah kamu melakukan hal-hal seperti itu kepada diriku?" setelah menjawab,Sherin langsung melarikan diri dari tatapan Devan dan melihat ke dinding langit-langit hitam kamarnya. Devan memegang tangan Sherin dan menariknya kembali.Lalu dia memeluk Sherin dengan erat dan berkata kepada Sherin dengan nada suara yang berharap "aku akan memperbaiki kesalahanku!"
Sherin merasa tenggorokannya serak dan detak jantungnya menjadi lebih cepat. Orang hebat seperti Devan berkata akan memperbaiki kesalahannya kepada sherin? siapa yang tidak akan merasa tersentuh?
Namun, Sherin berpikir kalau Devan tetap adalah tunangan orang lain. Bagaimana dia bisa memperbaiki kesalahannya?
"Devan,apapun yang kamu lakukan, aku tetap tidak akan menyukai dirimu. aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta kepada laki-laki yang sudah di miliki oleh orang lain." ucap Sherin. Sherin tahu kata-kata ini akan membuat Devan merasa kesal, tetapi dia tetap harus memberi tahunya.
"laki-laki milik orang lain? berarti jika aku tidak memiliki wanita lain, kamu akan pertimbangkan hubungan kita ini?" Devan melihat ke Sherin dengan tatapan yang mengejek.
Mendengar kata-kata Sherin, tatapan Devan menjadi tenggelam. dia mengelus-elus lagi pipi Sherin dengan lembut dan berkata "Sherin, apakah kamu sedang memaksa aku?"
"Devan....bukan...." sebelum Sherin sempat selesai berbicara, Devan sudah terlebih dulu mencium bibirnya.Secara refleks, Sherin ingin mendorong Devan. tetapi Sherin tidak bisa melakukan apa-apa dalam posisi seperti itu.
Devan tiba-tiba melepaskannya saat Sherin sudah merasa akan sesak nafas. Devan mengangkat tubuh Sherin dan membaringkannya di bagian dalam tempat tidur dengan sangat lembut. Kemudian Devan sendiri berbaring di samping Sherin dan menghadap ke samping juga, lalu memeluk pinggang Sherin.
__ADS_1
Sherin merasa sangat gugup hingga dia terdiam tidak bisa mengatakan apa-apa. di dalam kamar yang sunyi, sherin bahkan bisa mendengar suara deru nafasnya sendiri.Meskipun keduanya sudah pernah melakukan hal seperti ini sekali waktu itu.Tetapi ini adalah pertama kali dalam kehidupannya Sherin berada di satu tempat tidur dengan seorang pria.
"Devan...." suara Sherin sedikit bergetar.
"tidak, kalau tidak....." Devan berbisik di samping telinga Sherin sambil tersenyum "aku tidak akan keberatan untuk lanjut melakukan olah raga lainnya dengan kamu"
Olahraga pada malam hari ini? kali ini, Sherin mengerti maksud Devan, pipi Sherin pun menjadi memerah.Awalnya, Sherin masih ingin melepaskan tangan Devan yang memeluk pinggangnya.Tetapi setelah mendengar kata-kata Devan, Sherin bahkan tidak berani bergerak.
Badan kaku Sherin menjadi lebih lega setelah dia mendengar suara deru nafas Devan yang beriringan semakin ringan.Bukan kah Devan akan insomnia,jika dia tidak makan obat? tetapi Devan malah tidur lebih cepat dari pada Sherin? kemudian,Sherin sendiri juga tidak tahu bagaimana dirinya tertidur.
Ketika Sherin terbangun di pagi hari, ternyata orang yang semalam berada di sampingnya sudah tidak ada. secara tidak sadar Sherin mengulurkan tangannya, meraba-raba dan menyentuh ke sisi samping tempat tidurnya.Selimutnya masih membekas kehangatan Devan, berarti dia baru saja pergi tidak lama. Sherin merasa tidak realistis ketika dia memikirkan bahwa dirinya tidur dengan Devan di satu tempat tidur selama satu malam.
Mencium aroma yang Devan tinggalkan, sherin merasa jantungnya berdetak dengan cepat.tetapi hatinya merasakan sebuah ketenangan yang sulit di jelaskan.
Setelah Dylan sampai di kantor, dia tidak sengaja melihat Devan yang sedang memikirkan sesuatu di dalam mobilnya.Dylan menarik pintu mobil dan memasuki mobil Devan.Melihat Devan yang masih memakai baju semalam, Dylan tentu terkejut dan dia pun bertanya "oh, apa yang terjadi? apa kamu tidak pulang ke rumah kamu semalaman?"
Tangan Devan berada di belakang kepalanya, badannya bersandar di kursi dan wajahnya tersenyum.Dylan menjadi ingin tahu siapa dan masalah apa yang bisa membuat Devan yang masih depresi semalaman menjadi bahagia dalam waktu satu malam.
__ADS_1
Devan tidak berbicara, dia hanya melirik saja kepada Dylan.