
... BAB ini, BONUS........
Tifa menempelkan telinganya di pintu dan bersandar di pintu.
Clover mendengarnya, mengerutkan kening, lalu mendorong Devan dengan kuat, dan cepat membuka pintu kamar, kemudian Tifa yang tanpa persiapan pun jatuh ke dalam pelukan Clover.
Kemudian kedua orang itu jatuh ke lantai.
Kemudian, Devan datang dengan langkah terburu-buru, membantu Clover berdiri dan membawanya ke dalam pelukan, lalu bertanya dengan khawatir, "kamu baik-baik saja?"
Dari awal hingga akhir dia tidak melihat Tifa yang masih terbaring di lantai.
"kak, apa kamu masih waras? aku juga adikmu..." Tifa bangkit duduk, dan langsung berteriak kepada Devan, tetapi sebagai pengganti itu, Devan hanya memberinya tatapan mencemooh.
Tifa membuka mulut, berpura-pura menangis dengan keras, bangun dari jatuhnya dan keluar dari kamar. "ma, kakak mengancam ku..." ucapnya dengan manja.
Mendengar tuduhan itu, Clover mendongak menatap Devan, "apakah adikmu ini biasanya juga seperti ini?" Tifa yang ada di rumah sakit dan Tifa yang sekarang benar-benar berbeda.
Devan dengan dingin berkata, "kekanak-kanakan."
Simon berdiri di sisi pintu, melihatnya berjalan keluar, dia langsung maju memeluknya "mama...."
Clover langsung balas memeluk Simon dengan erat.
__ADS_1
"Simon, mama seharusnya tidak menyembunyikannya dari kamu,mama Minta maaf, apakah kamu baik-baik saja beberapa tahun ini?" Clover melepaskan pelukannya dan menatap Simon dari atas sampai bawah.
Simon mengangguk, merasa malu "baik-baik saja, hanya saja....selalu merindukanmu!" setelah berkata, dia mendongak kepalanya dan tidak membiarkan air matanya mengalir turun, berbeda dengan Simon yang cengeng dulu, dia sekarang menjadi lebih tegar.
Clover mengingat-ingat, berhenti sebentar,lalu bertanya dengan lembut, "apakah wanita itu pernah membuatmu kesal?"
Simon pastinya tahu siapa yang di maksud oleh Clover, dia pun menggelengkan kepalanya dan menoleh ke belakang dan melihat Devan. "ada papa. Dia tidak berani macam-macam denganku."
"mama, aku tadi dengar nenek bilang bahwa kamu waktu itu ada kesulitan sendiri dan terpaksa harus meninggalkan aku, jadi aku tidak akan menyalahkan mama."
Clover tersenyum lega, langsung menarik Simon ke dalam pelukan nya, "Simon, mama berjanji padamu, mulai hari ini, mama tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi,tidak peduli apa pun alasannya," beberapa tahun ini dia benar-benar berhutang banyak kepada anak ini.
"ayo kita turun,makan dulu," Devan menyela mereka, di bandingkan dengan tadi, ekspresinya agak santai.
Melihat punggung Clover, Devan mengerutkan keningnya, merasa bingung.
Setelah beberapa saat, dia melihat Clover membawa seorang anak kecil keluar dari kamar itu.
Ketika Devan melihat penampilan anak itu dengan teliti, dia terkejut, bukan kah anak ini adalah anak yang dia lihat ketika hari pernikahan Yuta?
Hanya saja, dia....
"maksudnya apa ini?" pandangan Devan sangat dalam, Yuta pernah mengatakan kepadanya bahwa Clover melahirkan seorang anak lagi, perempuan, pada saat itu, ketika dia mendengar kalau Sherin tidak meninggal, dia sangat senang,dan tidak menghiraukan tentang anak kecil ini.
__ADS_1
Clover meremas kepala Momo, menurunkan kepalanya dan perlahan berkata, "Momo, panggil dia!"
"halo paman!"
Paman? Clover menetap Momo dengan heran, dia Jelas-jelas tadi sudah mengajarinya untuk memanggilnya Ayah.
Tanpa melihat ke Devan saja dia sudah merasakan tatapannya yang dingin.
Setelah sekian lama sunyi, Devan berkata, "anak siapa?"
.
Bersambung....
.
.
Mohon dukungannya like dan komen....
Terimaksih...
Love you all
__ADS_1
💖💖💖💖