
Tubuh Sherin tentu saja seutuhnya merasa terkejut, dia merapat\-rapatkan bibir, menundukkan lebih dalam lagi, wajahnya memerah hingga seperti tetesan darah.
"kamu....kamu kenapa bisa datang ke sini?"
Devan dengan luwes meletakkan tangannya di pinggang Sherin, menunduk,mengangkat alisnya, dan balik bertanya "kalau aku bilang ingin menemui kamu, apakah kamu percaya?"
"pagi tadi bukannya baru berpisah?" Sherin secara reflek menjawab,
"Sherin,kamu tidak melihat, seakan sudah melewati 3 musim semi, dan aku sudah melewati 2 musim semi" laki-laki itu berbisik di telinga Sherin.
Suara Devan itu memeng sudah merdu, apalagi saat ini mengatakan kata-kata cinta yang sangat menyentuh, Sherin merasa kalau di teruskan lagi,laki-laki itu bisa saja terlihat tenang,sedangkan dirinya sendiri malah tidak bisa tenang.
Tapi untungnya,dua orang ini sengaja mengecilkan suara, orang di sekelilingnya seharusnya tidak mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
Yang bisa terlihat adalah interaksi mereka yang sebelumnya terlihat mesra.
"uhuk...." kemudian ada seorang yang mengeluarkan suara batuk.
Juga membuat Sherin tertarik kembali ke dunia nyata dari dunia mereka berdua.
Sherin menoleh, melihat Debora yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Direktur....Devan....." ekspresi wajah Debora menjadi kaku keras, berbicara dengan agak gagap.
Devan membalikkan badan melihat ke arah Debora, pandangan matanya menjadi dingin "kamu siapa?"
Semangat Debora yang menggebu-gebu itu, setelah mendengar kalimat dari Devan ini, seketika menjadi suram, ketika dia pergi untuk merias Gabriel, dia sudah pernah berinteraksi langsung dengan Devan tidak kurang dari 10 kali.
Meski dia sendiri juga menyadari bahwa penampilannya tidak bisa di bandingkan dengan Gabriel,tapi di bandingkan dengan wanita di hadapannya yaitu Sherin,dia masih berlebih lebih.
Akan tetapi?
Devan sama sekali tidak tahu dia itu siapa,malah saat ini bersama dengan Sherin gadis desa itu bersikap mesra.
Berpikir sampai di sini, tanpa di sadari api amarah berkobar.
__ADS_1
Berbicara tanpa melewati pikiran lagi.
"anda adalah calon suami Direktur Gabriel kan? saya adalah karyawan di kantornya, nama saya Debora"
Jatuhnya perkataan Debora itu, membuat raut wajah semua orang di sana tidak ada yang tidak berubah.
Dari perkataan dia ini sangat jelas memberi tahu orang lain bahwa Sherin ini sedang merayu calon suami orang.....
Jelas,Sherin tidak menduga, Debora bisa mengumumkan status Devan.
Tetapi....
Kalau ini terjadi sebelum kemarin, saat ini, Sherin mungkin saja bisa merasa malu dan gelisah lalu melarikan diri.
Tapi,setelah mengalami hampir saja di perlakukan tidak adil oleh orang sampai mau masuk dan mendekam di penjara....
Dirinya saat ini,tidak merasa bersalah,juga semakin tidak merasa malu lagi, dan dia juga tidak pernah beranggapan bahwa dirinya sendiri adalah orang baik seperti apa, dia hanya menganggap dirinya tidak mempunyai pemikiran untuk melukai siapa pun.
Sherin dengan dinginnya menyoroti Debora sejenak, selanjutnya, pandangan matanya memutar balik, melihat ke arah Devan, "Devan, tadi ada orang yang mengatakan kalau kamu terlalu tua, ****** ***** ini dipakai oleh anak muda, kalau kamu beli kamu juga tidak bisa memakainya, kalau begitu, ya sudah jangan di beli deh!" setelah mengatakan,mata lugunya menatap Devan.
Namun juga tidak banyak berbicara,hanya menolehkan kepalanya melihat ke luar dua kali.
Selanjutnya, Dylan membawa dua orang berbaju hitam yang tidak tahu dari mana.
Satu orang satu,menarik beberapa wanita keluar dari toko.
"milik Direktur Gabriel,adalah milik perusahaan kami juga" Sherin mengingatkan.
Devan mengangguk, memberi kode kepada Dylan agar Dylan ikut pergi untuk menyelesaikannya.
Sherin mengangkat-angkat alis,akhirnya kepenatan di dadanya sudah banyak berkurang, Sherin tidak ingin mengatur bagaimana Dylan menghukum mereka. Di kemudian hari, terhadap orang yang tidak menyukai dirinya, atau pun terhadap orang yang tidak dia sukai, Sherin berencana, dirinya tidak perlu harus berbaik hati lagi.
Sekarang ini,bisa di bilang ada gunung di belakang Sherin, kalau dia tidak baik-baik menggunakannya, bukannya sia-sia?
Kemudian,Devan juga menemani Sherin untuk memilih kado untuk Simon, tentu saja, kado itu menjadi kado dari Sherin, namun uangnya di hitung ke tagihan Devan.
__ADS_1
Di dalam mobil, Sherin berbaring dalam pelukan Devan, mengangkat kepala, menatap ke Devan,lalu bertanya "kamu rasa, apa aku sudah jadi jahat?"
Devan mengangguk, dengan cepat menjawabnya "iya...."
Sherin memelototi Devan,tangannya mencubit sebentar dengan kuat di pinggang Devan.
Raut wajah satu orang tetap saja tidak berubah, detik selanjutnya, Devan membungkukkan badan, mengambil kesempatan untuk mencium sebentar di bibir Sherin yang merah itu. Suara rendah yang serak itu di samping telinganya berkata "aku menurut saja"
Dylan yang berada di depan pengemudi tidak bisa menahan diri untuk mengomel sebentar, dulu dia selalu berkata, Devan adalah manusia kayu dan tidak bisa menyayangi wanita, di kemudian hari, siapa yang ikut dengan Devan, di perkirakan bisa tersiksa hatinya di siksa sampai menangis.
Namun sekarang, Dylan baru menemukan dengan jelas bahwa sebelumnya IQ orang itu terlalu rendah, hanya tidak menemukan orang yang tepat.
Dylan berpikir, kemampuan alami wanita ini, sampai-sampai Profesor percintaan seperti dirinya,bisa saja mengemis cinta darinya.
Setelah membawa Sherin dan Dylan makan bersama, Devan menyuruh Dylan pergi ke rumahnya untuk membawa Simon kemari,kemudian mengantar Sherin ke tempat tinggalnya.
"nanti sore,kamu tidak perlu ke kantor?" tanya Dylan kepada Devan.
"tidak perlu, kamu beres-beres sebentar, ganti pakaian, sore nanti bawa Simon jalan-jalan!" kata Devan yang duduk di atas sofa dan menoleh ke Sherin yang baru keluar mencuci tangannya.
Sherin terlihat jelas kaget, "tahun baru, kamu tidak ingin berkumpul bersama keluarga?"
Devan meletakkan buku di tangannya ke samping, lalu dia berdiri, berjalan ke belakang Sherin, dari belakang merangkulnya,suara yang hangat dan lembut di samping telinga Sherin, perlahan mengeluarkan kata, dia berkata "Sherin, mulai saat ini, kamu juga adalah keluargaku!"
Tubuh Sherin terlihat bergetar sebentar, keluarga? betapa tidak berani mendambakan kata ini,matanya pun memerah, membalikkan badan, Sherin mengulurkan kedua tangannya, dengan kuat memeluk Devan, kepala Devan menempel di dada Sherin, dengan ringan berkata "Devan, mereka bilang, laki-laki menyukai seorang wanita, biasanya di mulai dari kecantikannya, kamu.... kenapa bisa menyukai diriku?"
Devan merapat-rapatkan bibir tipisnya,mengelus-elus kepala Sherin, "kamu juga bilang, itu laki-laki pada umumnya, mana bisa di bandingkan dengan ku?"
Sherin tidak bisa menahan diri, men-jinjit ujung kakinya, mencium bibir tipis Devan.
Sherin ingin melepas,namun Devan tidak mengikuti kehendaknya, mulut dan gigi terjerat, nafas bercampur menjadi satu, Devan menciumnya dengan tenaga sangat kuat,seakan ingin sekali menyatukan badannya menjadi satu dengan Sherin.
Sherin hanya merasakan tangan dan kakinya melemas, kedua tangannya tidak bisa tidak menarik erat baju belakang Devan.
Merasakan keaktifan Sherin, Devan seakan seperti menerima dukungan, tangan besar di pinggang Sherin itu mulai bergerak ke bawah.
__ADS_1
"Sherin...." Devan dengan bergairah memanggil nama Sherin.