
Hari ketiga,petugas departemen keamanan benar-benar sudah kehabisan akal, sehingga mereka langsung menelpon Yuta.
"Manager Yuta,tolong lah Anda nasehati,suasana semakin memanas,kasihan pada jenazahnya,sebaiknya dikremasi secepatnya!" ucap petugas keamanan.Bagaimana pun ini bukan tempat untuk menyimpan jenazah, sebuah jenazah teronggok di sini benar-benar menyulitkan mereka,namun tidak ada yang berani menasehati Devan, hanya bisa meminta bantuan kepada Yuta.
Ketika Yuta tiba, ruangan yang sama, Devan masih mengenakan pakaian yang sama, mata yang sudah beberapa hari tidak di pejamkan, penuh dengan urat merah,tatapan matanya kosong lurus ke depan.
"orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup kembali, meskipun kamu bergadang tiap malam sampai mati di sini, dia juga tetap tidak akan hidup kembali" melihat Devan yang terlihat menyedihkan seperti ini, Yuta ingin sekali mengatakan yang sebenarnya,namun beberapa hari ini dia mengerti beberapa hal dari Dylan.
Menurutnya,jika Sherin sudah memilih untuk pergi, tentu saja dia sudah memutuskan untuk membuat Devan tidak dapat menemukannya.
Kalau begitu,akhir seperti ini lah yang terbaik.
...
Beberapa waktu lalu,
"Yuta,kamu...bagaimana bisa kamu mencari ku sampai sini?" melihat Yuta yang berdiri di depan pintu, Clover sangat merasa terkejut.
__ADS_1
Yuta menatap kamar apartemen di depannya sesaat, kemudian menghela nafas pelan,maju ke depan,lalu menarik Clover ke dalam pelukannya, "aku sudah tahu, ternyata tebakan ku tidak salah!"
Setelah mengatakannya,dia melepaskannya, lalu mengeluarkan sebuah handphone dalam saku celananya dan menyerahkannya pada Clover, "Clover, Sherin sudah meninggal"
Clover mengangkat alis,menatap Yuta dengan tatapan bingung. Tapi, dia tetap menerima handphone di tangannya,melihat gambar di dalamnya, Devan berdiri di sebuah kamar, di sampingnya terdapat sebuah ranjang, di atas ranjang itu terlihat seseorang terbaring dengan tertutup kain putih.
"ada apa?"
"wanita yang terbaring di atas ranjang itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Sherin"
"kebetulan juga,wanita ini meninggal di toilet kereta yang kamu naiki itu, dia bunuh diri dengan memotong urat nadinya" Yuta sengaja berkata dengan nada tenang, masalah ini tidak mudah, namun dia tidak ingin membuat Clover terlalu merasa bersalah.
Kemudian dia berbalik, melihat ke sekeliling rumah, berjalan masuk ke dapur untuk mengambilkan segelas air untuk Clover, memungut kursi yang terjungkal di belakang Clover,lalu mendudukkan Clover di sana.
"sudah lah,sebaiknya aku membicarakan hal berikutnya, memintanya untuk lebih berhati-hati pada orang yang berada di sampingnya itu, dan beberapa hari ini dia terlihat sangat menderita."
Tiba-tiba Clover tersadar,berdiri lalu merebut kembali handphone di tangan Yuta,
__ADS_1
"jangan beri tahu dia,lebih baik menderita sekarang, biarkan dia mengira aku telah mati, ada baiknya juga! paling tidak, kelak dia tidak akan terus mengingat aku, lama kelamaan...." Clover menghentikan ucapannya, menggigit bibir bawahnya, dan melanjutkan dengan pelan, "lama kelamaan dia akan lupa"
Mengenai orang yang di jebak itu, mungkin ini adalah satu-satunya harapannya, Devan mengira dia sudah mati juga ada baiknya, biarkan lah demikian...
Hari-hari kedepannya,baik Devan maupun Clover,keduanya akan sangat menderita..
Namun,waktu tidak akan sengaja berhenti karena kesedihan siapa pun.
Bersambung....
.
.
Terima kasih..
Mohon dukungannya like dan komen....
__ADS_1