
"Tidak apa apa kalau kamu tidak ingin mengatakan nya sekarang,ya tidak usah katakan dulu,tapi kamu tidak boleh memutuskan kontak dengan diriku lagi,kau dengar tidak?"
ujar Andrew yang melepaskan pelukannya lalu mengelus kepala Sherin beberapa kali,dia sangat memanjakannya,dahi laki laki itu mengerut ketika menyorot rambut Sherin yang diikat menggulung di belakang dan penampilannya.namun dia tidak banyak bertanya lagi.
Sherin menganggukan kepala,tidak berani memandangi matanya,laki laki di hadapannya ini selalu terasa sangat bisa memikirkan orang lain.
Hanya saja terhadap hubungan mereka,sepertinya laki laki ini menanggapinya terlalu berlebihan?
"kringgg...." dering ponsel Andrew berbunyi.
Hanya mendengar dia menjawab."pa,aku sedang ada urusan sekarang jadi tidak bisa pergi.....benar....terserah papa."
Seusai menutup telpon itu,mukanya terlihat dingin,namun raut wajahnya berubah menjadi luar biasa hangat kembali saat dia membalikan badannya ke arah Sherin."sini, beri aku nomor handphone barumu!"ujar Andrew yang langsung mengambil handphone Sherin dari tangannya dan langsung menelpon nomor hp-nya sendiri,dia pun merasa lega dan mengembalikannya kepada Sherin setelah mendengar dering hp-nya.
"kamu mau duduk sebentar?" tanya Sherin menawarkan laki laki itu untuk duduk di sampingnya,karena merasa bahwa Andrew belum ingin pergi,wajah laki laki ini terlalu mempesona.Ditambah badannya yang tinggi,membuatnya terlalu mencolok jika terus berdiri di lobby itu.
Hanya saja saat Sherin bersentuhan kembali dengan kursi,dia yang merasa dingin tiba tiba merasa kehangatan yang seakan membeludak keluar dari tubuh bagian bawahnya.
"ah..." serunya kecil kecil,menggigit bibir bawahnya dan mengerutkan dahi.
Tidak perlu di lihat lagi,dia tahu bahwa dia haid,dan celananya pasti sudah ternoda karena itu.Setelah ia melahirkan Simon,tanda nyeri perut sebelum haid menghilang,membuatnya tidak merasakan tanda tanda apapun setiap kali datang bulan.selama ini tanggal tanggal sekarang ini,dia bisa siap siaga,namun akhir akhir ini karena Simon pikiran nya menjadi terbagi jadi....
"ada apa?" tanya Andrew dengan gelisah dan langsung berdiri dari tempat duduknya lalu berjongkok di hadapan Sherin karena melihat raut wajah Sherin yang berubah.
Sherin menatap Andrew,mengerutkan dahi,dengan nada halus menjawab."aku haid....dan sepertinya celana ku sudah tembus."
Untuk pertama kali nya dia mengatakan hal seperti ini di depan laki laki,apalagi dengan hubungan seperti ini,wajah Sherin memerah.
Namun Andrew yang sempat terkejut,sengaja mengeluarkan suara batuk,kemudian membongkok kan setengah badan,tepat bertatapan dengan wajah Sherin berkata dengan lembut."kamu tunggu aku disini,aku akan segera kembali,tunggu aku!"
Belum sempat Sherin menjawab,dia sudah pergi ke arah pintu....
Melihat bayangan pundak laki laki itu,Sherin termenung sejenak,tangan nya memegang wajahnya.Dulu sewaktu sekolah,karena kecantikannya banyak orang yang menyukai nya,mengejarnya,baik terhadap dirinya,saat itu dia tidak merasa aneh.
Tapi setelah dia menghiasi diri seperti sekarang ini,lawan jenis yang menyimpan perasaan kepadanya, Andrew,orang yang terbilang hebat ini adalah orang yang pertama.
__ADS_1
Sherin menelan air ludah,suasana hatinya sangat kacau.
Tiba tiba,suara bisik bisik di dalam lobby itu menjadi diam,keheningan yang luar biasa,lalu terdengar langkah kaki dengan kecepatan yang berbeda berjalan.
Hanya terlihat,beberapa laki laki dengan setelan jas dan sepatu kulit berbaris berjalan keluar,seorang laki laki yang mengenakan jas berwarna cokelat,menarik pandangan setiap orang,gagah tampan,badannya tinggi,tegap dan ramping.Benar benar laki laki yang sempurna!
Sherin merasakan pandangan laki laki itu memandang ke arah nya,dan menundukan kepala,menunggu dia datang menghampirinya.
"itu pengasuh di rumah mu!"ujar Dylan yang juga melihat Sherin.
" sana kamu pergi lihat,kenapa dia datang kesini!"jawab Devan.
Agar tidak terlalu mencolok,Dylan perlahan lahan meninggalkan barisan itu dan berjalan ke arah Sherin,dia melihat pengasuh itu menganggukan kepala padanya.Sherin lalu mengambil obat yang dia bawa dari tasnya dan memberikan obat itu kepada Dylan,kemudian berkata."mbok lili berpesan,ini untuk pak Devan!"
Sherin menundukan kepala dan tidak memperdulikan Dylan lagi,setelah memberitahunya.
Ketika Devan berjalan melintasi Sherin,dia merasakan bahwa laki laki itu sedang memandanginya,tapi dia tidak ingin memperdulikan nya,dia masih merasa sakit hati karena semalam Devan meremehkan dia.
Hanya saja....
Sherin mengerutkan dahinya,berpikir sejenak,dan menjawab nya dengan jujur."aku....sedang menunggu orang."
Berpikir lagi sejenak,lalu melihat jam di handphone nya kemudian berkata."Simon sedang tidur,aku akan segera pulang."
"siapa yang mengizinkan mu menggunakan jam kerja untuk kepentingan pribadi?tanya Devan yang kemudian berjalan menghampiri pengasuh itu,melihat kepala Sherin masih tertunduk dan tidak memperdulikan dirinya,hati laki laki ini pun sedikit marah.kemudian dia menggunakan map dokumen yang ada di tangan nya menaikan dagu Sherin untuk membuatnya mengangkat kepala,dengan tidak langsung memaksa nya untuk melihatnya.
Sikap Devan yang sangat tidak biasa ini,membuat orang orang di sekeliling menjadi kaget,siapa wanita ini?penampilan biasa biasa saja seperti itu?tapi bisa membuat laki laki yang dingin ini bersikap demikian,pekerja yang berada di dekat Sherin memberitahunya,"ayo segera berdiri,sudah melihat bos,bisa bisanya masih duduk seperti itu,tidak pantas!"
"shyuuur..."darah Sherin seakan akan dengan kecepatan tinggi naik ke kepalanya,berdiri?kalau saja dia bisa berdiri,apa mungkin dia masih tidak berdiri.
Melihat Sherin yang tetap saja terdiam,orang orang di sekeliling mulai berbisik bisik memperbincangkan hal ini,
orang itu Devan loh? Atasan atasan yang menemui laki laki ini pun harus hormat padanya,dan kalau dia mati wanita ini juga hanya buruh biasa,tapi berani beraninya seperti itu.
Devan tidak berbicara sama sekali,hanya melototi Sherin,se-olah olah mencoba untuk mengerti tindakan Sherin.
__ADS_1
Tangan Sherin menyingkirkan map dokumen itu dari dagunya,sedikit tidak senang dengan perlakuan tersebut,dia memang bekerja di rumah Devan,tapi laki laki ini bertindak seolah\-olah dia itu seperti raja saja.
Dan narsis nya terlalu berlebihan....
kalau saja bukan karena Simon,dia tidak akan mau bekerja di rumah itu.
Sambil berpikir seperti itu,Sherin melirik lirik ke tempat lain,
sama sekali tidak menghiraukan segerombolan orang di hadapannya.
Sebenarnya Sherin juga tahu kalau sikapnya ini bisa membuat Devan marah. tapi di dunia ini selain Simon,tidak ada seorang pun yang perlu dia khawatirkan lagi,satu satunya yang dia miliki hanyalah nyawanya.tidak ada hal yang perlu di takuti,lagian dia bagaimana bisa menjelaskan semua ini di hadapan banyak orang?
Secara tidak langsung Sherin yang menunjukan penolakan dan kekesalan ini,membuat Devan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri.
"Sherin...?" panggil Andrew
Tidak pernah terpikir olehnya suara orang ini bisa begitu merdu.saat ini,suara lembut dan merdu itu membuatnya lega dan nyaman seketika,dia segera menoleh,melihat ke arah sumber suara tersebut,raut wajahnya pun langsung dipenuhi dengan senyuman.
Terlihat Andrew berjalan dengan membawa kemeja kotak kotak hitam putih di pundak kirinya dan kantong plastik hitam di tangan kanannya,melewati gerombolan orang dan menghampiri Sherin.
"Andrew!"seru Sherin sambik menegak kan kepalanya,hanya nama ini yang terucap dari bibirnya saat itu,perlahan ini semua membuatnya merasa lega.
" ayo gantungkan kemeja ini di pundak mu!"ujar Andrew yang juga tidak menghiraukan keberadaan orang orang di sekitar dan membantu Sherin menggantungkan kemeja itu di pundaknya,
dan berbisik di telinga Sherin."kamu sekarang boleh berdiri,aku akan bawa kamu berjalan ke toilet."
Suara yang lembut dan hembusan nafas yang hangat di telinga Sherin itu membuat wajah merah Sherin yang baru saja pudar memerah lagi.
Dan semua ini benar benar menusuk mata Devan yang dari tadi melihat gerak gerik mereka.
Sherin berdiri dan memegang tangan Andrew,dia tidak berani melihat orang orang di sekelilingnya,berpikir sejenak dan membalik kan badannya lalu menganggukan kepalanya kepada Devan tanpa mengucap satu kata pun,kemudian berjalan ke sisi lobby itu.
Tangannya langsung menarik narik kemeja itu dan merasa lega ketika menemukan bahwa kemeja itu panjang hingga lututnya.
Devan marah bukan kepalang,seumur hidupnya belum pernah satu orang pun tidak menghiraukan nya dan memperlakukan nya seperti ini,apalagi di depan umum.
__ADS_1
Langsung saja,raut wajah Devan terlihat tidak senang dan marah.menggenggam map dokumen di tangannya,dan sangat terpukul.....