
Karena di siang hari sempat pingsan, termasuk sudah tidur, jadi malam hari Clover seutuhnya terjaga, mengajak Devan mengobrol hingga larut malam.
Baru saat itu dia dengan enggan jatuh tertidur. Ketika bangun lagi, Devan sudah ada di samping nya lagi.
Simon dan Momo berdiri di sampingnya dengan mangkuk di tangan mereka.
Melihat mata Clover mulai terbuka,Simon meletakkan mangkuk di atas meja di sebelah Clover,dan Momo melakukan hal yang sama.
"kata papa, ketika mama bangun, makan lah semua ini!"
Clover terkejut, "di mana papamu?"
"papa bangun pagi pagi sekali, dan kembali ke dalam negeri. Di perkirakan akan segera tiba" Simon melihat erlojinya.
"oh!" meskipun hatinya sudah siap, Clover tetap merasa kehilangan.
Dia mengangkat selimut, kemudian bangkit dan ada arus hangat mengalir di bawahnya.
Dia langsung mengambil pembalut dari dalam laci dan berbalik ke kamar mandi.
Momo menarik Simon, "kak, kamu lihat....."
Simon mengikuti arah mata Momo dan melihat, di sprei, ada noda darah. Di wajah kecilnya,memerah. Dia terbatuk ringan dan langsung menarik Momo, "ayo,kita keluar dulu!"
"aku tidak mau. Mama berdarah, aku akan menunggu mama keluar, dan melihat di mana dia terluka"
Simon mengerutkan kening, lalu menatap ke kamar mandi, "ya sudah, aku akan keluar dulu!"
Dia berumur 10 tahun, dan sedikit sudah tahu tentang hal itu.
Namun, Momo adalah seorang wanita, dia agak malu untuk menjelaskan padanya.
Momo melihat bahwa Simon sama sekali tidak peduli dengan Clover, dia cemberut, bibirnya terangkat begitu tinggi, dia berbalik dan melihat ponsel Clover. Lalu dia mengambilnya, membuka pesan, dan menemukan foto papanya, dia langsung mengirim rekaman suara kepada Devan, berbunyi: 'papa, mama banyak mengeluarkan darah, tolong pulang sekarang untuk menyelamatkannya!"
.........
Devan baru saja turun dari pesawat, dia mendengarkan laporan Dylan tentang perkembangan bisnisnya dan mendengar suara pesan masuk di ponselnya. Dia langsung menyalakan ponselnya dan melihat pesan suara dari Clover. Bibirnya terangkat, tapi setelah mendengar suara Momo, raut wajahnya tenggelam.
Dylan pun juga mendengarnya, raut wajahnya juga terlihat berubah.
Ketika Clover keluar dari kamar mandi,dia melihat telpon selulernya berdering dan kedua anak di kamar tadi sudah menghilang. Kemudian dia mengambil telpon selulernya dan menjawabnya.
"halo, Devan,kamu sudah sampai?" barusan bangun tidur, ketika berbicara, suaranya terdengar serak.
__ADS_1
"ada apa? Momo bilang, kamu berdarah banyak sekali," suara Devan terdengar sangat panik di ujung telpon.
Clover melihat ke bawah, sudut matanya melihat noda darah di seprai, lalu dia mengerutkan kening, "di....itu....seprai jadi kotor. dia tidak mengerti, ekhem....kamu bekerja dengan tenang, jangan khawatirkan aku!"
Devan menelpon dengan hands free, sehingga Dylan juga dapat mendengar percakapan mereka, karena tidak bisa menahannya, jadi dia terkekeh dan tertawa keras di samping Devan.
Clover juga mendengarnya, dia tersipu.
"oh, sudah ya, tutup dulu teleponnya, aku akan mengeluarkan seprai kotor dulu"
"ya, jaga dirimu baik-baik!"
"ya, kamu juga....."
Tutup telpon, tangan Clover belum menyentuh seprai, sebuah bayangan bergegas datang dari luar, lalu memegang bahunya, "di mana.....terluka?"
Clover menundukkan kepalanya, dan ketika dia mendengar suara itu, dia terkejut. Dia mendongak dan langsung memegang lengan Gary dengan satu tangannya, "kakakku, kamu begitu perhatian padaku"
Wajah Gary tenggelam, "di mana kamu terluka..... Momo bilang kamu mengeluarkan...." kemudian dia melihat ke bawah, dia melihat Clover meraih selimut di tangannya dan tidak melanjutkan kata-katanya. Melepaskan tangannya dan garuk-garuk kepala dengan rasa malu."itu, aku....aku keluar dulu"
Clover merespon dengan menyembunyikan seprai di belakangnya dan berbisik lirih, "oh"
Sebelum Gary sampai ke pintu, Momo berlari masuk dengan membawa kotak obat. Ketika dia melihat Gary hendak pergi, dia menahannya, "paman, maukah kamu membalut luka mamaku?"
Gary terdiam sejenak, dan kemudian berjalan dengan cepat ke arah pintu.
Clover menatap punggung Gary, hatinya menghangat, kemudian menatap Momo....
"Momo, mama tidak terluka. itu....itu hanya fenomena fisiologis yang normal. Ketika kamu tumbuh dewasa, Momo juga akan mengalami hal yang sama."
Wajah kecil Momo berubah pucat seketika, lalu menggenggam tangan Clover, " ma, ketika orang dewasa, apakah mereka semua berdarah? bagaimana dengan kakak dan papa?"
Clover menggelengkan kepalanya, "papa dan kakak adalah laki-laki. mereka tidak akan pernah mengalaminya"
Setelah Clover selesai berbicara, Momo menangis, "aku mau menjadi laki-laki juga. Ma, bisa kah mama membantu aku untuk berubah menjadi laki-laki saja?"
Bibir Clover sedikit terbuka, memeluk Momo dan terdiam sesaat.
Ketika keluar dengan menggendong Momo di tangannya, Gary dan Simon masih bermain catur di ruang tamu. Ketika melihat Clover keluar, Simon langsung bangkit dan maju. mengambil Momo di tangan Clover dan meletakkannya di bawah. "mama sedang tidak enak badan hari ini. Momo, jangan biarkan mama menggendongmu...."
Momo biasanya bukan anak yang gampang di bujuk. Kadang-kadang dia memiliki tempramen yang buruk, tetapi kali ini dia langsung mendengarkan kata-kata Simon dan menganggukkan kepala dengan patuh.
Clover menatap dengan tersenyum lembut kepada Simon.
__ADS_1
"aku ingin pergi ke perusahaan untuk melihat lihat sebentar, kakak, aku minta tolong padamu untuk menjaga kedua ank ini" Clover berkata kepada Gary yang berjarak beberapa meter darinya.
Gary tidak menatapnya, tetapi langsung mengangguk.
Clover merasa senang, dia merasa bahwa perubahan Gary jauh lebih besar hari ini. Dia bertanya-tanya apakah kakek dan pamannya telah mengatakan sesuatu kepadanya.
Tapi, apa pun alasannya, dia merasa senang Gary bisa berubah sekarang.
Setelah selesai membereskan barangnya sebentar, dia langsung pergi ke perusahaan.
Setelah sampai di perusahaan.....
Sebelum dia meletakkan tasnya, Wuli membuka pintu dan berkata, "presdir Clover, ada seseorang sedang mencarimu"
Clover berbalik dan melihat Wuli. Dia melangkah ke samping, seseorang muncul dan ketika melihat dengan jelas, Clover tentu saja terkejut.
"paman ..." pengunjung itu bukan lah orang lain, melainkan ayahnya Devan.
Ayah Devan tidak terlihat baik, bahkan sedikit lemas.
Clover meminta Wuli untuk membawa secangkir teh, lalu duduk di depan ayah Devan. "paman, Devan baru saja pulang tadi pagi, kalau aku tahu anda akan datang, aku akan meminta dia menunggu...."
"aku datang ke sini untuk mencarimu....." ayah Devan menyesap teh lalu menatap Clover.
Clover terkejut, "mencari ku?"
Ayah Clover mengangguk, dan hanya menatap Clover sebelum perlahan membuka suaranya "Clover, paman ada di sini hari ini, ada sesuatu yang ingin aku mohon padamu"
Dia menggunakan kata 'Mohon' .
Clover agak tersanjung, lalu berdiri, "paman, jika kamu ingin aku melakukan sesuatu, katakan saja. Jangan bilang Mohon...." meskipun dia dan Devan belum memiliki hubungan yang jelas dan terbuka.
Tapi pria di depannya ini adalah kakek dari Simon dan Momo, yang secara alami sudah di anggap sebagai ayahnya sendiri.
Hanya saja, apa yang bisa dia lakukan sampai membuat ayah Devan harus memohon padanya?
Seketika, hatinya merasa sedikit tidak nyaman.
"ok, baik lah.Kalau begitu, aku akan memberi tahu kamu dengan terus terang.
Paman ingin memohon padamu untuk tidak membiarkan Gabriel dan Devan bercerai...."
.
__ADS_1
Bersambung......