
Langsung saja,benak Sherin menjadi kacau, Devan sepertinya masih memberi tahu hal lainnya tapi tidak terdengar oleh Sherin, karena benaknya hanya di penuhi dengan kata "Simon kecelakaan".
Secara reflek dia menggenggam tangannya,menggigit erat bibir bawahnya, raut wajah gelisah nya sampai-sampai menjadi pucat.
Hingga saat dia menghentikan taksi,baru teringat olehnya,saat tadi tidak bertanya dulu kepada Devan,di mana mereka berada?
Berpikir sejenak,lalu menelpon nomor telpon tadi.tapi karena tangannya gemetar, handphone nya pun terjatuh ke bawah kursi mobil itu.
"hallo...." Sherin mendengar suara Devan menjawab.
"kalian ada di mana? kasih tahu aku...tempatnya!" suaranya yang gemetar itu sudah agk serak.
"kamu berikan handphone mu kepada supir,biar aku beritahu dia!" tidak tahu apakah terdengar oleh laki laki itu perasaan Sherin saat itu sudah tidak benar lagi, makanya Devan pun menyuruh Sherin untuk memberikan handphone nya ke supir.
Kemudian, Sherin terus memanggil supir untuk mengemudi lebih cepat dan cepat lagi.
"sudah sampai nona."
Sherin menganggukan kepala,mendorong pintu mobil akan turun, baru teringat perlu membayar, mengambil dompet nya dengan tangan yang gemetar heboh itu.
"sudahlah,tidak perlu,tidak perlu lagi kamu segera turun saja, siapa yang tidak pernah bertemu dengan masalah darurat seperti ini?" sepertinya sopir itu memahami kondisi Sherin, lalu dia pun membantunya membukakan pintu mobil "rumah sakit yang di depan itu lah yang di katakan bapak itu tadi."
Sopir menunjuk ke depan, baru lah Sherin melihatnya, kapan-kapan mobil sudah sampai di rumah sakit di pinggir laut ini, terdengar dari telinganya suara sirene ambulance.
Wanita itu dengan sedikit agak kebingungan mengangguk terhadap sangat sopir.
Air pinggir laut yang berhembus yang agak menusuk tulang itu pun tidak terasa sama sekali olehnya,karena sekujur tubuhnya sudah dari tadi terasa menjadi dingin.
Sherin tadi sampai-sampai tidak berani bertanya kepada Devan, sebenarnya Simon tertabrak sampai seperti apa kondisinya, dia sendiri takut kalau dia tidak bisa menerimanya.
Di dunia ini, hanya tinggal anak itu seorang yang mempunyai hubungan darah dengannya, orang satu-satunya, dia tidak berani membayang kan kalau saja terjadi apa-apa dengan anak itu, apa dia masih ada keberanian untuk melanjutkan hidupnya?.
Sherin seakan menancap gas bergegas ke ruang UGD.
__ADS_1
"Dokter, tadi ada seorang anak kecil yang kecelakaan di antar ke sini, dokter tahu tidak dimna ruangan rawatnya?" Sherin berusaha keras agar suara nya terdengar tidak begitu gemeteran.
Dokter itu melepaskan stetoscope dari lehernya, lalu dengan sangat emosi mengatakan, "kalian ini bagaimana sih menjadi orang tua, masih ada hati tidak? sudah berapa lama dari anak itu kecelakaan sampai sekarang, kamu kenapa baru datang sekarang?"
Usai berbicara,dokter itu menarik lengan Sherin,dan berjalan dengan cepat menuju ujung lorong rumah sakit itu.
"kamu masuk saja! paru-paru anak itu tertusuk membuatnya kehilangan terlalu banyak darah, kita sudah berusaha."
Usai berbicara, dia meninggalkan Sherin dan pergi.
Sherin hanya merasakan kulit kepalanya mati rasa, bibirnya juga gemeteran, dia tidak bisa mengontrol kedua kakinya, satu langkah demi satu langkah beejalan masuk.
"apa kamu adalah keluarganya?" dia merasa ada orang yang mengiringinya.
"pergi!" Sherin mengulurkan tangannya mendorong orang itu ke samping, dan menelungkupkan badannya ke atas ranjang, tubuh kecil di bawah tubuhnya itu sudah jadi dingin seperti es, dia merasa jantungnya pun seakan mau berhenti berdetak.
Kenapa bisa pergi begitu saja?
"Apakah mama yang mencelakai mu? kalau mama tidak menemui mu, tidak mencarimu, kamu hari ini juga tidak akan pergi keluar dan kecelakaan ini pun tidak akan terjadi,benar bukan?"
"Simon,ayo bukalah matamu! lihat diriku...."
Sherin menangis sampai seakan-akan tidak dapat bersuara lagi, kedua tangannya gemeteran bersiap-siap akan membuka kain putih itu.
Melihat kondisinya seperti ini,dokter di belakangnya menarik Sherin dan berkata "jangan di lihat lagi, wajah anak itu sudah tertindih sampai tidak berbentuk lagi.kamu tanda tangan di sini, kita akan mendorongnya ke kamar mayat!" dokter itu menepuk-nepuk pundak Sherin.
Kamar mayat? anakku kenapa bisa di bawa ke kamar mayat? dia belum saja melihat anak itu dewasa, dia masih belum pernah mendengarnya dengan sah memanggilnya sebagai mama,bagaimana bisa memperbolehkannya di antar ke kamar mayat?
Sherin membalikkan badan,mencengkram kerah baju orang itu, melototinya dengan mata yang besar, dan berteriak mengatakan kepadanya "kamu beri tahu aku, kalau dia belum mati,ayo katakan!"
Menghadapi emosinya ini, dokter itu hanya bisa terus menerus menenangkannya "dengan kondisi seperti ini,anak ini pergi,baginya mungkin juga adalah sebuah pembebasan. Ibu,kamu harus tabah menerimanya!"
"pembebasan, dia masih terlalu kecil, bagaimana mungkin ini adalah pembebasan? kamu ini dokter bukan sih?" teriak Sherin.
__ADS_1
Teriakan ini seakan menggunakan semua tenaga dalam dirinya, jadi suara itu pun dengan cepat tersebar di lorong UGD itu,...
Selanjutnya,ada bayangan hitam satu besar dan satu kecil berlari ke arahnya.
"ibu,tolong ibu dengar penjelasanku dulu, anak ibu terlalu kecil, saat dia di antar ke sini paru-paru nya sudah tertusuk,di tambah dengan sudah kehilangan begitu banyak darah, kita sudah benar-benar berusaha sebisa mungkin."
Dokter itu melihat mata Sherin yang sudah memerah itu menjadi sedikit takut,dia bisa melakukan hal-hal yang bodoh, jadi suaranya pun agak sedikit gemetar.
"bagaimana mungkin sudah berusaha, dia masih begitu kecil,dia masih....." Sherin belum selesai bicara, matanya menjadi gelap dan hilang kesadaran,
"mama...!"
Ada satu bayangan kecil berlari ke sana, bersamaan dengannya datang juga seorang laki laki yang bertubuh besar tinggi.Laki laki itu menatap anak itu,dan menyentil dahi anak kecil itu, "lihat, gagasan bagusmu!"
"papa juga bukannya tidak menentang?" anak kecil yang berpakaian baju pasien itu memonjongkan bibirnya.
Saat Sherin sadar kembali, dia pun mencium bau obat di rumah sakit.
Teringat kejadian sebelum dia pingsan itu, langsung terduduk di ranjang,mencabut dengan kuat jarum infus di tangannya, mau mengendap-ngendap keluar.
Saat ini sudah larut malam, Devan baru saja menidurkan Simon di ruang pendamp, ing pasien di luar sana, anak kecil ini bilang dia ingin menjaga Sherin,jadi dia juga tidak bisa apa-apa selain ikut menemani anak ini.
Ini baru saja devan ingin menutup matanya beristirahat sebentar, dia pun melihat bayangan orang di ranjang itu duduk,mencabut jarum infus.
Melihat ini Devan langsung buru-buru menghampiri ke sana,mengulurkan tangannya untuk menghentikan Sherin.
"apa yang kamu lakukan?"
Sherin mendengar suara Devan, tubuhnya terdiam sejenak, kemudian melihat raut wajah laki laki itu tidak ada keanehan sama sekali,membuat hati terdalamnya menjadi dingin.
Sorotan matanya terus menatap laki laki itu, ada kebencian yang mendalam pada pandangan yang jauh itu, Sherin menggenggam kan tangannya ke arah dada laki laki itu, terus menerus memukulnya, "Devan,bukannya kamu hebat? kenapa kamu tidak menolongnya, kenapa tidak menolongnya? dia masih kecil, bagai mana bisa kamu tidak menolongnya....?"
Raut wajah Devan menjadi suram, melirik ke arah Simon yang bersembunyi di depan pintu.
__ADS_1