
Clover merasa sangat kaget, apakah dirinya sudah mengenal sama Devan sejak belasan tahun lalu? hal ini membuat Clover merasa sangat kaget.
Sekarang Clover juga mengerti masalah balas budi Gabriel terhadap Devan.Ternyata Gabriel merebut hasil perbuatan Clover juga dalam masalah ini.
Hanya saja....
Bagaimana Gabriel melakukan hal ini?
Clover mendorong Devan dengan lembut, "tetapi waktu itu bagaimana kalian bisa mengira yang menyelamatkan kamu itu adalah Gabriel?"
Devan mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya, "sepertinya yang bisa menjelaskan masalah ini hanyalah ibumu"
Tubuh Clover bergetar, apakah ibunya sudah membuat keputusan untuk mengorbankan Clover pada hari itu? penampilan Devan sangat mirip dengan ayahnya, apakah ibunya sudah mengenal Devan pada waktu itu? jadi ibunya menggunakan Gabriel untuk menggantikan Clover dengan imbalan agar masa depan kakak Clover, Gary, bisa menjadi sukses?
Ini adalah penjelasan terbaik yang Clover bisa pikirkan sampai sekarang.
Berpikir tentang kemungkinan ini, hati Clover menjadi semakin dingin.
"apakah karena itu makanya kamu bisa tidur nyenyak setelah bertemu dengan aku?"
Devan menatap ke Clover dan sudut bibirnya terangkat, "Clover, Terima kasih karena telah membiarkan aku untuk bertemu dengan kamu lagi"
Clover mengeluarkan sebuah batuk kecil, dan tatapannya beralih ke arah lain, dia merasa sedikit malu.
"Clover....." tiba-tiba Clover mendengar ada yang memanggil dirinya dari belakang.
Clover berputar balik badannya dan melihat seorang wanita yang memakai jaket kulit yang modern, gaun pendek berwarna hitam, sepatu tinggi yang melewati siku kakinya, rambut panjang hitam dan lurus.
Walaupun mereka sudah tidak bertemu beberapa tahun lalu, Clover tetap bisa mengenal dia dalam pandangan pertama, "Mimi?"
"oh Tuhan, ini benar-benar adalah kamu, tadi di lantai atas rumahku, aku mengira aku salah lihat, Clover, belasan tahun ini kamu pergi ke mana?"
__ADS_1
Mimi adalah tetangga Clover pada waktu dia kecil. Sejak kecil ibunya selalu giat menata riasannya, meskipun penampilannya biasa saja, banyak laki-laki yang menyukai dia pada waktu dia kecil karena dia sangat pandai berdandan.
Kalau Clover, meskipun penampilan dia bagus, tetapi personalitas dia mirip seorang laki-laki, sikap Clover juga agak dingin terhadap orang asing, jadi para lelaki hanya bisa melihat tetapi tidak bisa mendapatkan Clover.
Ibunya tidak begitu menyukai Mimi, jadi dia terus menyuruh Clover untuk jangan bermain dengan Mimi, tetapi usia Clover dan Mimi itu sama dan mereka juga satu kelas di satu sekolah, sangat tidak mungkin kalau mereka tidak main bersama.
Clover berpikir kembali sejenak, Mimi bisa termasuk salah satu pasangan bermain Clover yang agak dekat dengannya.
Jadi, bertemu dengan Mimi membuat Clover sedikit emosional.
Clover melihat ke Devan sebelum melepaskan tangannya dan berjalan ke arah Mimi sambil tersenyum, "kamu masih tetap tidak berubah, rambut hitam yang panjang dan lurus, persis seperti waktu kecil"
Mimi menarik tangan Clover, "kamu yang berubah, berubah menjadi semakin cantik." setelah itu, Mimi melihat ke belakang Clover, "kamu sudah menikah? itu adalah suamimu?"
Clover menghirup sebuah nafas ringan, kemudian menggigit bibir bawahnya, "iya, dia adalah ayah anak-anakku"
Pada saat itu, Clover baru menyadari dia tidak bisa berkata pada orang lain bahwa dia sudah menikah, dia juga tidak bisa mengaku kalau Devan adalah suaminya.
Berpikir sampai sini, Clover merasa sedikit kecewa.
"kamu sudah punya anak?" Mimi menutupi mulutnya dengan kaget, "ayo ayo, kebetulan hari ini aku janjian bersama mereka, kamu pergi bersamaku saja, mereka pasti akan sangat bahagia kalau melihat kamu sudah kembali"
Clover menjawab iya, " mereka?"
"orang yang duduk di depan dan di belakang kamu pada saat sekolah dulu, masih ingat?"
Clover ingat, tapi Clover tidak merasa orang itu akan merasa bahagia jika mereka melihat dirinya, di dalam ingatan Clover, hubungan dia bersama orang yang duduk di depan dan belakangnya tidak terlalu baik, bahkan mereka sering menjauhi Clover karena Clover lebih terkenal.
"itu....kalau tidak, aku tidak pergi saja? ayah anakku....." Clover ingin menjadikan Devan sebagai alasan.
Tetapi, Clover merasa ada yang hangat di atas bahunya, Devan berdiri di sampingnya dan bersuara dengan lembut sambil menundukkan kepalanya, "kalau kamu ingin pergi, pergi saja....aku tidak apa-apa."
__ADS_1
Setelah berkata, Devan melepaskan sarung tangannya dan menggeserkan rambut Clover ke belakang telinganya.
Awalnya Mimi merasa Devan berdiri di jarak jauh, memakai jaket berwarna hitam, selendang dan topi rajut hitam yang sama dengan Clover tidak begitu menarik mata, tetapi pada saat Devan mendekati mereka, hati Mimi seperti ingin meloncat keluar dari tubuhnya.
'Pria ini benar-benar terlalu tampan!' pikir Mimi.
"itu, kalau tuan ini tidak keberatan, mari silahkan pergi bersama kita" Mimi menyadari suaranya sedikit bergetar.
Tatapan Clover tertuju pada Devan, sehingga dia tidak menyadari keanehan dari Mimi.
Mendengar ajakan Mimi, Clover juga jadi susah ingin menolak lagi.
Clover berkata kepada Devan, "kalau tidak kita pergi duduk sebentar"
Devan pun mengangguk.
Mereka bertiga pun berangkat ke sebuah restoran.
Pada saat Clover dan Devan datang tadi, yang mengantar mereka adalah supir yang dicari Devan untuk sementara, karena tidak tahu kapan pulangnya, Clover menyuruh sang supir pulang dulu, jadi sekarang mereka duduk di mobil Mimi berangkat ke restoran.
Kota Seroja adalah kota pariwisata, selain orang-orang dalam negeri, orang luar negeri juga banyak yang berkunjung ke sini setiap tahun, jadi di daerah ini pun juga banyak restoran gabungan makanan china dan luar negeri.
Kalau restoran ini, Devan pernah membawa Clover kemari pada saat mereka datang mencari Gary kemarin, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan daerah Ciput, tetapi makanannya juga termasuk mewah, yang memberikan Clover kesan tentang restoran ini adalah harga makanannya agak mahal.
Pada saat melihat Clover yang berada di pelukan Devan, tiga wanita yang sedang duduk saling menatap sebelum bersuara pada waktu yang bersamaan, "Clover?"
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya.....